Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar (FAI Unismuh Makassar) memperkuat komitmen internasionalisasi pendidikan dengan menggandeng Fakulti Pengajian Bahasa Utama Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dalam kuliah tamu internasional bertema penguatan pembelajaran bahasa Arab di era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kegiatan ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (13/1/2026).
Kuliah tamu internasional tersebut menghadirkan akademisi dari Indonesia dan Malaysia sebagai upaya bersama merespons dinamika pembelajaran bahasa asing di tengah percepatan teknologi pendidikan. Tiga narasumber yang hadir yakni Nur Fadilah Amin (Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FAI Unismuh), Yuslina Binti Muhammad, serta Haslina Abdullah dari USIM.
Moderator kegiatan, Agil Husain Abdullah, menjelaskan bahwa agenda ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi akademik lintas negara, khususnya dalam pengembangan pedagogik bahasa Arab yang adaptif terhadap era digital dan AI.
Dekan FAI Unismuh Makassar, Amirah Mawardi, menegaskan bahwa kuliah tamu internasional ini tidak hanya bertujuan memperkaya wawasan akademik, tetapi juga memperluas jejaring global sivitas akademika Muhammadiyah.
“Targetnya adalah meningkatkan pemahaman akademis dosen dan mahasiswa dalam konteks global, sekaligus memulai keterlibatan kolaboratif antar kedua institusi,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam forum akademik internasional penting untuk membangun kesiapan bersaing di tingkat global serta memperkuat kontribusi keilmuan berbasis nilai-nilai Islam berkemajuan.
Sebagai pemateri pertama, Nur Fadilah Amin menekankan pentingnya integrasi Technology Enhanced Language Learning (TELL) dalam pembelajaran bahasa Arab. Ia menilai pendekatan ini menjadi kunci agar pembelajaran tetap relevan bagi generasi digital tanpa menghilangkan keautentikan bahasa.
“Bahasa Arab harus tetap autentik, tetapi juga relevan dan menarik bagi pembelajar digital saat ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat bantu yang memperkuat peran pendidik, bukan menggantikannya.
Sementara itu, Yuslina Binti Muhammad menyoroti pentingnya instructional design sebagai fondasi utama dalam pengembangan pembelajaran digital bahasa asing.
“Instructional design adalah asas kepada pembangunan model pengajaran, ibarat lukisan bagi sebuah bangunan sebelum bangunan itu didirikan,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan teknologi menuntut pergeseran cara merancang pengalaman belajar, mulai dari analisis kebutuhan peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, pemilihan metode dan media, hingga evaluasi berkelanjutan.
Pemateri ketiga, Haslina Abdullah, mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi pendidikan harus disertai pertimbangan etika, kualitas, dan keberlanjutan.
Ia menekankan bahwa penggunaan AI dan teknologi digital dalam pendidikan tidak boleh sekadar mengikuti tren, melainkan harus berdampak nyata pada mutu pembelajaran.
Menutup kegiatan, Amirah Mawardi berharap kerja sama antara FAI Unismuh dan USIM dapat berlanjut dalam bentuk kolaborasi konkret, seperti riset bersama, pengembangan kurikulum, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga kunjungan akademik langsung.
“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada forum daring, tetapi berkembang menjadi kolaborasi berkelanjutan dan lawatan akademik antarinstitusi,” tegasnya.
Be the first to comment