Fenomena yang populer disebut “Godzilla El Nino” kembali menjadi perbincangan publik dan memunculkan kekhawatiran akan potensi kekeringan ekstrem di Indonesia. Istilah ini mencuat setelah adanya pernyataan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait kemungkinan kemarau yang lebih panjang dan kering.
Namun, pakar lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Syamsudduha Syahrorini, menegaskan bahwa kondisi saat ini masih tergolong aman dan belum mengarah pada situasi ekstrem seperti yang dikhawatirkan.
“El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah–timur yang mengganggu pola cuaca global. Dampaknya sangat terasa di Indonesia,” jelasnya.
Kondisi 2026 Tidak Se-ekstrem 2015
Menurutnya, istilah “Godzilla El Nino” bukan terminologi ilmiah, melainkan sebutan populer untuk fenomena El Nino yang sangat kuat.
“Berbeda dengan 2015, tahun 2026 ini justru cenderung netral, bahkan mengarah ke La Niña lemah,” ungkapnya.
Ia membandingkan kondisi beberapa tahun terakhir:
- 2015: El Nino ekstrem, kekeringan parah
- 2023: El Nino kuat, kemarau panjang
- 2026: Netral hingga La Niña lemah, kondisi relatif normal
Dengan demikian, El Nino pada tahun ini tidak dominan sehingga dampaknya tidak signifikan terhadap kondisi nasional.
Dampak Tetap Perlu Diantisipasi
Meski tidak ekstrem, ia mengingatkan bahwa dampak El Nino tetap perlu dipahami, terutama pada sektor lingkungan.
“Sektor yang paling cepat terdampak yaitu ketersediaan air, karena sangat sensitif terhadap perubahan curah hujan,” terangnya.
Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain:
- Ketersediaan air: potensi krisis air bersih dan gangguan irigasi
- Kebakaran hutan dan lahan: dapat meningkat dalam hitungan minggu hingga bulan
- Ketahanan pangan: bergantung pada intensitas fenomena
Namun, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada indikasi krisis nasional.
“Curah hujan masih normal sampai cukup tinggi, belum mengarah ke krisis besar,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia meluruskan bahwa El Nino merupakan fenomena alami yang terjadi secara periodik setiap 2–7 tahun akibat interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik.
Meski demikian, perubahan iklim akibat aktivitas manusia dapat memengaruhi kekuatan dan dampaknya.
“El Nino bukan fenomena buatan manusia, tetapi aktivitas seperti emisi karbon dan deforestasi dapat memperkuat dampaknya,” ujarnya.
Strategi Mitigasi Berbasis Keberlanjutan
Untuk menghadapi potensi risiko ke depan, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif yang berkelanjutan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:
- Manajemen air berkelanjutan seperti embung, sumur resapan, dan penampungan air hujan
- Pertanian adaptif dengan irigasi hemat air dan varietas tahan kekeringan
- Restorasi ekosistem melalui reforestasi dan perlindungan lahan
- Pencegahan kebakaran berbasis pemantauan hotspot
- Pemanfaatan teknologi seperti IoT dan AI untuk prediksi risiko
- Pengembangan energi terbarukan, termasuk optimalisasi energi surya
Menurutnya, kondisi saat ini justru masih memberikan ruang untuk memperkuat kesiapsiagaan tanpa harus menimbulkan kepanikan.
“Masyarakat tidak perlu panik, karena kondisi Indonesia tahun 2026 masih tergolong aman dan terkendali,” pungkasnya.
Be the first to comment