PKM UMKU Dorong Inovasi Pembelajaran, Guru Aisyiyah Kudus Kembangkan Media Matematika Berbasis AR

PKM UMKU Dorong Inovasi Pembelajaran, Guru Aisyiyah Kudus Kembangkan Media Matematika Berbasis AR

WARTAPTM.ID, KUDUS – Upaya menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual terus dilakukan oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA). Salah satunya melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) yang mendorong penguatan kapasitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi.

Melalui pelatihan yang digelar di SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus, Sabtu (1/8/2026), para guru diperkenalkan pada pengembangan media pembelajaran matematika berbasis Augmented Reality (AR) melalui program Ethno-BIAR (Buku Interaktif Berbasis Augmented Reality).

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga visual, interaktif, dan dekat dengan pengalaman siswa.

Ketua Tim PKM UMKU, Fida Maisa Hana, menjelaskan bahwa melalui media Ethno-BIAR, konsep bangun ruang yang selama ini cenderung abstrak dapat ditampilkan secara lebih nyata melalui objek tiga dimensi berbasis teknologi digital.

“Melalui media Ethno-BIAR, materi bangun ruang tidak hanya disajikan dalam bentuk teks dan gambar, tetapi juga diperkaya dengan objek tiga dimensi berbasis Augmented Reality yang dapat diamati melalui perangkat digital,” jelasnya.

PKM UMKU Dorong Inovasi Pembelajaran, Guru Aisyiyah Kudus Kembangkan Media Matematika Berbasis AR

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna.

Tidak hanya mengandalkan teknologi, program ini juga mengintegrasikan pendekatan etnomatematika, yaitu mengaitkan konsep matematika dengan budaya dan lingkungan sekitar siswa.

Melalui pendekatan ini, guru diarahkan untuk mengembangkan materi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dengan memilih objek budaya lokal sebagai representasi konsep bangun ruang.

Dengan demikian, pembelajaran matematika tidak hanya menjadi lebih mudah dipahami, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan konteks lokal dalam proses belajar.

Meski menawarkan inovasi, implementasi media berbasis AR juga menghadapi sejumlah tantangan. Perbedaan kemampuan digital antar-guru menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan media pembelajaran ini.

“Kendala utama dalam implementasi media Ethno-BIAR adalah perbedaan kemampuan digital antar-guru, terutama dalam mengembangkan objek tiga dimensi dan mengoperasikan teknologi Augmented Reality,” ungkap Fida.

Selain itu, keterbatasan perangkat juga menjadi perhatian dalam penerapan teknologi ini di lingkungan sekolah.

Kepala SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus, Rosiana, M.Pd., mengakui bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman baru bagi para guru, meskipun masih diperlukan kesiapan lebih lanjut.

“Kami mendapatkan pengetahuan baru dalam mengembangkan media pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. Namun, tentu masih diperlukan kesiapan perangkat, kemampuan guru, serta pendampingan lanjutan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari program berkelanjutan, tim PKM UMKU menjadwalkan pelatihan lanjutan pada 8 dan 15 Agustus 2026. Tahapan berikutnya mencakup penyusunan konten, pengembangan objek AR, uji coba media, hingga evaluasi produk.

Pendampingan ini diharapkan mampu memastikan bahwa media Ethno-BIAR tidak hanya menarik secara teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah dasar.

Melalui program ini, UMKU menegaskan perannya dalam mendorong transformasi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai lokal dan kebutuhan nyata di lapangan.

Be the first to comment

Leave a Reply