Dosen UMJT Dorong Ekonomi Sirkular Desa melalui Inovasi Pemanfaatan Biomassa

Dosen UMJT Dorong Ekonomi Sirkular Desa melalui Inovasi Pemanfaatan Biomassa

WARTAPTM.ID, PONOROGO — Komitmen perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat kembali ditunjukkan melalui kiprah dosen Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun. Dosen Program Studi Biokewirausahaan, Muhammad Hasan Al Banna, mendorong pemanfaatan biomassa sebagai basis pengembangan ekonomi sirkular di tingkat desa.

Gagasan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah yang digelar di Balai Desa Wates, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh perangkat desa, kelompok tani, pelaku UMKM, kader pemberdayaan masyarakat, hingga karang taruna.

Dalam pemaparannya, Hasan Al Banna menekankan bahwa desa memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi sirkular. Hal ini didukung oleh melimpahnya sumber daya hayati serta limbah organik dan pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Ekonomi sirkular bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi membangun sistem yang mampu mengembalikan nilai dari setiap sumber daya sehingga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Menurutnya, perubahan paradigma menjadi kunci utama, yakni dari memandang limbah sebagai beban menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pemanfaatan rocket stove, yaitu teknologi kompor berbahan bakar biomassa yang sederhana, hemat energi, dan efisien. Teknologi ini mampu menghasilkan pembakaran lebih baik dibandingkan tungku konvensional, sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar sekaligus menekan emisi asap.

Rocket stove dinilai sangat relevan untuk masyarakat pedesaan karena dapat memanfaatkan bahan lokal seperti ranting kayu, bambu, tongkol jagung, sekam padi, hingga limbah pertanian lainnya. Dengan biaya yang relatif murah dan mudah diterapkan, teknologi ini menjadi alternatif penggunaan bahan bakar fosil yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, Hasan juga memperkenalkan penggunaan alat pengepres plastik sebagai solusi pengelolaan sampah anorganik. Melalui proses pemilahan dan pengepresan, sampah plastik dapat disimpan lebih efisien, memudahkan distribusi, serta meningkatkan nilai jual sebelum dipasarkan ke industri daur ulang.

Tidak kalah penting, ia turut mengenalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai teknologi biokonversi limbah organik. Larva BSF mampu mengurai berbagai jenis sampah organik dalam waktu singkat, sehingga secara signifikan mengurangi volume limbah.

Lebih dari itu, maggot BSF memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ikan dan ternak. Sementara residu hasil budidayanya dapat digunakan sebagai pupuk organik yang mendukung praktik pertanian berkelanjutan.

“Integrasi pengelolaan limbah organik, budidaya maggot, dan pemanfaatan biomassa merupakan bentuk nyata ekonomi sirkular di desa. Limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi menjadi sumber daya yang menghasilkan nilai tambah,” ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari teknis penggunaan rocket stove, mekanisme budidaya maggot, hingga peluang pemasaran produk hasil pengolahan limbah.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadirkan inovasi yang aplikatif. UMJT melalui peran dosennya terus mendorong transformasi desa berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Be the first to comment

Leave a Reply