WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, menegaskan bahwa sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor penentu utama dalam membangun keunggulan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA). Di tengah kompetisi antarperguruan tinggi yang semakin ketat, penguatan kapasitas SDM secara berkelanjutan menjadi keniscayaan.
Hal tersebut disampaikan Sayuti dalam penutupan Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan PTMA yang berlangsung di Prime Hotel Convention & Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, ukuran keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak semata terletak pada infrastruktur fisik, tetapi pada kualitas manusia yang menggerakkan seluruh sistem di dalamnya.
“Dalam dokumen akreditasi, SDM mungkin ditempatkan di urutan keempat. Namun dalam praktiknya, SDM adalah nomor satu,” tegasnya.
Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang mampu meraih hibah riset tertinggi selama tiga tahun berturut-turut sebagai hasil dari keseriusan dalam membangun kapasitas SDM. Hal serupa juga terlihat pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang konsisten mendorong produktivitas publikasi ilmiah.
“Kenapa UAD atau UMY bisa mencapai prestasi riset yang luar biasa? Karena SDM-nya digarap setiap hari melalui peningkatan keterampilan,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya etos belajar bagi seorang pemimpin. Kepemimpinan, menurutnya, adalah tentang kemampuan mengelola perubahan, dan perubahan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang terus belajar.
“Hanya dosen yang terus belajar yang boleh terus mengajar. Dan hanya pimpinan PTMA yang terus belajar yang boleh terus memimpin,” ujarnya.
Ia menegaskan, ketika seorang pemimpin berhenti belajar dan merasa cukup dengan pengetahuannya, maka pada saat itulah kepemimpinannya patut dipertanyakan.
Dalam konteks implementasi hasil pelatihan, Sayuti menetapkan parameter keberhasilan yang konkret. Ia menantang para peserta untuk mereplikasi pengetahuan yang diperoleh melalui penyelenggaraan Leadership Management Training (LMT) di kampus masing-masing.
“Ukuran keberhasilan LT ini adalah apakah Bapak dan Ibu mampu pulang dan menyelenggarakan pelatihan serupa di institusi masing-masing. Jika tidak, maka keberhasilan itu perlu dipertanyakan,” tegasnya.
Menurutnya, pimpinan PTMA harus hadir sebagai problem solver atas berbagai tantangan institusi, mulai dari peningkatan jumlah mahasiswa hingga penyelesaian persoalan internal kampus. Ia juga mengingatkan agar pimpinan tidak terjebak dalam budaya mengeluh yang justru melemahkan semangat perubahan.
“Jadikan ilmu dari pelatihan ini sebagai wasilah untuk memperbaiki kampus. Gunakan ekosistem Muhammadiyah ini semaksimal mungkin untuk dakwah dan kekuatan untuk menghadirkan Islam berkemajuan di seluruh dunia,” pungkasnya.
Be the first to comment