PTMA adalah Tulang Punggung Kaderisasi dan Penggerak Ideologi Muhammadiyah

PTMA adalah Tulang Punggung Kaderisasi dan Penggerak Ideologi Muhammadiyah

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) kini telah bertransformasi menjadi pusat persemaian kader utama bagi persyarikatan. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi materi pada Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi rektor dan wakil rektor PTMA, pada Senin (13/7/2026).

Dalam paparannya, Bachtiar menjelaskan bahwa pertemuan para pimpinan PTMA bukan sekadar forum transfer pengetahuan kognitif, melainkan upaya strategis untuk menyamakan frekuensi gerakan.

“Pentingnya bermuhammadiyah adalah bertemunya kita ide, gagasan, pengetahuan, wawasan antara satu dengan yang lain, didialogkan, dikoneksikan sehingga kita punya gelombang yang sama ketika melakukan gerakan dakwah,” ujarnya.

Menurut Bachtiar, penguatan ideologi di lingkungan kampus merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah PTMA tidak hanya diukur dari capaian fisik dan pemeringkatan, tetapi juga dari kedalaman internalisasi nilai-nilai Muhammadiyah.

“Ideologisasi itu mandatori utama Muhammadiyah yang memang harus dilakukan, tidak hanya sekali tapi harus kontinue. Capaian fisik, finansial, dan ranking harus diiringi dengan kemajuan dalam konteks ideologisasi agar gerakan kita tidak hampa makna,” tegasnya.

Ia memaparkan data menarik bahwa saat ini lebih dari 60 persen pimpinan di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah merupakan kader yang tumbuh dari amal usaha, terutama dari sektor perguruan tinggi. Hal ini menempatkan PTMA sebagai basis kaderisasi yang paling agresif di tengah keterbatasan suplai kader dari organisasi otonom tradisional.

“Amal usaha adalah basis kaderisasi. Tugas pimpinan adalah memastikan dosen dan karyawan tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian dari barisan dakwah. Jika tidak kita rawat, siapa yang akan mewarisi aset besar ini di masa depan?” imbuhnya.

Lebih lanjut, Gus Bachtiar menekankan kepemimpinan yang berlandaskan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Ia mendorong para rektor untuk menerapkan konsep servant leadership atau kepemimpinan yang melayani.

“Pemimpin itu adalah amanah. Jangan sampai ada masalah lalu baper, mutung, atau mundur. Hadapi dan selesaikan masalahnya. Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan,” tuturnya.

Sebagai penutup, ia mengajak pimpinan PTMA untuk menyeimbangkan dimensi “zikir” dan “pikir”. Menurutnya, inovasi pelayanan dan kemajuan teknologi (tasdik) harus berjalan selaras dengan penguatan spiritualitas melalui pengajian dan pembinaan rutin.

“Jangan sampai kita dominan di dimensi pikir tapi lemah di dimensi zikir. Harus seimbang antara kinerja otak dengan batiniah, karena kita ingin PTMA memberikan maslahat yang menjadi amal jariah bagi kita semua,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply