Hadapi Deindustrialisasi, Muhammadiyah Didorong Perkuat Peran Ekonomi

Hadapi Deindustrialisasi, Muhammadiyah Didorong Perkuat Peran Ekonomi

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bambang Setiaji, mengajak Muhammadiyah untuk mulai mengambil peran lebih strategis sebagai kekuatan ekonomi bangsa di tengah tantangan deindustrialisasi yang kian nyata.

Menurutnya, melemahnya industri manufaktur, khususnya di sektor hulu, telah berdampak langsung pada menyempitnya lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi.

“Karena industri manufaktur hulu seperti industri besi dan farmasi menyusut, lapangan kerja bagi lulusan universitas menjadi sangat terbatas,” ujarnya, Jumat (24/7).

Kondisi tersebut, lanjutnya, tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga tantangan besar bagi dunia pendidikan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan zaman. Bambang menilai, situasi ini seharusnya menjadi momentum untuk mendorong lahirnya inovasi berbasis masyarakat, khususnya melalui peran alumni perguruan tinggi.

“Saat ini banyak persoalan sosial yang belum dapat diselesaikan oleh lembaga formal. Karena itu, kita harus menjadikan inovasi sebagai solusi,” tegasnya.

Ia mendorong terbentuknya lembaga-lembaga independen yang digagas oleh para alumni sebagai ruang aktualisasi sekaligus penciptaan lapangan kerja baru. Menurutnya, kekuatan utama Muhammadiyah terletak pada jaringan sumber daya manusia yang luas dan lintas disiplin.

“Dengan begitu, untuk menciptakan lapangan kerja hanya diperlukan modal yang minimalis saja, dan sektor pekerjaan tidak menjadi jenuh,” katanya.

Lebih lanjut, Bambang mengusulkan pembentukan tim profesional independen berbasis keahlian sebagai bentuk konkret kontribusi alumni Muhammadiyah.

“Bayangkan jika dibuat satu tim independen berisikan anak muda terbaik alumni hukum. Tim ini bisa mengelola dana pembangunan dalam skala besar dengan transparansi yang terjaga,” ujarnya.

Gagasan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas bidang sebagai strategi menghadapi kompleksitas persoalan pembangunan nasional. Mengutip pemikiran Milton Friedman, Bambang menekankan bahwa sektor swasta memiliki peran penting sebagai motor penggerak ekonomi.

“Faktanya, lebih banyak inovasi teknologi dan penemuan-penemuan baru lahir dari sektor swasta,” ungkapnya.

Dengan jumlah aparatur sipil negara yang terbatas dibandingkan total angkatan kerja, penguatan sektor swasta menjadi keniscayaan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam konteks tersebut, Bambang menyampaikan gagasan strategis bahwa Muhammadiyah memiliki peluang untuk tampil sebagai kekuatan ekonomi baru yang signifikan di Indonesia.

“Muhammadiyah sudah terbukti sangat efisien. Dengan dana ratusan miliar saja, Muhammadiyah mampu menjalankan program strategis secara berkelanjutan,” jelasnya.

Pengalaman panjang Muhammadiyah dalam mengelola amal usaha dinilai menjadi modal penting dalam membangun sistem ekonomi yang efisien, akuntabel, dan berdaya tahan. Bagi Bambang, ukuran keberhasilan Muhammadiyah ke depan tidak hanya terletak pada skala amal usaha, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

“Berdampak itu berarti berhasil membawa skala laboratorium ke skala industri. Kelak masyarakat akan mengetahui nilai efisiensi dan resiliensi yang dibawa Muhammadiyah,” pungkasnya.

Dengan potensi yang dimiliki, Bambang meyakini Muhammadiyah akan menjadi kekuatan ekonomi yang mendorong kemandirian dan kemajuan bangsa.

Be the first to comment

Leave a Reply