WARTAPTM.ID, MAKASSAR – Peringatan Hari Kartini kerap identik dengan seremoni, kebaya, dan simbol-simbol perayaan. Namun di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), makna Kartini justru hidup dalam perjalanan panjang para guru besar perempuan yang menapaki dunia akademik dengan penuh keteguhan.
Bagi mereka, Kartini bukan sekadar sosok historis, melainkan semangat yang terus bergerak dalam pendidikan, kepemimpinan, dan pengabdian.
Kartini dan Ruang Perempuan di Dunia Akademik
Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Unismuh, Eny Syatriana, memaknai Hari Kartini sebagai pengingat bahwa perempuan memiliki ruang luas untuk berkontribusi, baik di tingkat lokal maupun global.
“Kartini telah membuka jalan bahwa perempuan tidak boleh dibatasi oleh stereotip, melainkan harus diberi ruang untuk berkembang, berkarya, dan memberi manfaat bagi universitas yang menuju world class university,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Sosiologi Pertanian, Ratnawati Tahir. Ia menegaskan bahwa perempuan mampu berdiri di ruang publik bukan karena belas kasihan, melainkan karena kapasitas dan kegigihannya.
“Perempuan mampu tampil dengan kegigihannya sendiri, bukan karena dikasihani, tetapi karena mampu menduduki berbagai posisi strategis yang setara dengan laki-laki,” tegasnya.
Di titik ini, pendidikan tidak lagi sekadar sarana meraih gelar, tetapi menjadi jalan untuk menghadirkan perempuan sebagai aktor perubahan.
Pendidikan sebagai Inti Emansipasi
Benang merah yang kuat dari refleksi para guru besar Unismuh adalah keyakinan bahwa pendidikan merupakan inti dari perjuangan emansipasi perempuan.
Guru Besar Pendidikan Fisika, Nurlina, menilai capaian akademik tertinggi bukan hanya soal prestasi pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial.
“Guru besar bukan sekadar pencapaian jabatan akademik tertinggi, melainkan simbol perjuangan, emansipasi, dan tanggung jawab sosial yang besar,” tuturnya.
Sementara itu, Guru Besar Sosiologi, Nurlina Subair, menegaskan bahwa capaian perempuan di tingkat profesor adalah bukti konkret keberhasilan perjuangan Kartini.
“Jika dahulu Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, maka hari ini perempuan telah menjadi produsen ilmu pengetahuan dan pemegang otoritas akademik,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Guru Besar Bioteknologi Pertanian, Syamsia.
“Pencapaian sebagai profesor bukan sekadar keberhasilan individual, tetapi simbol transformasi sosial dan kesetaraan akses di pendidikan tinggi,” jelasnya.
Jalan Panjang Menuju Puncak Akademik
Meski demikian, perjalanan menuju gelar profesor bukanlah jalan yang mudah. Di balik capaian tersebut, tersimpan berbagai tantangan—mulai dari tuntutan akademik, peran keluarga, hingga kondisi kesehatan.
Guru Besar Administrasi Publik, Nuryanti Mustari, mengakui bahwa proses menuju guru besar penuh dengan dinamika.
“Rasa lelah dan keraguan pernah hadir, tetapi dari situ saya belajar tentang ketekunan, disiplin, dan konsistensi,” ungkapnya.
Kisah yang lebih berat datang dari Nurlina Subair, yang harus menghadapi penyakit serius di tengah perjalanan akademiknya.
“Keberhasilan menyelesaikan studi di tengah kondisi tersebut menjadi bukti bahwa tekad mampu melampaui keterbatasan fisik. Kuncinya adalah fokus pada diri dan cita,” tuturnya.
Cerita-cerita ini memperlihatkan bahwa semangat Kartini tidak hadir sebagai slogan, melainkan sebagai keteguhan yang dijalani dalam diam, konsistensi, dan perjuangan panjang.
Ilmu sebagai Amanah Sosial
Para guru besar Unismuh juga menegaskan bahwa ilmu tidak berhenti pada pencapaian personal, tetapi harus memberi manfaat bagi masyarakat.
Riset dan pengabdian yang mereka jalankan menyentuh berbagai isu strategis, mulai dari ketahanan pangan, kemiskinan perempuan, hingga tata kelola publik. Hal ini menunjukkan bahwa akademisi perempuan tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjawab persoalan sosial.
“Bagi perempuan, pendidikan adalah martabat. Ia memerdekakan cara berpikir dan memberi keberanian untuk bersuara,” tegas Nurlina Subair.
Pesan untuk Generasi Perempuan Muda
Refleksi tersebut bermuara pada satu pesan penting: perempuan muda harus berani bermimpi besar dan menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama.
Guru Besar Linguistik, Munirah, berpesan agar pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai jalan meraih gelar.
“Jadikan pendidikan sebagai fondasi untuk memerdekakan diri, membangun cara berpikir kritis, dan menjaga integritas,” pesannya.
Sementara itu, para guru besar lainnya juga mendorong perempuan muda untuk aktif di ruang publik, membangun kapasitas intelektual, serta menjaga karakter dan akhlak.
“Jika saya mampu melewati masa sulit hingga meraih gelar tertinggi, maka generasi muda hari ini pasti bisa melangkah lebih jauh,” ungkap Nurlina Subair.
Dari seluruh refleksi tersebut, satu hal menjadi jelas: Kartini tidak hanya dikenang, tetapi dijalani. Ia hidup dalam pendidikan yang memerdekakan, dalam ilmu yang memberi manfaat, serta dalam keteguhan perempuan yang terus membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Di Unismuh Makassar, Kartini bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah etos yang terus bekerja—hari ini dan ke depan.
Be the first to comment