WARTAPTM.ID, PENANG – Upaya internasionalisasi pendidikan tinggi terus diperkuat oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Salah satunya melalui program Global and Cultural Exposure (GCE) 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Mahasiswa (Puspresma) PTMA di Penang, Malaysia, pada 15–18 April 2026.
Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran lintas negara yang mengintegrasikan penguatan kapasitas mahasiswa, interaksi budaya, kompetisi, serta pengabdian masyarakat dalam konteks internasional.
Mengusung tema “Embracing Diversity, Empowering Communities, Inspiring the Future”, kegiatan ini diikuti sekitar 80 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, baik nasional maupun internasional.
Ketua Puspresma PTMA, Fatimah Sari Siregar, menjelaskan bahwa GCE 2026 tidak hanya berorientasi pada mobilitas mahasiswa, tetapi juga pada pembentukan karakter dan wawasan global.
“Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran langsung agar mahasiswa memiliki empati sosial, wawasan global, serta kesiapan menghadapi dinamika internasional,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Forum Silaturahmi Mahasiswa PTMA, Ihsan Susila, menilai kegiatan ini sebagai bagian dari strategi penguatan internasionalisasi pendidikan tinggi Muhammadiyah.
“Ini merupakan langkah konkret untuk menyiapkan mahasiswa PTMA agar mampu bersaing secara global, tanpa meninggalkan karakter dan kepedulian sosial,” katanya.
GCE 2026 turut menghadirkan sejumlah akademisi dari Malaysia, di antaranya dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM).
Wakil Rektor UiTM, Mr. Meer Zhar Farouk Amir Razli, menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya dalam membangun daya saing generasi muda.
“Mahasiswa perlu melihat perbedaan sebagai ruang belajar untuk meningkatkan kualitas diri dalam menghadapi kompetisi global,” ujarnya.
Sementara itu, Rushami Zein Yusoff dari UMAM menyoroti pentingnya penguasaan teknologi dan komunikasi global dalam kepemimpinan masa depan.
“Kemampuan komunikasi global dan penguasaan teknologi menjadi fondasi penting dalam kepemimpinan. Ini menjadi modal kuat bagi mahasiswa untuk berkiprah di tingkat internasional,” katanya.
Hal serupa disampaikan Senior Lecturer UMAM, Afriadi Bin Sanusi yang menekankan pentingnya perspektif global dalam pengambilan keputusan strategis.
“Mahasiswa perlu memahami konteks global agar keputusan yang diambil memiliki dampak jangka panjang,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti berbagai agenda, mulai dari lokakarya kepemimpinan, diskusi kelompok, kompetisi internasional, hingga pertukaran budaya.
Selain itu, mahasiswa juga terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat di sanggar belajar anak yang berada di bawah binaan komunitas Muhammadiyah di Penang, dengan fokus pada anak-anak imigran Indonesia.
Kegiatan ini menjadi ruang praktik langsung bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan dalam konteks global.
Salah satu peserta, Reksa dari Yogyakarta, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti program ini.
“Kami tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat dan budaya yang berbeda. Ini membuka wawasan kami, terutama terkait realitas pendidikan anak-anak imigran,” ujarnya.
Selain itu, forum diskusi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membahas isu global, termasuk peran pemuda dalam merespons konflik internasional.
Pemilihan Penang sebagai lokasi kegiatan dinilai strategis karena karakter kota yang multikultural, sehingga mendukung proses pembelajaran lintas budaya.
Melalui program ini, PTMA tidak hanya memperluas jejaring internasional, tetapi juga memperkuat kompetensi mahasiswa dalam komunikasi global, kolaborasi lintas budaya, serta kepemimpinan.
GCE 2026 menjadi bagian dari komitmen PTMA dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap tantangan global, sekaligus menyiapkan mahasiswa sebagai agen perubahan di tingkat internasional.
Be the first to comment