WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (PMPK) Kemendikdasmen, Arif Jamali Muis, menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) memiliki peluang strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan nasional melalui sinergi yang lebih erat dengan jenjang pendidikan menengah. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), Selasa (14/7/2026).
Menurut Arif, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah bukan sekadar urusan administratif, melainkan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan. Ia menyoroti bahwa keterlibatan aktif PTMA dalam mendampingi guru-guru SMA, SMK, dan SLB dapat menjadi kunci transformasi pendidikan di lapangan.
Peluang Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi Guru
Dalam paparannya, Arif mengungkap masih adanya gap kualifikasi akademik guru yang perlu segera diintervensi. Saat ini, terdapat sekitar 7.000 guru PAUD yang telah mendaftar untuk mengikuti program peningkatan kualifikasi S1/D4 namun belum memiliki perguruan tinggi penampung. Ia mengajak PTMA yang memiliki program studi terkait untuk mengambil peran melalui model Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
“Ini peluang bagi PTMA untuk terlibat. Kami memiliki kuota beasiswa yang cukup besar, dan kami mencari institusi dengan akreditasi minimal ‘Baik Sekali’ untuk bermitra,” ujar Arif.
Selain kualifikasi akademik, Arif menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru dalam bidang-bidang prioritas masa depan, seperti pembelajaran mendalam (deep learning), penguasaan coding dan Kecerdasan Buatan (AI), serta penguatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Ia mendorong PTMA untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan inovatif, seperti “Matematika Gembira” atau bimbingan konseling yang inklusif bagi para guru.
Memutus Rantai Birokrasi dan Memperkuat Branding PTMA
Arif juga menawarkan model kerja sama yang lebih fleksibel dan taktis. Ia menyadari bahwa seringkali prosedur birokrasi seperti nota kesepahaman (MOU) yang berbelit-belit justru menghambat aksi cepat di lapangan.
“Mumpung Direkturnya punya NBM (Nomor Baku Muhammadiyah), manfaatkan saja. Kita bisa buat kerja sama yang fleksibel, yang penting dampaknya dirasakan langsung oleh guru-guru,” tegasnya.
Sinergi ini, lanjut Arif, memiliki dampak ganda bagi PTMA. Selain menjalankan fungsi pengabdian masyarakat, kedekatan PTMA dengan para guru akan memperkuat branding kampus di mata calon mahasiswa. Guru-guru yang telah merasakan manfaat pelatihan dan pendampingan dari PTMA secara alami akan menjadi “ambasador” yang merekomendasikan kampus tersebut kepada siswa-siswanya.
Repositori Mindset: Dari ‘Lulus PTN’ ke ‘Lulus PT Unggul’
Satu poin krusial yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah perlunya mengubah paradigma keberhasilan sekolah menengah. Selama ini, kualitas SMA/SMK seringkali hanya diukur dari seberapa banyak lulusannya yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Arif sepakat dengan masukan peserta agar indikator tersebut diubah menjadi “Lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi Unggul”, baik itu negeri maupun swasta seperti PTMA. Hal ini dianggap sebagai bentuk keberpihakan politik pendidikan yang adil bagi institusi swasta yang telah mencapai kualitas unggul.
“Ide ini menarik dan harus dimulai dari sekolah-sekolah Muhammadiyah sendiri. Kita tidak boleh lagi hanya bangga jika siswa masuk PTN, tapi harus bangga ketika mereka masuk ke perguruan tinggi yang memang terakreditasi unggul, termasuk PTMA kita,” pungkasnya.
Mengakhiri sesinya, Arif mengajak pimpinan PTMA untuk menjadikan kampus mereka sebagai pusat inovasi pendidikan (studio guru) yang mampu menghasilkan konten-konten pembelajaran berkualitas bagi seluruh guru di Indonesia. Dengan sinergi yang berkelanjutan, PTMA diharapkan tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga menjadi tulang punggung peningkatan mutu pendidikan menengah di tanah air.
Be the first to comment