WARTAPTM.ID, RIYADH — Perjalanan hidup sering kali tidak hanya tentang mengejar mimpi pribadi, tetapi juga tentang menunaikan harapan yang pernah tertunda. Itulah yang dijalani Nadia Nur Imani, alumni Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang kini berkiprah sebagai perawat di Arab Saudi.
Bagi Nadia, satu kutipan dari karakter Master Kim dalam serial Dr. Romantic menjadi pegangan hidupnya: ketika memilih bertahan, seseorang akan menemukan jalan keluar. Kalimat itu bukan sekadar dialog, melainkan kompas yang menguatkannya dalam mengambil keputusan besar—termasuk merantau jauh dari tanah air.
Perempuan asal Lampung ini tidak pernah membayangkan akan bekerja di luar negeri. Awalnya, ia hanya ingin melanjutkan cita-cita sang ibu yang dahulu ingin menjadi perawat, namun terhenti oleh keadaan. Keinginan sang ibu kemudian tumbuh menjadi motivasi bagi Nadia.
“Makanya saya mau melanjutkan keinginan ibu,” ujarnya saat dihubungi akhir Juni lalu.
Tekad sederhana itu justru mengantarkannya menempuh jalan panjang di dunia keperawatan. Selama kuliah di UMS, Nadia menemukan ketertarikan mendalam pada bidang keperawatan gawat darurat—sebuah bidang yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan ketangguhan dalam menghadapi situasi kritis.
Baginya, ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah ruang di mana setiap detik sangat berarti.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat ia menjalani Program Profesi Ners di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten.
Pada pagi Hari Raya Iduladha, suasana IGD mendadak berubah menjadi sangat sibuk. Beragam kasus datang silih berganti, mulai dari pasien tersedak daging kurban hingga kecelakaan saat proses penyembelihan.
Tenaga medis berpacu dengan waktu. Dalam situasi seperti itu, Nadia merasakan langsung makna tanggung jawab seorang perawat.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa jalan yang ia pilih adalah benar.
Membuka Jalan ke Luar Negeri
Setelah menyelesaikan pendidikan profesi pada Desember 2023, kesempatan baru datang. Sebuah agensi menawarkan peluang kerja bagi perawat Indonesia di luar negeri.
Nadia melihatnya sebagai peluang besar.
Ia mengikuti proses seleksi hingga akhirnya mendapatkan kontrak kerja di Rumah Sakit Dokter Sulaiman Al-Habib, Riyadh, pada Juni 2024.
Keputusan itu sempat menimbulkan kekhawatiran dari keluarga.
“Kok jauh sekali sampai ke Arab,” kata sang ibu.
Namun dengan keyakinan dan komunikasi yang terus dibangun, Nadia akhirnya mendapatkan restu. Ia pun berangkat bersama sejumlah alumni UMS lainnya, membawa harapan baru sekaligus tanggung jawab besar.
Bekerja di Arab Saudi menjadi pengalaman yang penuh tantangan. Nadia harus beradaptasi dengan perbedaan budaya, karakter pasien, hingga bahasa.
Ia merasakan bahwa pasien di sana cenderung lebih ekspresif dalam menyampaikan keluhan. Di sisi lain, sistem kerja di rumah sakit berjalan sangat disiplin dan profesional.
Yang paling penting, ia dituntut menjadi perawat yang mandiri.
“Harus bisa melakukan tindakan tanpa selalu bergantung pada dokter,” ungkapnya.
Proses adaptasi itu justru membentuknya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan percaya diri.
Menemukan Makna Perjalanan
Dua tahun tinggal di Riyadh memberikan banyak pelajaran berharga. Salah satu hal yang paling ia syukuri adalah kesempatan menunaikan ibadah umrah di Makkah—sebuah pengalaman spiritual yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Meski jauh dari keluarga, ia tetap menjaga kedekatan melalui komunikasi rutin.
Pada Juni 2026, kontraknya resmi diperpanjang untuk dua tahun ke depan—sebuah tanda kepercayaan sekaligus pencapaian atas dedikasinya.
“Alhamdulillah,” ucapnya.
Kisah Nadia bukan sekadar cerita tentang bekerja di luar negeri. Ini adalah kisah tentang bakti seorang anak kepada orang tua, keberanian keluar dari zona nyaman, serta keyakinan bahwa setiap perjuangan akan menemukan jalannya.
Dari Lampung menuju Riyadh, Nadia membuktikan bahwa mimpi—meski berasal dari doa orang tua—dapat terwujud dengan tekad, kesabaran, dan keberanian untuk bertahan.
Be the first to comment