Tauhid yang Menggerakkan: Membaca Evolusi Gagasan dan Praktik Tokoh Muhammadiyah

Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

Apakah tauhid dalam Muhammadiyah sekadar doktrin akidah? Ataukah ia merupakan energi yang terus bergerak dalam sejarah, membentuk etika sosial dan praksis kebangsaan?

Pertanyaan itu mengemuka dalam paparan Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, pada Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (21/2/2026). Dalam forum tersebut, ia menelusuri dinamika pemikiran tauhid para tokoh Muhammadiyah dan menegaskan bahwa tauhid bukanlah konsep statis, melainkan terus berkembang sesuai konteks zaman.

Menariknya, pemetaan pemikiran para tokoh dilakukan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) yang kemudian diverifikasi melalui berbagai literatur akademik. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembacaan atas tradisi intelektual Muhammadiyah tetap terbuka terhadap metode baru, tanpa mengabaikan ketelitian ilmiah.

Dari Purifikasi hingga Emansipasi

Pada sosok pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, tauhid tampil dalam wajah reformatif dan purifikatif. Pemurnian akidah dari praktik tahayul, bid’ah, dan khurafat berjalan seiring dengan keberpihakan kepada kaum lemah melalui teologi Al-Ma’un. Tauhid tidak berhenti pada ranah keyakinan, tetapi menjadi fondasi empati sosial.

“Kiai Dahlan itu corak gagasan tauhidnya bersifat reformatif dan purifikatif, yaitu untuk membangun fondasi umat yang murni, rasional, dan empatik terhadap kaum lemah,” ujar Muttaqin.

Sementara itu, Siti Walidah menghadirkan dimensi egaliter dalam tauhid. Kesetaraan spiritual laki-laki dan perempuan ditegaskan sebagai konsekuensi langsung dari keimanan. Tauhid, dalam perspektif Nyai Walidah, membebaskan perempuan dari ketergantungan epistemik dan membuka ruang partisipasi aktif dalam kehidupan keagamaan.

“Laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah. Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab iman dan amal yang sama,” jelas Muttaqin.

Tauhid dan Kesadaran Sosial

Pada generasi berikutnya, Muttaqin menyebut Mas Mansur sebagai tokoh yang memaknai tauhid sebagai kekuatan pembebasan sosial. Mengesakan Allah berarti menolak segala bentuk penindasan manusia atas manusia. Tauhid menjadi basis teologis perjuangan melawan ketidakadilan.

Corak moral-intelektual tampak dalam pemikiran Hamka. Tauhid membentuk jiwa merdeka, melahirkan akhlak mulia, serta mendorong rasionalitas dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan. Ia menjadi fondasi etika personal sekaligus horizon intelektual.

Adapun AR Fachruddin menampilkan tauhid dalam wajah etis-organisatoris. Loyalitas, integritas, dan ketaatan terhadap keputusan organisasi dipahami sebagai ekspresi keimanan. Tauhid tidak terpisah dari disiplin kolektif dalam kehidupan persyarikatan.

Tauhid sebagai Energi Perubahan

Dalam konteks politik dan perubahan struktural, Muttaqin menjelaskan bahwa Amien Rais memperkenalkan gagasan tauhid sosial—tauhid sebagai teologi pembebasan yang menolak tirani dan ketidakadilan. Konsep ini menjadi energi moral bagi transformasi sosial dan politik.

Sementara itu, Yunahar Ilyas menghadirkan tauhid normatif-kontekstual. Kemurnian akidah tetap dijaga, namun responsif terhadap tantangan modern seperti materialisme dan sekularisme yang dipandang sebagai bentuk “syirik modern”.

Dimensi kebangsaan dan kemanusiaan menguat dalam pemikiran Ahmad Syafii Maarif. Tauhid menjadi dasar etika publik, dialog antaragama, serta kritik terhadap politisasi agama. Dalam perspektif Buya Syafii, tauhid melahirkan sikap inklusif dalam ruang kebangsaan.

Terakhir, Hamim Ilyas mengembangkan konsep tauhid rahamutiyah—tauhid berbasis kasih sayang transformatif. Iman kepada Allah dimaknai sebagai upaya meneladani sifat ar-Rahman dan ar-Rahim dalam membangun keadilan sosial dan penghormatan terhadap kemajemukan.

Teologi dan Teopraksis

Dari pemetaan tersebut tampak satu benang merah: tauhid dalam Muhammadiyah selalu berkelindan antara gagasan dan praksis. Ia bukan sekadar konsep metafisik yang berhenti di ruang abstraksi, melainkan fondasi spiritual yang melahirkan etika sosial dan energi pembaruan.

“Gagasan tauhid dari para tokoh Muhammadiyah itu bersifat dinamis dan berkembang sesuai konteks historisitasnya yang menunjukkan kesesuaian antara teologi dan teopraksis,” ujar Muttaqin.

Dengan demikian, tauhid dalam Muhammadiyah bukan hanya tentang apa yang diyakini, tetapi tentang bagaimana keyakinan itu menggerakkan kehidupan—dalam pendidikan, pemberdayaan sosial, kebangsaan, hingga kemanusiaan universal.

Di titik inilah tauhid menemukan relevansinya: sebagai kekuatan yang membangun fondasi umat sekaligus mendorong transformasi zaman.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*