Refleksi 40 Tahun UM Ponorogo: Meneguhkan Mutu Unggul, Mewujudkan Kampus Berdampak

Refleksi 40 Tahun UM Ponorogo Meneguhkan Mutu Unggul, Mewujudkan Kampus Berdampak
Ahmad Muttaqin - Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

WARTAPTM.ID, PONOROGO – Memasuki usia ke-40 tahun, Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) menggelar tasyakuran dan resepsi milad yang mengusung tema “Tumbuh, Berdaya, dan Mendunia”. Dalam momen bersejarah ini, Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, memberikan pembinaan sekaligus refleksi strategis bagi sivitas akademika UMPO untuk terus bertransformasi menjadi kampus yang berdampak bagi peradaban.

Muttaqin menyoroti bahwa usia 40 tahun secara historis dan institusional melambangkan kematangan (institutional maturity), sejalan dengan usia kenabian Rasulullah Muhammad SAW saat menerima risalah.

“Angka 40 itu merupakan momentum milad sekaligus deklarasi kita untuk menghadapi tantangan zaman. Tumbuh, berdaya, dan mendunia mengindikasikan pertumbuhan kuantitatif sekaligus kedalaman mutu dan luasnya dampak. Kita harus bertransformasi dari sekadar pusat pengetahuan (knowledge center) menjadi pusat yang berdampak (center of impact),” tegasnya.

Kekuatan Sistemik PTMA dan Capaian UMPO

Dalam paparannya, Muttaqin menyajikan data strategis yang menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan aktor utama pendidikan tinggi nasional. Saat ini terdapat 164 PTMA di seluruh dunia—termasuk di Malaysia—yang mewakili 4% dari total perguruan tinggi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 21 PTMA telah meraih akreditasi “Unggul”, di mana UMPO menjadi salah satu kebanggaan di dalamnya.

Capaian UMPO di usianya yang ke-40 sangat impresif. Di bidang akademik, UMPO sukses meraih akreditasi institusi Unggul dari BAN-PT, menerapkan ISO 21001:2018, dan mencatatkan lonjakan kepercayaan masyarakat dengan tren penerimaan mahasiswa baru yang terus meningkat tajam. Pada aspek sumber daya manusia, UMPO kini memiliki 70 dosen bergelar doktor (S3) dengan target mencapai lebih dari 100 doktor pada masa mendatang. Kampus ini juga berhasil “pecah telur” dengan melahirkan dua Guru Besar baru, yakni Prof. Dr. Sudarno, M.T. dan Prof. Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd.I., serta menargetkan pengukuhan delapan Guru Besar tambahan ke depannya.

Refleksi: Antara Kekuatan dan Celah Pengembangan

Meskipun telah berada di posisi strategis—peringkat ke-16 di Jawa Timur dan masuk dalam jajaran kampus unggulan secara nasional—Muttaqin mengajak UMPO untuk melakukan refleksi.

Sebagai kekuatan, UMPO memiliki modal legalitas yang kuat, nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang kokoh, sinergi stakeholder yang harmonis, serta keunikan penjenamaan lokal (branding) sebagai “The Reog University”.

“Ini satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memadukan kearifan lokal dan peradaban global yang dibingkai nilai-nilai Islam berkemajuan. Ini menandakan dakwah kultural Muhammadiyah berjalan sangat baik di UMPO,” ungkap Muttaqin.

Namun, di tengah disrupsi teknologi, persaingan kampus luar negeri yang mulai masuk ke Indonesia, dan ekspektasi global, UMPO masih memiliki ruang atau “celah” pengembangan. Beberapa hal yang harus diakselerasi meliputi peningkatan publikasi global (Scopus/Sinta), digitalisasi sistem layanan yang lebih menyeluruh, dan yang terpenting: hilirisasi riset agar penelitian berdampak langsung pada kesejahteraan umat.

Dari Menara Gading Menuju Menara Air

Untuk menjawab tantangan masa depan, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mendorong perubahan paradigma mutu: dari sekadar pemenuhan syarat kelayakan (compliance) menjadi bereputasi (excellence), dan dari capaian luaran (output) menuju kebermanfaatan nyata (impact).

Keunggulan tersebut harus diwujudkan dalam empat area: Academic Excellence (keunggulan akademik), Research Excellence (keunggulan riset), Community Service Excellence (keunggulan pengabdian masyarakat), serta Moral-Spiritual Excellence (keunggulan moral-spiritual sebagai distingsi kampus Muhammadiyah).

“Kita tidak ingin perguruan tinggi yang unggul hanya menjadi menara gading, melainkan harus menjadi menara air. Kampus berdampak tidak sekadar meluluskan sarjana, tetapi menyelesaikan masalah masyarakat. Riset tidak boleh hanya berhenti pada publikasi yang menaikkan pangkat penelitinya, tetapi harus mengubah kehidupan masyarakat binaannya menjadi berdaya secara sosial dan ekonomi,” pesan Prof. Muttaqin dengan lugas.

Sebagai penutup, ditekankan lima langkah strategi transformasi ke depan untuk UMPO dan PTMA secara umum: (1) Pendalaman Mutu (Deepening Quality), (2) Riset yang berdampak (Research for Impact), (3) Transformasi Digital (Digital Transformation), (4) Ekosistem Kolaborasi (Collaboration Ecosystem), dan (5) AIK sebagai nilai inti (Core Values). Dengan strategi ini serta berbagai agenda pengembangan fisik seperti ReyogMu Center, Fakultas Kedokteran, hingga Edupark, UMPO diyakini siap mengukuhkan posisinya sebagai kampus pencetak peradaban semesta.

Be the first to comment

Leave a Reply