Mahasiswa Kristen dan Katolik Ikuti MASTA UMJT, Temukan Ruang Tumbuh di Kampus Muhammadiyah

Mahasiswa Kristen dan Katolik Ikuti MASTA UMJT, Temukan Ruang Tumbuh di Kampus Muhammadiyah

WARTAPTM.ID, MADIUN — Lima mahasiswa baru beragama Kristen dan Katolik dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti rangkaian Program UMJT Menyapa dan MASTA 2026 di Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Madiun. Kehadiran mereka menjadi bagian dari keberagaman mahasiswa pada Tahun Akademik 2026/2027.

Kelima mahasiswa tersebut tersebar di sejumlah program studi. Mereka adalah Irene Nata Wea dan Fransiskus Vian Baok dari Program Studi Administrasi Kesehatan, Benedikta Yuyun Toda dan Shallom Putri Zefanya dari Program Studi Kesejahteraan Sosial, serta Miranda Emillia dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Memasuki lingkungan perguruan tinggi menjadi pengalaman baru bagi sebagian mahasiswa tersebut. Perbedaan budaya dan latar belakang yang mereka temui di lingkungan kampus sempat menimbulkan rasa canggung.

Benedikta Yuyun Toda, yang akrab disapa Yuyun, mengaku sempat merasa tegang ketika pertama kali berinteraksi dengan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda.

“Awalnya menegangkan, sejak kecil sampai SMA belum pernah ketemu orang yang lain budaya, agama, jadi canggung,” kata Yuyun.

Namun, pengalaman mengikuti rangkaian kegiatan UMJT Menyapa, termasuk program soft skill, perlahan membuatnya lebih nyaman. Interaksi dengan mahasiswa lain membantu Yuyun beradaptasi dengan lingkungan kampus.

“Sekarang suasana sudah mulai biasa. Tidak begitu kaku seperti sebelumnya. Sudah berinteraksi dengan mahasiswa lainnya,” ujar mahasiswa asal Maumere, Flores, NTT, tersebut.

Pengalaman serupa dirasakan Fransiskus Vian Baok. Mahasiswa yang akrab disapa Fian itu mengaku sempat merasa ragu dan malu ketika pertama kali memasuki lingkungan akademik baru.

“Awalnya canggung, ragu, malu juga. Tapi sudah ketemu teman mahasiswa lainnya, bertemu dosen juga, jadi sudah mulai terbiasa,” ujarnya.

Berbeda dengan Yuyun dan Fian, Irene Nata Wea mengaku tidak terlalu merasa asing ketika mengikuti kegiatan awal perkuliahan. Pengalaman pernah berkuliah sebelumnya turut membantunya beradaptasi.

“Biasa saja. Tadi sudah bisa berinteraksi dengan berkenalan, bicara dengan mahasiswa lain,” kata Irene.

Pengalaman tersebut menunjukkan proses adaptasi mahasiswa tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama. Bagi sebagian mahasiswa, perjumpaan dengan lingkungan dan latar belakang yang berbeda membutuhkan waktu. Namun, interaksi dalam kegiatan pengenalan kampus menjadi salah satu ruang awal untuk membangun relasi antarmahasiswa.

Wakil Rektor I UMJT, Fajar Junaedi, mengatakan keberadaan mahasiswa dari berbagai latar belakang menjadi bagian dari lingkungan pembelajaran yang dikembangkan UMJT.

“UMJT membuka ruang toleransi dan keberagaman dalam pembelajaran yang adaptif. Siapapun berhak dan bisa kuliah di UMJT, kampus menjunjung tinggi toleransi,” terang Fajar.

Menurut Fajar, keberagaman mahasiswa menjadi bagian dari proses pendidikan di kampus. Interaksi antarmahasiswa dengan latar belakang yang berbeda dapat menjadi pengalaman sosial sekaligus akademik selama menjalani pendidikan tinggi.

Bagi lima mahasiswa asal NTT tersebut, MASTA 2026 menjadi salah satu langkah awal untuk mengenal lingkungan UMJT sekaligus membangun pertemanan baru. Dari rasa canggung pada pertemuan pertama, mereka mulai menemukan ruang untuk berinteraksi dan beradaptasi sebagai bagian dari komunitas akademik UMJT.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply