Gizi Seimbang sebagai Fondasi Pembangunan SDM Cerdas, Aktif, dan Sehat: Perspektif RPJMN, SDGs, dan SN-Dikti

Gizi Seimbang sebagai Fondasi Pembangunan SDM Cerdas, Aktif, dan Sehat: Perspektif RPJMN, SDGs, dan SN-Dikti
Dr. Sufiati Bintanah, SKM, M.Si (Dosen Magister Ilmu Gizi Pascasarjana Unimus Semarang)

Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) setiap 25 Januari menjadi momentum reflektif untuk menegaskan kembali peran strategis gizi dalam pembangunan bangsa. Tema “Gizi Seimbang untuk Tumbuh Cerdas, Aktif, dan Sehat” sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul sebagai prioritas utama.

Tantangan gizi di Indonesia hingga kini masih bersifat kompleks dan multidimensional. Di satu sisi, masalah gizi kurang dan defisiensi zat gizi mikro masih ditemukan, sementara di sisi lain prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular terus meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai beban ganda masalah gizi.

Dalam konteks tersebut, gizi seimbang tidak lagi dapat dipahami semata sebagai isu kesehatan, melainkan sebagai strategi lintas sektor yang relevan dengan pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), serta Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti).

Gizi Seimbang dalam Kerangka Kebijakan Nasional

Gizi seimbang merupakan pola konsumsi pangan harian yang mengandung zat gizi makro dan mikro sesuai kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemantauan status gizi secara berkala. Prinsip ini menjadi fondasi kebijakan perbaikan gizi nasional karena relevan diterapkan sepanjang siklus kehidupan.

Dalam RPJMN, perbaikan status gizi menjadi bagian integral dari agenda pembangunan SDM, terutama melalui upaya penurunan stunting, peningkatan kesehatan ibu dan anak, serta pengendalian penyakit tidak menular. Pada level global, penerapan gizi seimbang berkontribusi langsung terhadap pencapaian SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).

Peran Gizi Seimbang pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan fase kritis yang menentukan perkembangan otak dan kapasitas kognitif jangka panjang. Pada fase ini berlangsung proses neurogenesis, pembentukan sinaps, mielinisasi saraf, serta pematangan sistem saraf pusat yang sangat bergantung pada kecukupan zat gizi.

Energi berperan penting untuk memenuhi kebutuhan metabolik otak yang sangat tinggi. Kekurangan energi kronis dapat menghambat pertumbuhan otak dan menurunkan kualitas koneksi saraf. Protein menjadi komponen esensial dalam pembentukan jaringan otak, neurotransmiter, dan enzim yang berperan dalam fungsi kognitif. Kekurangan protein pada masa 1.000 HPK berisiko menurunkan kapasitas belajar anak.

Selain itu, zat gizi mikro seperti zat besi, yodium, seng, folat, dan vitamin B kompleks memegang peranan krusial. Zat besi mendukung transport oksigen dan mielinisasi, yodium penting untuk sintesis hormon tiroid, sementara seng dan folat berperan dalam pembelahan serta diferensiasi sel saraf. Kekurangan zat gizi mikro pada periode ini bersifat sulit diperbaiki dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas SDM di masa dewasa.

Aktivitas Fisik dan Keseimbangan Energi

Aktivitas fisik merupakan bagian integral dari konsep gizi seimbang karena berperan menjaga keseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin membantu meningkatkan sensitivitas insulin, mengoptimalkan metabolisme, serta memperbaiki fungsi mitokondria sebagai pusat produksi energi sel.

Keseimbangan energi yang tercapai melalui keselarasan antara pola makan dan aktivitas fisik berperan mencegah kelebihan energi yang berujung pada obesitas dan penyakit tidak menular, sekaligus mencegah defisit energi yang dapat menurunkan daya tahan tubuh dan produktivitas. Oleh karena itu, integrasi gizi seimbang dan aktivitas fisik menjadi prasyarat penting bagi kesehatan metabolik sepanjang daur kehidupan.

Gizi Seimbang, Imunitas, dan Pencegahan Infeksi

Status gizi berkaitan erat dengan sistem imun tubuh. Kecukupan energi dan protein diperlukan untuk pembentukan sel imun, antibodi, serta mediator pertahanan tubuh. Kekurangan zat gizi tersebut dapat menurunkan fungsi imunitas dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi.

Zat gizi mikro seperti vitamin A, C, D, E, zat besi, seng, dan selenium berperan dalam menjaga integritas mukosa, meningkatkan aktivitas sel fagosit, serta mengatur respons imun. Defisiensi zat gizi mikro dapat memperburuk daya tahan tubuh dan memperpanjang masa penyembuhan.

Hubungan gizi dan infeksi bersifat timbal balik. Infeksi dapat memperburuk status gizi, sementara status gizi yang buruk meningkatkan risiko infeksi. Penerapan gizi seimbang menjadi strategi preventif penting untuk memutus siklus tersebut, khususnya pada kelompok rentan.

Gizi Seimbang dalam SN-Dikti dan Tri Dharma Perguruan Tinggi

Dalam kerangka SN-Dikti, gizi seimbang memiliki relevansi kuat terhadap capaian pembelajaran lulusan, terutama pada program studi kesehatan dan gizi. Pemahaman berbasis bukti tentang gizi seimbang mendukung penguatan kompetensi akademik, sikap profesional, serta keterampilan edukasi dan intervensi gizi masyarakat.

Isu gizi seimbang juga dapat diintegrasikan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung agenda RPJMN dan SDGs.

Gizi seimbang merupakan fondasi utama dalam pembangunan SDM yang cerdas, aktif, dan sehat. Dalam perspektif RPJMN, SDGs, dan SN-Dikti, gizi seimbang tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi pilar strategis pembangunan nasional dan global. Momentum Hari Gizi Nasional hendaknya dimaknai sebagai komitmen kolektif untuk memperkuat kebijakan, pendidikan, dan praktik gizi seimbang demi terwujudnya generasi Indonesia yang unggul dan berkelanjutan.

Selamat Hari Gizi Nasional ke-66
“Gizi Seimbang untuk Tumbuh Cerdas, Aktif, dan Sehat”.

Oleh: Dr. Sufiati Bintanah, SKM, M.Si. – Dosen Magister Ilmu Gizi, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Semarang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*