Agung Danarto Tekankan Ideologi Muhammadiyah sebagai Penggerak Amal dan Perubahan

Agung Danarto Tekankan Ideologi Muhammadiyah sebagai Penggerak Amal dan Perubahan
Agung Danarto Tekankan Ideologi Muhammadiyah sebagai Penggerak Amal dan Perubahan.

WARTAPTM.ID, MAKASSAR — Penguatan ideologi juga menjadi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Hal ini ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, dalam forum Darul Arqam di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat (22/5).

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa ideologi Muhammadiyah tidak boleh berhenti sebagai wacana normatif atau sekadar pengetahuan tekstual. Ideologi harus dihidupkan dalam tindakan nyata yang memberi dampak bagi kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Ideologi itu bukan untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan dalam amal. Ia harus menjadi tenaga penggerak dalam kehidupan nyata,” tegasnya.

Agung menjelaskan bahwa pemahaman ideologi Muhammadiyah perlu dibangun secara utuh melalui tiga lapisan, yaitu teks, konteks, dan kontekstualisasi. Pemahaman terhadap teks menjadi fondasi, tetapi harus dilanjutkan dengan kemampuan membaca realitas serta menghadirkan solusi dalam dinamika zaman.

Ia menempatkan tauhid sebagai basis utama gerakan Muhammadiyah. Dari tauhid lahir nilai-nilai fundamental seperti kesetaraan manusia, etos kerja, penghargaan terhadap waktu, serta dorongan untuk terus melakukan pembaruan (tajdid).

“Kesetaraan, kerja keras, dan penghormatan terhadap waktu itu berangkat dari tauhid. Tauhid melahirkan energi untuk terus bergerak dan berbuat,” ujarnya.

Dalam perspektif sejarah, Agung mengingatkan bahwa kelahiran Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari kondisi umat Islam yang tertinggal akibat lemahnya penguasaan ilmu pengetahuan, praktik keagamaan yang menyimpang, serta tekanan kolonialisme. Karena itu, gerakan tajdid Muhammadiyah sejak awal diarahkan pada pemurnian akidah sekaligus pencerahan akal.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kesalehan dalam Muhammadiyah bersifat sosial. Keberagamaan tidak cukup berhenti pada dimensi personal, tetapi harus diwujudkan dalam upaya kolektif untuk menghadirkan kemaslahatan.

“Kalau ingin kebaikan, jangan sendiri. Usahakan bersama keluarga dan lingkungan, karena keselamatan itu harus diupayakan secara kolektif,” ungkapnya.

Agung juga menjelaskan konsep manusia utama (insan kamil) dalam perspektif Muhammadiyah. Berbeda dengan pandangan yang cenderung menjauh dari kehidupan dunia, Muhammadiyah justru mendorong keterlibatan aktif di tengah masyarakat dengan tetap berpegang pada nilai tauhid.

Menurutnya, warga Muhammadiyah boleh memiliki orientasi duniawi seperti keluarga, harta, dan karier. Namun, semua itu harus diarahkan untuk kemaslahatan umat, seperti membangun pendidikan, memakmurkan masjid, dan membantu kaum lemah.

Dalam konteks kebangsaan, ia kembali menegaskan posisi Muhammadiyah yang menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, yaitu hasil konsensus nasional yang harus diisi dengan kontribusi nyata.

“NKRI adalah hasil kesepakatan bersama. Tugas kita adalah mengisinya dengan keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan,” jelasnya.

Namun demikian, sikap tersebut tidak berarti pasif. Muhammadiyah tetap memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan kritik konstruktif terhadap berbagai ketimpangan, sekaligus menghadirkan solusi melalui keterlibatan di ruang-ruang strategis.

Pada bagian akhir, Agung menekankan pentingnya organisasi sebagai instrumen perjuangan. Muhammadiyah bukan hanya gerakan pemikiran, tetapi juga sistem yang memiliki aturan, kepemimpinan, dan mekanisme kolektif yang harus dijalankan secara disiplin.

“Organisasi adalah alat perjuangan terbaik. Karena itu, keputusan yang dihasilkan melalui mekanisme kolektif harus dijaga dan dilaksanakan bersama,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Kepribadian Muhammadiyah harus tercermin dalam sikap terbuka, memperluas persaudaraan, menjunjung ukhuwah, serta tetap teguh pada prinsip dengan cara yang bijaksana.

Dengan demikian, ideologi Muhammadiyah tidak hanya menjadi pedoman berpikir, tetapi juga kompas tindakan—menggerakkan warga untuk bertauhid, berilmu, tertib berorganisasi, serta aktif membangun masyarakat dan bangsa secara berkeadaban.

Be the first to comment

Leave a Reply