Peneliti UHAMKA Soroti “Invisibility Trap”, Indonesia Dinilai Kurang Tampil di Panggung Global

Peneliti UHAMKA Soroti “Invisibility Trap”, Indonesia Dinilai Kurang Tampil di Panggung Global
Peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Emaridial Ulza.

WARTAPTM.ID, JAKARTA – Peran Indonesia di panggung global kembali menjadi sorotan. Peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Emaridial Ulza, menilai Indonesia tengah menghadapi kondisi yang ia sebut sebagai strategic invisibility trap atau jebakan ketidakterlihatan strategis.

Pandangan ini disampaikan dalam laporan strategis yang disusunnya, yang mengkaji dampak dinamika konflik global, khususnya terkait ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, terhadap posisi Indonesia di kancah internasional.

Menurut Emaridial, ancaman terhadap Indonesia tidak hanya bersumber dari aspek ekonomi seperti fluktuasi harga minyak atau tekanan terhadap APBN, tetapi juga dari melemahnya posisi strategis Indonesia dalam persepsi global.

“Di tengah derasnya arus informasi global, negara yang tidak tampil dalam narasi internasional berpotensi tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun kebijakan strategis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, fenomena ini bukan berarti Indonesia memiliki citra buruk, melainkan justru kurang hadir dalam percakapan global yang menentukan arah kebijakan dan ekonomi dunia.

Dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, Emaridial menilai bahwa persepsi global tidak hanya dibentuk oleh data, tetapi juga oleh narasi yang terus berulang dan tertanam dalam ingatan publik internasional.

“Negara yang tidak aktif mengembangkan narasinya sendiri berpotensi kehilangan perhatian global, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” jelasnya.

Ia mencontohkan Iran yang tetap menjadi bagian dari diskursus global meskipun berada dalam situasi konflik. Sebaliknya, Indonesia yang memiliki populasi besar dan stabilitas ekonomi relatif belum menempati posisi penting dalam narasi internasional.

“Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan ekonomi yang stabil belum menjadi aktor penting dalam narasi global,” tambahnya.

Lebih lanjut, Emaridial menekankan bahwa dampak dari kondisi ini tidak berhenti pada aspek citra, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap ekonomi nasional. Menurutnya, gangguan pada reputasi dan persepsi global dapat berdampak pada investasi, biaya pinjaman, hingga arus modal.

Selain itu, laporan tersebut juga mengangkat konsep Keynesian Triple Squeeze, yakni tekanan simultan pada tiga pilar ekonomi: ketenagakerjaan, suku bunga, dan likuiditas. Kondisi ini dinilai lebih kompleks dibanding krisis sebelumnya karena tidak adanya sektor penyangga yang kuat.

Dari sisi geopolitik, konflik global juga berpotensi memengaruhi posisi Indonesia di kawasan, termasuk dalam dinamika Laut China Selatan yang berdampak pada wilayah strategis seperti Natuna.

Meski demikian, Emaridial menilai Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global, seperti keberhasilan dalam pengumpulan pajak ekonomi digital serta program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi besar dalam pengembangan sumber daya manusia.

Namun, keunggulan tersebut dinilai belum terkomunikasikan secara optimal di tingkat internasional.

“Di era saat ini, narasi telah melampaui fungsi sebagai pelengkap dan justru menjadi penentu arah ekonomi sebuah negara,” tegasnya.

Laporan ini disusun menggunakan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), yang menggabungkan pendekatan lintas disiplin seperti pemasaran internasional, neurosains, ekonomi Keynesian, serta ketahanan non-militer.

Di tengah persaingan global yang semakin ditentukan oleh kekuatan narasi, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: tetap berada di pinggiran atau tampil sebagai aktor yang diperhitungkan dalam percakapan dunia.

“Dalam konteks sistem global saat ini, ketidakterlihatan suatu entitas berpotensi membuatnya tidak dianggap eksis,” pungkas Emaridial.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*