WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Achmad Nurmandi menegaskan bahwa pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) di era modern tidak boleh lagi hanya terjebak dalam rutinitas administratif di dalam kantor. Ia menekankan bahwa seorang Rektor maupun Wakil Rektor harus bertransformasi menjadi sosok penggerak yang mampu memasarkan keunggulan kampus dan membangun jejaring seluas-luasnya di luar kampus.
Hal tersebut disampaikannya dalam sesi Sharing Session bertajuk “Networking dan Komunikasi dengan Multi-Stakeholder” pada acara Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), Rabu (15/7/2026). Nurmandi mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah perguruan tinggi sangat bergantung pada kemampuan pimpinannya dalam mengkapitalisasi reputasi menjadi sumber daya nyata.
Menurut Nurmandi, pimpinan PTMA harus banyak melakukan “piknik” atau kunjungan eksternal untuk membuka peluang kolaborasi, baik dengan pemerintah daerah, perbankan, maupun sektor industri. Ia mengkritik pimpinan yang hanya berdiam diri di kampus tanpa membangun relasi yang produktif.
“Tugas pimpinan itu bukan lagi seperti dosen biasa. Rektor itu ya sales, ya pencari peluang, ya pengukur lapangan. Kita harus keluar, jangan hanya berputar di dalam kampus. Kita harus keluar, jangan seperti tikus yang hanya berputar-putar di dalam kampus sendiri,” tegas Nurmandi dengan gaya bicaranya yang lugas.
Dalam paparannya, Nurmandi juga membagikan pengalaman membangun social capital melalui aktivitas nonformal, seperti olahraga. Ia mencontohkan bagaimana pengelolaan turnamen sepak bola di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mampu menjadi sarana promosi sekaligus memperluas jejaring.
Dari aktivitas tersebut, muncul kepercayaan masyarakat hingga kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk klub profesional yang memanfaatkan fasilitas kampus.
Bahkan, melalui pengelolaan infrastruktur olahraga yang profesional, UMY berhasil menarik minat klub liga profesional untuk menyewa lapangan dan fasilitas hotel kampus.
“Ini bukan sekadar hobi, tapi bagaimana kita melihat peluang dan mengelola aset kampus menjadi sumber pendapatan,” jelasnya.
Nurmandi juga memberikan catatan kritis bagi PTMA, khususnya yang berada di kota besar, agar serius mengembangkan internasionalisasi. Ia menilai keberadaan mahasiswa asing menjadi indikator penting kualitas jejaring dan tata kelola institusi.
Ia mendorong adanya kolaborasi antar-PTMA melalui skema “Gendong-Gandeng”, guna saling menguatkan dalam memenuhi standar global.
Menutup paparannya, Nurmandi mengajak pimpinan PTMA untuk mengadopsi konsep entrepreneurial university. Ia mendorong dekan dan pimpinan fakultas untuk aktif menjalin kerja sama dengan kawasan industri.
Menurutnya, setiap potensi di sekitar kampus harus mampu dikapitalisasi menjadi peluang kolaborasi yang berdampak bagi kemajuan institusi dan persyarikatan.
“Pimpinan PTMA harus punya kapasitas leadership yang kuat untuk memaksimalkan setiap peluang. Jangan biarkan potensi industri di sekitar kampus terlewat tanpa kolaborasi. Pimpinan harus mampu menangkap peluang itu,” pungkasnya.
Be the first to comment