Muhammadiyah menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan perguruan tinggi tidak cukup dikelola dengan pola reguler, tetapi harus dibangun melalui sistem yang kuat, adaptif, dan berorientasi dampak. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, saat memaparkan strategi kepemimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) kepada para akademisi dan pimpinan perguruan tinggi ASEAN dalam forum International Conference 2025 Universiti Muhammadiyah Malaysia, di Kangar Perlis, Malaysia, pada Rabu (26/11).
Muttaqin menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki ekosistem pendidikan yang luas dan terstruktur. Selain ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dari sekolah hingga layanan kesehatan, Muhammadiyah saat ini mengelola 164 PTMA yang tersebar dari Aceh hingga Papua serta satu kampus di Malaysia. Skala besar ini, menurutnya, menuntut hadirnya sistem pembinaan pemimpin yang lebih progresif dan responsif terhadap dinamika global, mulai dari disrupsi teknologi hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
“Universitas dan sektor-sektor lain di bawah Muhammadiyah tidak bisa lagi dikelola dengan pendekatan reguler,” tegasnya. “Pemimpin harus dibekali wawasan dan kreativitas untuk melahirkan solusi di tengah tantangan baru.”
Ia menambahkan bahwa kesuksesan kepemimpinan PTMA tidak hanya diukur dari akreditasi, indikator administratif, atau kinerja finansial. “Kami mendefinisikan sukses tidak hanya pada capaian kinerja, tetapi juga dalam konteks teologis, yakni barakah atau ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan),” jelasnya. “Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang memberikan dampak nyata bagi institusi, mahasiswa, dan masyarakat.”

Untuk mewujudkan karakter kepemimpinan yang berdampak tersebut, Ahmad Muttaqin menyampaikan secara komprehensif mengenai Leadership Training (LT) yang merupakan salah satu program unggulan dari Majelis Diktilitbang yang bertujuan memperkuat kompetensi kepemimpinan dan tata kelola universitas bagi bagi Rektor dan Wakil Rektor PTMA dari seluruh Indonesia.
Muttaqin menjelaskan bahwa kurikulumnya disusun berdasarkan tiga fondasi utama—spiritual, pengetahuan, dan manajerial—sehingga pemimpin memiliki kesiapan komprehensif.
“Pelatihan ini bukan hanya soal manajemen kampus,” ujarnya. “LT kami desain untuk menyiapkan regenerasi pemimpin yang sanggup menghadapi disrupsi, menginternalisasi nilai dakwah Muhammadiyah, dan menghasilkan rencana aksi yang konkret bagi pengembangan kampus.”
Selain LT, Diktilitbang juga menggelar Leadership Management Training (LMT). Program tersebut menyasar jajaran manajerial tingkat menengah seperti Dekan dan Ketua Program Studi. Program ini memperkuat konsistensi kepemimpinan dari level strategis hingga eksekutif.
Transformasi Personal dan Institusional
Masuk pada aspek kurikulum, Muttaqin menguraikan bahwa Leadership Training dirancang untuk mendorong transformasi diri dan institusi secara simultan. Salah satu komponennya adalah Self-Analysis, yaitu analisis psikologis untuk membaca kesiapan mental, kecenderungan kepemimpinan, hingga potensi konflik internal.
“Self-Analysis menjadi titik berangkat yang penting. Pemimpin perlu memahami dirinya sebelum mengelola organisasi,” terang Muttaqin. Proses ini, lanjutnya, membantu peserta mengidentifikasi kekuatan personal serta area yang perlu diperbaiki dalam tugas kepemimpinan.
Selain pengembangan diri, peserta LT memperoleh materi strategis seperti Roadmap Pengembangan PTMA, integrasi pendidikan menengah–tinggi, hingga strategi membangun universitas yang unggul dan berdampak sesuai standar global.
Di akhir program, setiap peserta diwajibkan menyusun Action Plan sebagai komitmen pengembangan kampus masing-masing. Rencana tersebut kemudian dimonitor oleh Majelis Diktilitbang sebagai mekanisme keberlanjutan pembinaan.
“Kami menyediakan banyak pembelajaran dalam pelatihan ini, agar pengelola universitas memiliki wadah dan diberikan materi untuk memimpin PTMA kedepan,” pungkasnya.
Be the first to comment