Mahasiswa Unmuh Babel Teguhkan Dakwah Lingkungan di Kemah Hijau Sahabat Alam 2025

Mahasiswa Unmuh Babel Teguhkan Dakwah Lingkungan di Kemah Hijau Sahabat Alam 2025
Mahasiswa Unmuh Babel Teguhkan Dakwah Lingkungan di Kemah Hijau Sahabat Alam 2025

Hijau pepohonan dan udara segar menyambut langkah ratusan pegiat konservasi yang berkumpul di kawasan Wisata Biodiversity Sungai Upang, Desa Tanah Bawah, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka, 24–26 Oktober 2025.

Di tengah semangat menjaga bumi, Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Alam (HIMASERDA) Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) tampil sebagai bagian penting dari gerakan ekologis masyarakat.

Gelaran Kemah Hijau Sahabat Alam 2025 ini merupakan rangkaian dari Festival Sungai Upang yang diinisiasi Bangka Flora Society bersama Sahabat Alam Sungai Upang dengan dukungan Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka. Tidak sekadar berkegiatan di alam, para peserta diajak mendalami nilai pelestarian lingkungan sebagai amanah yang harus dijaga bersama.

Mengusung konsep kemah berbasis konservasi, setiap aktivitas menjadi ruang pembelajaran lapangan. Muali dari pengenalan keanekaragaman hayati hingga memahami relasi manusia dengan lingkungan secara Islami. Bagi HIMASERDA, kehadiran mereka merupakan bentuk aktualisasi dakwah bil hal, memperkuat komitmen bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah.

“Kami datang bukan hanya untuk ikut serta, tetapi untuk belajar dan beraksi. Alam memberi kehidupan, dan kita wajib membalasnya dengan kepedulian,” ungkap Armadi Saputra, Ketua HIMASERDA Unmuh Babel.

Momentum tersebut juga menjadi ajang prestasi membanggakan. Tim HIMASERDA sukses meraih Juara 2 Lomba Ketapel dan Juara 3 Lomba Panahan. Kemenangan itu menjadi bukti bahwa kompetisi dan konservasi dapat berjalan beriringan yaitu melatih ketangkasan, sportivitas, sekaligus kesadaran menjaga lingkungan.

Unmuh Babel Raih Prestasi di Kemah Hijau Sahabat Alam 2025

Selain prestasi, kegiatan ini memperkuat rasa persaudaraan dan membangun karakter anggota HIMASERDA sebagai kader ekologis masa depan.

Dosen Pembina HIMASERDA, Randi Syafutra, menegaskan bahwa konservasi harus menjadi ilmu yang hidup.

“Konservasi tidak berhenti di ruang kuliah. Ia harus diaktualkan melalui kerja lapangan dan jejaring dengan komunitas,” ujarnya mengapresiasi capaian mahasiswa.

Hal senada disampaikan Ketua Program Studi KSDA Unmuh Babel, Sujadi Priyansah. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan visi kampus dalam mencetak generasi hijau yang visioner.

“Kami bangga mahasiswa hadir membawa pesan lingkungan yang kuat, sekaligus menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Sujadi.

Selama tiga hari, peserta mengikuti diskusi lingkungan, praktik konservasi, hingga refleksi malam api unggun. Nilai kedekatan dengan alam kembali ditanamkan sebagai kesadaran kolektif.

HIMASERDA menegaskan tekad untuk terus menjadi pelopor gerakan pelestarian lingkungan di Bangka Belitung, memperluas kolaborasi dengan berbagai komunitas, serta menggerakkan generasi muda agar lebih cinta bumi melalui aksi nyata.

Kemah Hijau Sahabat Alam 2025 menjadi pengingat bahwa menjaga alam tidak membutuhkan panggung megah. Melalui langkah kecil yang konsisten dan kolaborasi yang kuat. HIMASERDA Unmuh Babel menunjukkan bahwa menjaga alam bukan tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama untuk masa depan yang lestari.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*