Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa. Namun, pernahkah kita mempertanyakan mengapa perintah puasa dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 secara spesifik ditujukan kepada “orang-orang yang beriman” (mukmin), bukan sekadar kepada “umat Islam” (muslim)?
Pertanyaan mendasar ini dikupas secara mendalam oleh Prof. Achmad Jainuri, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo sekaligus Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, dalam kajian yang disiarkan pada kanal YouTube Majelis Diktilitbang bertajuk “Puasa Membentuk Nilai Etika Moral Islam”. Penjelasan beliau memberikan perspektif argumentatif mengenai esensi puasa yang melampaui sekadar ritual menahan lapar dan dahaga.
Perbedaan Signifikan Antara Muslim dan Mukmin
Menurut Prof. Achmad Jainuri, puasa adalah amal ibadah yang sangat berat. Oleh karena itu, perintah puasa ditujukan kepada orang-orang yang beriman karena mereka dinilai telah tuntas dalam keislamannya. Terdapat perbedaan tingkatan yang sangat nyata antara seorang muslim dan seorang mukmin.
Secara objektif, istilah “muslim” pada umumnya masih terlalu luas dan tidak seragam. Seorang muslim belum tentu sepenuhnya taat; bahkan di dalam golongan yang mengaku muslim, masih terdapat individu yang memiliki sifat munafik. Ciri-ciri kemunafikan ini sering kali muncul dalam interaksi sosial, seperti sering berbohong saat berbicara, tidak menepati janji, dan berkhianat ketika diberi kepercayaan.
Sebaliknya, keimanan menuntut komitmen yang jauh lebih tinggi. Orang yang beriman (mukmin) adalah mereka yang tidak hanya membenarkan ajaran Allah di dalam hati, tetapi juga mengucapkannya melalui lisan, dan secara konsisten mengamalkannya melalui perbuatan. Dengan fondasi iman yang kuat inilah, seseorang diharapkan mampu menjalankan ibadah puasa secara maksimal untuk mencapai tujuan utamanya, yakni menjadi pribadi yang bertakwa (la’allakum tattaqun).
Ibadah Rahasia dan Sarana Penggugur Dosa
Selain membutuhkan keimanan yang kokoh, puasa memiliki sifat yang sangat eksklusif sebagai “ibadah rahasia”. Hanya individu yang berpuasa dan Allah SWT yang mengetahui secara pasti keabsahan ibadah tersebut.
Keistimewaan ini secara tegas disampaikan dalam sebuah hadis qudsi. Allah SWT menyatakan bahwa seluruh amal ibadah anak cucu Adam adalah untuk manusia itu sendiri, kecuali ibadah puasa. Puasa adalah ibadah yang secara khusus dipersembahkan untuk Allah, dan Allah secara langsung yang akan memberikan balasan setimpal atas ibadah tersebut.
Lebih lanjut, ibadah puasa yang dijalankan dengan kesungguhan dan penuh keimanan memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Puasa diyakini mampu menghapus dosa-dosa dan kesalahan umat Islam di masa lalu. Meskipun manusia penuh dengan kekhilafan, puasa yang dilandasi rasa penyesalan dan harapan akan rida Allah dapat menjadi jalan pertobatan yang efektif.
Membentuk Etika Moral dan Implikasi Sosial
Lebih dari sekadar kewajiban vertikal kepada Tuhan, puasa berfungsi sebagai sarana pendidikan untuk membentuk nilai etika moral Islam. Secara argumentatif, puasa melatih seseorang untuk menjadi pribadi yang amanah, jujur, sabar, dan ikhlas.
Prof. Ahmad Jainuri menekankan bahwa semua amal ibadah dalam Islam harus memiliki implikasi sosial yang luas. Ibadah tidak boleh hanya berhenti pada tindakan peribadatan itu sendiri. Keberhasilan sejati dari ibadah puasa justru diukur dari dampaknya pasca-Ramadan (after-effect). Publik dan lingkungan sosial harus bisa melihat apakah karakter jujur, pembela kebenaran, ikhlas, dan sabar tersebut tetap melekat pada diri seseorang setelah bulan puasa berakhir.
Pada akhirnya, ibadah puasa di bulan Ramadan adalah momentum transformasi spiritual. Puasa dirancang untuk meningkatkan derajat seseorang dari sekadar muslim menjadi mukmin, hingga akhirnya mencapai puncak sebagai orang yang bertakwa (muttaqin).
Indikator ketakwaan ini tidak hanya diukur dari kesalehan individu, tetapi juga dari kesalehan sosial. Orang yang bertakwa akan tercermin dalam perilakunya yang selalu berbuat baik (muhsin) dan senantiasa membawa perbaikan (muslih) bagi lingkungan sekitarnya. Melalui puasa yang dilandasi keimanan tulus, umat Islam diharapkan mampu memperbaiki moralitas bangsa dan menebarkan keberkahan bagi seluruh alam.
“Kesalehan sosial yang lahir setelah Ramadan adalah buah manis yang membuktikan bahwa puasa kita bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah manifestasi nyata dari keimanan yang telah paripurna.”
Be the first to comment