Mahasiswa KKN UMY Bantu Evakuasi Warga Pascagempa M7,7 di NTT

WARTAPTM.ID, NUSA TENGGARA TIMUR — Sebanyak 61 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) turut membantu evakuasi dan penanganan awal warga setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.

Puluhan mahasiswa tersebut sedang menjalankan program KKN di dua wilayah Kabupaten Manggarai, yakni kelompok Gema Pelita Nusantara (GPN) yang terdiri atas 26 mahasiswa di Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, serta Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) yang beranggotakan 35 mahasiswa di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.

Berdasarkan laporan mahasiswa hingga Sabtu siang, tidak terdapat korban jiwa di dua lokasi penugasan tersebut. Namun, guncangan gempa memicu kepanikan warga dan menyebabkan sejumlah orang mengalami luka ringan. Kerusakan bangunan juga dilaporkan terjadi di sejumlah titik, termasuk sebuah masjid di Nanga Mbaling.

Gempa terjadi sekitar pukul 05.58 WITA. Berdasarkan informasi BMKG, gempa M7,7 tersebut berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah.

Perwakilan mahasiswa KKN UMY, Didan Oktanova Hermawan atau Awan, mengatakan sebagian warga mengalami luka akibat terjatuh saat berupaya menyelamatkan diri.

“Korban luka-luka itu kebanyakan dari ibu-ibu karena saat gempa pertama mereka panik, lalu banyak yang jatuh dan terpeleset,” ujar Awan saat dihubungi Humas UMY, Sabtu (15/8).

Mahasiswa KKN UMY Bantu Evakuasi Warga Pascagempa M7,7 di NTT
Kondisi posko putri KKN UMY Pascagempa NTT M7,7. (Foto. Humas UMY).

Menurut Awan, mahasiswa KKN UMY di lokasi penugasan dalam kondisi aman. Saat terjadi gempa susulan, mahasiswa bersama warga melakukan evakuasi menuju wilayah yang lebih tinggi.

“Kondisi kelompok kami, alhamdulillah, aman. Terakhir saat gempa susulan ketiga, teman-teman sudah menyiapkan seluruh barang penting, lalu bersama-sama pergi ke bukit,” ujarnya.

Mahasiswa dari kelompok GPN dan PENA turut memberikan pertolongan pertama kepada warga yang mengalami luka. Penanganan dilakukan menggunakan perlengkapan P3K yang dibawa masing-masing kelompok.

Kesiapan tersebut didukung pembekalan kegawatdaruratan yang diberikan kampus serta keberadaan divisi kesehatan di masing-masing kelompok KKN.

Selain memberikan pertolongan awal, mahasiswa juga membantu memenuhi kebutuhan warga di lokasi pengungsian. Stok beras yang sebelumnya disiapkan untuk kebutuhan pribadi mahasiswa digunakan untuk mendukung konsumsi bersama warga.

“Logistiknya kebetulan masih dari kami karena pemerintah setempat belum masuk,” ungkap Awan.

Kondisi tersebut berlangsung sembari perangkat desa berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan menunggu dukungan logistik dari pihak terkait.

Respons mahasiswa juga dilakukan ketika warga menghadapi potensi tsunami. Setelah gempa utama, air laut di kawasan pesisir dilaporkan surut sehingga meningkatkan kewaspadaan warga.

Kepala dusun kemudian menginstruksikan masyarakat dan mahasiswa untuk meninggalkan kawasan pantai dan menuju perbukitan.

“Kepala dusun setempat langsung menginstruksikan warga dan kami para mahasiswa untuk naik ke perbukitan begitu ancaman tsunami terdeteksi,” kata Awan.

Mahasiswa KKN UMY mengungsi ke bukit usai gempa
Mahasiswa KKN UMY mengungsi ke bukit Pascagempa M7,7. (Foto. Humas UMY).

Proses evakuasi memprioritaskan kelompok rentan. Warga dievakuasi menggunakan kendaraan bak terbuka, sedangkan mahasiswa dan warga lainnya berjalan menuju kawasan perbukitan yang dinilai lebih aman.

BMKG kemudian menyatakan peringatan dini tsunami akibat gempa tersebut telah berakhir. Meski demikian, masyarakat di wilayah terdampak tetap menghadapi proses penanganan pascabencana dan gempa susulan.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melalui Direktorat Riset dan Pengabdian terus memantau kondisi seluruh mahasiswa KKN yang berada di wilayah terdampak.

Perwakilan Direktorat Riset dan Pengabdian UMY, Al-Afik, mengatakan kampus telah berkoordinasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) untuk melakukan asesmen terhadap kondisi mahasiswa dan situasi di lokasi penugasan.

Mahasiswa juga mengumpulkan informasi mengenai titik-titik pengungsian untuk diteruskan kepada Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Data tersebut diharapkan dapat mendukung koordinasi penanganan bersama BPBD dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah terdekat.

Al-Afik menegaskan bahwa keselamatan mahasiswa menjadi pertimbangan utama dalam menentukan keberlanjutan program KKN di lokasi terdampak.

“Kalau tidak memungkinkan dari kondisi di lapangan, mahasiswa akan kami tarik. Namun, akan diasesmen terlebih dahulu apakah mereka bisa tetap menjadi bagian dari penanganan di lokasi,” jelas Al-Afik.

Hasil asesmen akan menjadi dasar keputusan kampus, termasuk kemungkinan mengalihkan peran mahasiswa untuk membantu penanganan pascabencana atau menarik mereka dari lokasi KKN.

Sementara itu, mahasiswa di lapangan masih memusatkan perhatian pada kondisi warga di titik pengungsian sambil menunggu arahan lebih lanjut dari DPL dan kampus.

“Kami masih fokus dengan kondisi di pengungsian dan menunggu arahan lebih lanjut dari DPL maupun kampus,” ujar Awan.

Be the first to comment

Leave a Reply