UMP Hidupkan Spirit Margono–Sumitro, Teguhkan Peran Kampus sebagai Pusat Keadilan Sosial

UMP Hidupkan Spirit Margono–Sumitro, Teguhkan Peran Kampus sebagai Pusat Keadilan Sosial

WARTAPTM.ID, PURWOKERTO — Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terus meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada penguatan akademik, tetapi juga menjadi pusat lahirnya gagasan strategis bagi pembangunan bangsa. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menghidupkan kembali pemikiran dua tokoh ekonomi nasional asal Banyumas, Raden Mas Margono Djojohadikusumo dan Prof. Sumitro Djojohadikusumo.

Rektor UMP, Jebul Suroso, menegaskan bahwa pemikiran kedua tokoh tersebut tidak boleh berhenti sebagai warisan sejarah semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang berdampak bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam pemaparan bertajuk “Menghidupkan Spirit Margono dan Sumitro Sebagai Pilar Keadilan Sosial” pada Selasa (4/8/2026).

“Pemikiran Margono dan Sumitro tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah. Nilai-nilai tersebut harus dihidupkan dalam gerakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat luas,” tegas Jebul.

Ia menjelaskan, Margono Djojohadikusumo sebagai tokoh bangsa asal Banyumas dikenal memiliki keberpihakan kuat terhadap ekonomi rakyat. Latar sosial masyarakat Banyumas yang menjunjung nilai blakasuta—egaliter, lugas, dan berpihak pada keadilan sosial—menjadi fondasi penting dalam membentuk gagasan ekonomi kerakyatan yang diwariskannya.

Semangat tersebut, lanjutnya, menjadi inspirasi bagi UMP dalam memposisikan diri sebagai “murid ideologis” dari pemikiran Margono dan Sumitro. Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada keadilan sosial dan kemandirian ekonomi.

Salah satu program unggulan adalah Rumah Bertumbuh Indonesia (RBI) yang berfokus membantu masyarakat keluar dari jeratan rentenir dan praktik pinjaman tidak adil. Program ini juga memberikan pendampingan agar masyarakat mampu tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Selain itu, UMP mengembangkan Rumah UMKM sebagai ruang pemberdayaan pelaku usaha mikro. Melalui program ini, pelaku UMKM didampingi untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperluas akses pasar, serta memperkuat ekonomi lokal.

“Kami ingin UMP menjadi tempat pulang bagi pemikiran Margono dan Sumitro. Nilai perjuangan mereka harus terus dihidupkan melalui pendidikan, riset, pemberdayaan UMKM, hingga penguatan masyarakat desa,” ujarnya.

Dalam bidang akademik, UMP juga mendirikan Pusat Studi Kebijakan Publik dan Kepemimpinan (PSKPK). Pusat studi ini diproyeksikan menjadi ruang pengembangan gagasan berbasis nilai kebangsaan dan ekonomi kerakyatan, sekaligus melahirkan rekomendasi kebijakan publik yang berpihak pada masyarakat.

Melalui kerja sama dengan Sumitro Institute, PSKPK diharapkan mampu menjadi “rumah besar” bagi pengembangan pemikiran Margono dan Sumitro dalam konteks kekinian.

Jejak perjuangan Margono Djojohadikusumo sendiri tidak dapat dipisahkan dari upayanya memperjuangkan kemandirian ekonomi rakyat melalui koperasi dan lembaga keuangan milik bangsa. Sebagai salah satu pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), ia meyakini bahwa kekuatan ekonomi nasional harus bertumpu pada rakyat, bukan pada sistem yang eksploitatif.

Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan Sumitro Djojohadikusumo yang menekankan pentingnya penguatan ekonomi rakyat sebagai fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Dengan menghidupkan kembali spirit kedua tokoh tersebut, UMP menegaskan komitmennya sebagai kampus yang tidak hanya mencetak lulusan unggul, tetapi juga menjadi pusat transformasi sosial yang menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Be the first to comment

Leave a Reply