WARTAPTM.ID, JAKARTA — Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) baru saja melaksanakan rapat koordinasi yang berlangsung pada Senin (18/5/2026) di Tangerang. Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) tahun 2026 menjadi momentum penting dalam merumuskan arah strategis pengembangan pendidikan tinggi Muhammadiyah di tengah dinamika global yang terus berubah.
Tidak sekadar forum silaturahmi pimpinan perguruan tinggi, kegiatan ini berkembang menjadi ruang diskusi strategis yang membahas transformasi PTMA agar lebih adaptif, progresif, dan terintegrasi dengan berbagai sektor, mulai dari industri, teknologi, hingga penguatan ekonomi umat.
Dalam forum tersebut, Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Bambang Setiaji menekankan bahwa pengelolaan perguruan tinggi tidak lagi dapat bertumpu pada pola konvensional. Menurutnya, PTMA perlu mulai membangun ekosistem yang berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi internal secara optimal.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pengamat perubahan. PTMA harus mengambil peran sebagai pelaku utama dalam membangun ekosistem pendidikan, ekonomi, dan inovasi,” tegasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang menekankan pentingnya sinergi dalam membangun PTMA berkemajuan.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah tidak dapat berjalan sendiri, melainkan harus terhubung dengan berbagai elemen dalam Persyarikatan, termasuk amal usaha, gerakan ekonomi, serta dakwah sosial.
“Kekuatan Muhammadiyah akan menemukan bentuknya ketika seluruh potensi itu terintegrasi dalam satu arah pembangunan peradaban,” ujarnya.
Forum ini juga menghadirkan berbagai gagasan konkret yang dapat menjadi akselerator kemajuan PTMA. Ketua Forum Rektor PTMA, Ma’mun Murod, memaparkan sejumlah peluang strategis, seperti pengembangan open learning, program studi berbasis kebutuhan industri, hingga penjajakan kerja sama investasi dan penguatan ekonomi produktif.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa PTMA mulai bergerak ke arah yang lebih luas, tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga terlibat dalam ekosistem industri, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Selain pembahasan program, forum ini juga menjadi ruang dialog yang lebih reflektif antar pimpinan kampus. Melalui pendekatan healing, hearing, and empowering, para rektor saling berbagi pengalaman, tantangan, serta gagasan pengembangan institusi.
Diskusi yang berlangsung intens tersebut turut membahas penguatan peran PTMA di berbagai kawasan, termasuk Indonesia Timur, serta persiapan menuju Muktamar Muhammadiyah 2027 di Medan.
Sejumlah tokoh turut memberikan pandangan strategis terkait pentingnya solidaritas dan kolaborasi antar-PTMA dalam menghadapi perubahan global yang semakin kompleks.
Forum Rektor PTMA 2026 memperlihatkan arah transformasi yang semakin jelas. Perguruan tinggi Muhammadiyah tidak lagi diposisikan semata sebagai lembaga pencetak lulusan, tetapi sebagai pusat pengembangan peradaban yang mengintegrasikan pendidikan, teknologi, ekonomi, dan nilai-nilai keislaman.
Dengan penguatan arah ini, PTMA diharapkan mampu tampil sebagai kekuatan strategis yang tidak hanya mencetak sumber daya manusia unggul, tetapi juga berkontribusi aktif dalam memajukan bangsa dan membangun peradaban yang berkemajuan.
Be the first to comment