WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Perubahan teknologi yang berlangsung cepat menuntut perguruan tinggi tidak sekadar mengikuti perkembangan, tetapi mampu bertransformasi dan mengambil peran dalam menentukan arah perubahan. Karena itu, transformasi digital perlu dimulai dari perubahan cara berpikir seluruh sivitas akademika.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, dalam kegiatan penguatan arah pengembangan Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Jumat (14/8/2026) di Yogyakarta.
Mengangkat tema “UMLA, How Digital & Global Can You Go?”, Prof. Ahmad mengajak UMLA melihat transformasi digital sebagai proses yang lebih luas daripada sekadar penggunaan perangkat dan sistem teknologi.
“Transformasi digital tidak berhenti pada perangkat dan sistem. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh sivitas akademika memiliki cara berpikir yang siap menghadapi perubahan,” tandasnya.
Menurut Muttaqin, perguruan tinggi kini menghadapi perubahan yang dipengaruhi perkembangan kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, perubahan demografi, hingga semakin terbukanya persaingan pendidikan secara global. Situasi tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan penting bagi institusi pendidikan tinggi.
Namun, kemampuan beradaptasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi baru. Perguruan tinggi juga perlu membangun digital mindset yang memungkinkan sivitas akademika terbuka terhadap perubahan dan mampu melihat teknologi sebagai peluang untuk berkembang.
Ia menekankan sejumlah karakter yang perlu dibangun dalam menghadapi perubahan tersebut, antara lain keterbukaan terhadap perubahan, keberanian mengambil risiko, orientasi pada solusi, kemampuan membangun kolaborasi dan jejaring, serta kemauan untuk terus belajar.
“Di era perubahan seperti sekarang, kita tidak bisa hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus memiliki cara berpikir yang memungkinkan kita membaca perubahan, mengambil peluang, dan menciptakan solusi,” jelasnya.
Membangun Kampus yang Mendunia
Muttaqin juga menjelaskan, perkembangan teknologi telah membuat batas-batas fisik perguruan tinggi semakin terbuka. Digitalisasi memungkinkan kampus memperluas akses pendidikan, membangun jejaring lintas negara, hingga mengembangkan berbagai bentuk layanan pendidikan melalui platform digital.
Karena itu, upaya UMLA menuju kampus yang mendunia perlu diiringi dengan penguatan kualitas akademik, riset, inovasi, kolaborasi, publikasi, serta kualitas lulusan.
Menurutnya, reputasi global tidak dibangun hanya melalui kehadiran teknologi, tetapi melalui ekosistem akademik yang mampu menghasilkan karya, pengetahuan, dan lulusan yang memiliki daya saing.
“Globalisasi perguruan tinggi bukan hanya soal bagaimana kampus terlihat di luar negeri. Yang lebih penting adalah kualitas akademik, riset, inovasi, jejaring, dan lulusan kita mampu diakui secara lebih luas,” ujarnya.
Transformasi tersebut sekaligus menuntut perubahan peran dosen. Di tengah perkembangan AI dan kemudahan akses terhadap informasi, dosen tidak lagi cukup hanya berperan sebagai sumber pengetahuan.
Dosen dituntut hadir sebagai mentor, pembimbing, sekaligus pembentuk karakter mahasiswa. Dalam konteks UMLA, dosen perlu menjadi “sang aktor sejarah”, yakni subjek yang ikut menentukan arah perubahan dan kemajuan universitas.
“Dosen UMLA harus menjadi sang aktor sejarah. Artinya, dosen tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi menjadi bagian dari orang-orang yang menentukan perubahan itu,” tegasnya.
Islam Berkemajuan Menjadi Fondasi
Meski didorong untuk semakin digital dan global, Muttaqin mengingatkan agar transformasi UMLA tidak membuat perguruan tinggi kehilangan identitas dan nilai yang menjadi fondasinya.
Justru, perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai Islam Berkemajuan.
Dalam paparannya, nilai tauhid, Al-Qur’an dan Sunnah, ijtihad dan tajdid, wasathiyah, serta semangat rahmatan lil ‘alamin menjadi fondasi yang dapat menuntun perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan zaman.
Dengan fondasi tersebut, transformasi digital tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar efisiensi atau reputasi institusi. Lebih jauh, teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.
“Menjadi digital dan global tidak berarti kita meninggalkan identitas. Justru nilai-nilai Islam Berkemajuan harus menjadi fondasi ketika kita menghadapi perubahan yang semakin cepat,” tuturnya.
Karena itu, perjalanan UMLA menuju kampus digital dan global membutuhkan proses yang konsisten. Keterbukaan terhadap perubahan, keberanian mencoba hal baru, kemampuan berkolaborasi, orientasi pada solusi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi modal penting dalam proses tersebut.
Pada akhirnya, transformasi UMLA bukan sekadar respons terhadap disrupsi teknologi. Transformasi menjadi ikhtiar untuk membangun perguruan tinggi yang mampu membaca perubahan, mengambil peluang, sekaligus tetap berpijak pada nilai Islam Berkemajuan.
Dengan ekosistem digital yang semakin kuat dan fondasi nilai yang kokoh, UMLA diharapkan mampu meningkatkan kualitas akademik, memperluas jejaring, memperkuat reputasi, serta menghadirkan pendidikan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan global.
Be the first to comment