Perkuat Pencetakan Ulama Berkemajuan, PTM dan Kemenag RI Bahas Pengembangan Prodi Keagamaan

Perkuat Pencetakan Ulama Berkemajuan, PTM dan Kemenag Bahas Pengembangan Prodi Keagamaan
Focus Group Discussion terkait percepatan pengembangan Program Studi Keagamaan Islam di PTM, Jumat (1/5/2026).

WARTAPTM.ID, PROBOLINGGO – Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait percepatan pengembangan Program Studi (Prodi) Keagamaan Islam, Jumat (1/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara blended tersebut dipusatkan di Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo sebagai tuan rumah luring dan diikuti peserta dari berbagai daerah melalui Zoom Meeting. Forum ini menjadi bagian dari langkah strategis Muhammadiyah dalam memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus mencetak ulama berkemajuan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Rektor IAD Probolinggo, Benny Prasetya, yang juga bertindak sebagai Koordinator Asosiasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Muhammadiyah (PTKIM), menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran jajaran Kemenag RI dan pimpinan PTM dari seluruh Indonesia. Dalam sambutannya, ia menyoroti arahan PP Muhammadiyah agar setiap Universitas Muhammadiyah memiliki Fakultas Agama Islam (FAI) guna mengukuhkan nilai keunggulan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

“Dari sekian banyak Perguruan Tinggi yang dimiliki oleh Muhammadiyah, saat ini baru sekitar 40 institusi yang memiliki fakultas keagamaan Islam. Harapannya, melalui FGD ini kita bisa mendengarkan arahan kebijakan dari Kemenag terkait pembukaan prodi keagamaan untuk membesarkan perguruan tinggi Muhammadiyah,” ujarnya.

Focus Group Discussion terkait percepatan pengembangan Program Studi Keagamaan Islam di PTM

Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menambahkan bahwa kehadiran prodi keagamaan sangat penting untuk menjadikan PTM sebagai lembaga pendidikan tinggi komprehensif. Ia tidak ingin PTM memiliki keilmuan umum yang kuat namun keropos di aspek spiritual dan keagamaan. 

“Belum menjadi perguruan tinggi yang kaffah kalau seandainya belum punya prodi-prodi keagamaan. Untuk menjadi comprehensive university, PTM tidak boleh hanya unggul di ilmu umum, melainkan juga unggul pada keilmuan-keilmuan keagamaan. Oleh karena itu, pengembangan prodi keagamaan menjadi kebutuhan strategis,” ujar Muttaqin.

Muttaqin juga mengapresiasi dukungan Kemenag RI atas telah terbitnya SK prodi-prodi baru jenjang S1 dan S2 di lingkungan PTM, seperti terbitnya izin S2 PAI di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan ISIMU Pacitan.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI, Sahiron, yang hadir secara daring, menyampaikan komitmennya dalam mengawal percepatan perizinan prodi keagamaan di PTM. Beliau menyoroti bahwa Muhammadiyah saat ini telah sangat sukses dan mandiri dalam mengelola pendidikan tinggi di bidang ilmu umum (seperti sains dan kedokteran), sehingga kini adalah saat yang tepat untuk kembali memperkuat pencetakan ulama.

“Tokoh-tokoh ulama semisal K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. A.R. Fachruddin perlu dimunculkan lagi di Muhammadiyah. Oleh karena itu, usulan pendirian perguruan tinggi yang komprehensif, di mana ilmu umumnya kuat dan ilmu agamanya juga kuat, akan selalu kami dukung dan proses percepatannya,” ungkap Sahiron.

Setelah arahan kebijakan, agenda dilanjutkan dengan sesi “klinik” usulan prodi yang dipandu langsung oleh Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat PTKI Kemenag RI, Rofiq Zainul Mun’im. Sesi teknis ini mengevaluasi dan memberikan pendampingan langsung terhadap usulan prodi dari berbagai kampus, termasuk dari daerah terjauh seperti pembukaan S1 PAI di STKIP Muhammadiyah Kalabahi (Alor, NTT) dan dua prodi baru (HKI dan PAI) di Universitas Muhammadiyah Sampit (Kalimantan Tengah). Berkas-berkas usulan direviu secara langsung oleh staf ahli Kemenag agar dapat segera disahkan.

Di penghujung acara, Tobroni selaku Anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah sekaligus Pembina PTKIM, memberikan arahan penutup mengenai profil ideal lulusan program studi keagamaan. Ia berpesan agar prodi-prodi yang telah mendapatkan SK dirawat dengan mengutamakan kualitas pengajaran dan kepangkatan dosen.

“Lulusan prodi keagamaan PTKIM harus menjadi ulama berkemajuan yang mampu menjawab tantangan zaman, memiliki jiwa leadership, entrepreneurship, serta penguasaan Teknologi Informasi,” tegasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply