WARTAPTM.ID, BEKASI – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda ke-47 Program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana pada Sabtu (13/6/2026) di Auditorium Suyati. Prosesi wisuda ini menjadi momentum penting dalam fase transformasi institusi pasca alih kelola dari Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi ke bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Rektor UM Indonesia, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa wisuda kali ini bukan sekadar seremoni akademik, tetapi juga penanda arah baru pengembangan kampus yang berkemajuan.
“Wisuda ini merupakan bagian dari proses transformasi kelembagaan. Kami ingin membangun kepercayaan diri seluruh sivitas akademika sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat,” ujarnya saat memberikan sambutan, Sabtu (13/6).
Pada kesempatan tersebut, ia juga mencanangkan budaya kerja dan akademik baru bertajuk PRIME, yang merupakan akronim dari Profesional, Responsif, Inovatif, Mutu, dan Etika.
“Budaya PRIME menjadi fondasi dalam membangun kampus yang unggul. Nilai ini harus diinternalisasi oleh lulusan, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh mahasiswa,” tegasnya.
Transformasi UM Indonesia turut mendapat dukungan dari Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Bambang Setiaji. Dalam pesannya, ia mengingatkan para wisudawan agar mampu menghadapi dinamika ekonomi global dan perkembangan teknologi secara adaptif.
“Di tengah ketidakpastian ekonomi dan disrupsi teknologi, lulusan harus berani mandiri. Jangan hanya menunggu pekerjaan, tetapi ciptakan peluang,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun ekonomi kemandirian melalui wirausaha, pengembangan UMKM, maupun inovasi berbasis digital.
Perwakilan Badan Pembina Harian (BPH) UM Indonesia, Sofyan Anif, menambahkan bahwa transformasi kampus tidak berhenti pada perubahan nama, tetapi harus diikuti dengan penguatan kualitas akademik dan sumber daya manusia.
“Transformasi ini harus diiringi peningkatan mutu akademik agar UM Indonesia mampu meraih akreditasi unggul dan berdaya saing global,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Afriansyah Noor, dalam orasi ilmiahnya menyoroti pentingnya kompetensi di era digital dan kecerdasan buatan.
“Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi kompetensi nyata yang terukur dan diakui, baik secara nasional maupun internasional,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan dukungan melalui program magang nasional untuk meningkatkan kesiapan kerja lulusan.
“Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,14 triliun untuk program magang nasional guna mempercepat penyerapan tenaga kerja yang kompeten,” tambahnya.
Pada wisuda periode ke-47 ini, UM Indonesia meluluskan 370 wisudawan. Sebanyak 13 di antaranya meraih predikat cumlaude, terdiri dari lulusan program sarjana dan pascasarjana.
Penghargaan lulusan terbaik tingkat universitas diraih oleh Anisa Aulia Rahma dari Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,98.
Prosesi wisuda ditutup dengan pembacaan ikrar wisudawan sebagai komitmen untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara, serta menjaga nama baik almamater.
Melalui momentum ini, UM Indonesia menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang terus bertransformasi dalam mencetak generasi unggul, berkarakter, dan berdaya saing global.
Be the first to comment