UMTAS Gandeng Sustainable Living Lab Singapore, Perkuat Kompetensi Mahasiswa di Isu Global

UMTAS Gandeng Sustainable Living Lab Singapore, Perkuat ICT dan Kompetensi Mahasiswa di Isu Global
UMTAS Gandeng Sustainable Living Lab Singapore, Perkuat ICT dan Kompetensi Mahasiswa di Isu Global

Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Sustainable Living Lab (SL2) Singapore, sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang keberlanjutan dan inovasi teknologi. Kesepakatan ini menjadi langkah strategis UMTAS dalam memperkuat implementasi International Credit Transfer (ICT) sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa untuk belajar dan berkolaborasi di kancah global.

Kerja sama ini difokuskan pada pelaksanaan Youth Development for Climate Tech (YDCT), sebuah program yang digagas SL2 bersama Meta Platforms Inc. Program ini bertujuan membekali generasi muda dengan keterampilan terkait Generative Artificial Intelligence (GenAI), isu keberlanjutan (sustainability), serta solusi berbasis teknologi untuk menghadapi tantangan iklim global.

Melalui program tersebut, mahasiswa dari Indonesia, Singapura, dan India akan berkolaborasi lintas negara dalam merancang prototipe solusi inovatif terkait perubahan iklim.

UMTAS berkomitmen menominasikan 30–50 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi dan Teknik Elektro untuk mengikuti rangkaian kegiatan internasional, mulai dari Foundational Training, Virtual Exchange Program, Mentoring & Prototyping, hingga Deployment. Puncaknya, karya mahasiswa akan dipamerkan dalam Showcase Event di Singapura pada awal 2026.

Melalui mekanisme International Credit Transfer, pengalaman internasional tersebut akan diakui dalam bentuk satuan kredit semester (SKS) dan diintegrasikan langsung ke dalam kurikulum kampus.

Rektor UMTAS, Dr. Neni Nuraeni, M.Pd., menyambut baik kerja sama ini.

“Kolaborasi strategis dengan Sustainable Living Lab Singapore akan membuka peluang besar bagi mahasiswa UMTAS. Mereka tidak hanya berpartisipasi dalam isu keberlanjutan global, tetapi juga memperluas jejaring internasional. Kami percaya pengalaman ini akan memperkuat kompetensi akademik sekaligus profesional mahasiswa di era teknologi dan keberlanjutan,” ujarnya.

Manager Program SL2, Bayu Apriansah, menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam mencari solusi atas persoalan iklim.

“Program YDCT dirancang agar mahasiswa tidak hanya menjadi pembelajar, tetapi juga pencipta solusi. Kami sangat senang UMTAS bergabung. Mahasiswa Indonesia akan berkolaborasi dengan mahasiswa Singapura dan India, dan karya mereka akan dipresentasikan di ajang internasional di Singapura,” jelasnya.

Ketua Kantor Kerja Sama dan Urusan Internasional (KKUI) UMTAS, Dr. Aceng Sambas, M.T., menambahkan bahwa MoU ini menjadi langkah strategis dalam memperluas cakrawala global kampus.

“Implementasi ICT melalui kerja sama ini merupakan program perdana KKUI dalam transfer kredit dengan pihak industri. Hal ini menjadi tonggak penting dalam upaya membangun reputasi internasional UMTAS. Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata di tingkat global,” pungkasnya.

Dengan langkah ini, UMTAS menegaskan komitmennya dalam mendukung internasionalisasi kampus Muhammadiyah dan mencetak lulusan yang siap bersaing dalam tantangan global, khususnya di bidang teknologi dan keberlanjutan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*