Forum Akademik Umsida Bahas Agenda Riset Nasional

Forum Akademik Umsida Bahas Agenda Riset Nasional

WARTAPTM.ID, SIDOARJO – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus mendorong penguatan budaya riset dan inovasi melalui penyelenggaraan Forum Akademik Pemaparan Agenda Riset Nasional. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria yang memberikan wawasan strategis terkait arah kebijakan riset nasional, Jumat (10/7/2026).

Forum yang berlangsung di Ruang Pleno Kampus 1 Umsida ini diikuti oleh dosen dan laboran sebagai upaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Rektor Umsida, Hidayatulloh, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BRIN serta menekankan pentingnya forum ini sebagai ruang diskusi akademik.

“Melalui kegiatan ini, kita dapat berdiskusi bersama mengenai arah pengembangan riset dan inovasi yang perlu kita lakukan di Umsida,” ujarnya.

Ia juga mendorong seluruh dosen untuk memanfaatkan kesempatan tersebut secara optimal agar gagasan yang diperoleh dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas penelitian di lingkungan kampus.

Dalam pemaparannya, Arif Satria menegaskan bahwa perubahan global menuntut respons melalui penguatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Indonesia, menurutnya, memiliki modal besar berupa sumber daya alam yang melimpah serta bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada 2030.

“Potensi tersebut harus diimbangi dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan,” jelasnya.

Ia juga menguraikan empat karakter manusia dalam menghadapi perubahan, yakni sebagai pemimpin, pengikut, penonton, dan penentang perubahan. Perspektif ini menjadi refleksi penting bagi sivitas akademika dalam menentukan peran strategis di era transformasi.

Selain membahas Revolusi Industri 4.0, Arif menyoroti pergeseran menuju konsep Society 5.0 yang menempatkan teknologi berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan.

Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, hingga pusat data memang memberikan kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan baru seperti isu kesehatan mental, kebutuhan energi, dan dampak lingkungan.

“Teknologi tetap penting, tetapi humanity dan sustainability menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu sosial, psikologi, hingga konservasi, akan semakin dibutuhkan untuk menjawab kompleksitas tantangan global.

Lebih lanjut, Arif menegaskan bahwa tidak ada negara maju tanpa kekuatan riset dan pengembangan (R&D). Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem riset, memperkuat kolaborasi dengan industri, serta menghadirkan inovasi yang solutif.

“Teknologi hanya bisa berkembang apabila ditopang oleh riset yang kuat,” tegasnya.

Ia juga mendorong dosen untuk membangun budaya akademik yang berorientasi pada penelitian dan publikasi sebagai bagian dari panggilan profesional.

“Dosen yang hebat adalah yang mampu menginspirasi. Itu yang tidak bisa digantikan oleh AI,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya, ia mengajak seluruh peserta untuk tetap optimis dalam membangun masa depan bangsa melalui riset dan inovasi.

“Ability may take you to the top, but it takes character to keep you there,” pungkasnya.

Melalui forum ini, Umsida menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas riset, mendorong inovasi berkelanjutan, serta berkontribusi dalam pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan.

Be the first to comment

Leave a Reply