Hilman Latief Dorong Tata Kelola Aset Terintegrasi untuk PTMA Berkelanjutan

Hilman Latief Dorong Tata Kelola Aset Terintegrasi untuk PTMA Berkelanjutan

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa masa depan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) sangat ditentukan oleh kemampuan institusi dalam membangun ketahanan keuangan dan resiliensi terhadap berbagai disrupsi. Ia mengingatkan bahwa tata kelola keuangan yang baik bukan sekadar urusan administratif, melainkan fondasi bagi keberlangsungan dakwah persyarikatan.

Hal tersebut disampaikannya dalam materi bertajuk “Pengelolaan Keuangan dan Aset Menuju PTMA Berkelanjutan” pada acara Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), Kamis (16/7/2026).

Hilman menekankan pentingnya bagi para rektor dan wakil rektor sebagai pengambil kebijakan (policy makers) untuk memahami regulasi terbaru terkait keuangan di lingkungan Muhammadiyah.

“Keuangan yang sehat akan menentukan keberlanjutan institusi, sekaligus menopang misi dakwah Muhammadiyah,” tegasnya.

Dalam paparannya, Hilman menjelaskan prinsip dasar kepemilikan aset dalam Muhammadiyah yang bersifat Incorporated Assets. Hal ini berarti seluruh harta benda, baik berupa lahan maupun bangunan yang dikelola PTMA, secara hukum merupakan milik persyarikatan Muhammadiyah.

“Secara aset kita bersifat menyatu (incorporated), namun dalam pengelolaan kita menganut asas desentralisasi. Artinya, rektor memiliki kewenangan penuh sebagai pemegang mandat tertinggi untuk mengelola institusinya, namun laporan tetap harus terkonsolidasi ke pusat,” jelas Hilman.

Ia mendorong agar PTMA untuk tetap konsisten tertib dalam melaporkan seluruh aset dan hasil audit keuangan secara berkala kepada Majelis Diktilitbang untuk memperkuat basis data organisasi.

Hilman menyoroti pentingnya resiliensi atau daya tahan kampus dalam menghadapi krisis, belajar dari pengalaman pandemi COVID-19 lalu. Ia mendorong PTMA untuk tidak hanya bergantung pada iuran mahasiswa (tuition fees), tetapi mulai berani melakukan diversifikasi sumber pendapatan.

“PTMA yang matang harus mulai memikirkan investasi selain pada pembangunan fisik. Diversifikasi bisa dilakukan melalui kerja sama industri, komersialisasi teknologi, hingga pengelolaan dana abadi (endowment fund) yang produktif,” tuturnya.

Menurutnya, ketahanan keuangan yang kuat akan menghindarkan kampus dari “kontraksi akademik” yang dapat menurunkan kualitas riset dan inovasi.

Lebih lanjut, Hilman mengingatkan bahwa di tengah berbagai disrupsi global, PTMA harus memiliki sistem keuangan yang resilien dan strategi pengelolaan aset yang berkelanjutan.

“Sinergi antara kepemimpinan yang kuat, tata kelola keuangan yang transparan, serta optimalisasi aset akan menjadi kunci strategis bagi PTMA untuk terus berkembang dan memberi manfaat bagi umat.”

Mengakhiri sesinya, Hilman mengajak seluruh pimpinan PTMA untuk memandang jabatan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan integritas tinggi, termasuk dalam kepatuhan pajak. Ia berharap PTMA dapat terus menjadi pilar ekonomi bagi ekosistem Muhammadiyah dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat dan bangsa.

Be the first to comment

Leave a Reply