WARTAPTM.ID, BERLIN — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk Muhammadiyah Advisory for German Migration Access (MAGMA). Program ini didukung pendanaan dari Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), lembaga kerja sama pembangunan milik pemerintah Jerman.
Peluncuran MAGMA dilaksanakan melalui webinar pada Senin (25/5) yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.
MAGMA dirancang untuk membangun ekosistem migrasi kerja yang adil, aman, dan berkelanjutan bagi tenaga kerja terampil Indonesia yang ingin berkarier di Jerman dan kawasan Eropa.
Peluncuran ini berangkat dari realitas demografi global yang kontras. Jerman menghadapi krisis tenaga kerja akibat penuaan penduduk (aging society), sementara Indonesia tengah menikmati bonus demografi dengan dominasi usia produktif.
Principal Advisor GIZ Indonesia, McDonald Anwar, menekankan pentingnya momentum tersebut.
“Usia produktif di Indonesia akan menjadi mayoritas hingga 2030 atau 2035. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi berkah. Namun jika tidak, justru bisa menjadi masalah,” ujarnya.
Ia juga menilai tenaga kerja Indonesia memiliki keunggulan kompetitif di pasar global.
“Pekerja Indonesia dikenal loyal, ramah, dan memiliki etos kerja yang baik. Jika dikombinasikan dengan kemampuan bahasa Jerman minimal level B1 atau B2, peluang untuk bekerja di Jerman sangat terbuka,” tambahnya.
Tiga Pilar Program MAGMA
Manajer Proyek MAGMA, Pelita Oktorina, menjelaskan bahwa program ini difokuskan untuk menjembatani kesenjangan informasi, kemampuan bahasa, serta kesiapan budaya bagi calon pekerja migran.
“Tujuan utama kami adalah membangun jalur migrasi yang adil, aman, resmi, dan bermartabat bagi tenaga kerja terampil Indonesia,” tegasnya.
MAGMA mengusung tiga pilar utama; Edukasi jalur migrasi aman melalui seminar dan webinar, Pelatihan soft skill dan kompetensi lintas budaya, kemudian sebagai Pusat informasi digital yang dapat diakses selama 24 jam.
Seluruh layanan tersebut diberikan secara gratis kepada peserta. “Semua program ini tidak dipungut biaya karena didukung penuh oleh pemerintah Jerman melalui GIZ,” jelas Pelita.
Dalam kesempatan yang sama, Atase Kepolisian KBRI Berlin, Sofyan Arif, mengingatkan potensi kejahatan perdagangan orang (TPPO) dalam proses migrasi tenaga kerja.
“Banyak kasus eksploitasi berawal dari janji-janji yang hanya menampilkan sisi baik tanpa persiapan yang memadai,” ungkapnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk memastikan legalitas proses migrasi.
“Berangkatlah melalui jalur yang benar, dengan informasi valid, dokumen sah, dan jaringan bantuan yang jelas,” tegasnya.
Duta Besar RI untuk Jerman, Abdul Kadir Jailani, menyambut positif inisiatif ini sebagai bagian dari diplomasi ekonomi dan penguatan tenaga kerja global Indonesia.
“Peluang ini akan membawa manfaat jika dijalankan melalui jalur yang adil, aman, dan teratur,” ujarnya.
Sementara itu, Minister Konselor Fungsi Ekonomi KBRI Berlin, Noam Lazuardi, menegaskan perubahan paradigma migrasi tenaga kerja.
“Ini bukan lagi brain drain, tetapi brain circulation, di mana terjadi transfer pengetahuan yang nantinya bermanfaat bagi Indonesia,” jelasnya.
Sebagai proyek percontohan, MAGMA akan dijalankan pada 2026–2027 di tujuh kota di Indonesia. Program ini diharapkan mampu mempersiapkan generasi muda Indonesia agar kompetitif secara global sekaligus terlindungi secara hukum di negara tujuan.
Be the first to comment