WARTAPTM.ID, MAKASSAR – Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menegaskan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam praktik pendidikan tinggi Muhammadiyah.
Pesan tersebut disampaikan dalam sesi materi Darul Arqam Angkatan III Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Jumat (17/4/2026), di Balai Sidang Muktamar 47 Unismuh Makassar.
Dalam paparannya, Ahmad Muttaqin menempatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) sebagai kekuatan strategis dalam lanskap pendidikan tinggi nasional. Hingga saat ini, terdapat 163 PTMA di Indonesia, dengan sejumlah di antaranya telah meraih akreditasi unggul, termasuk Unismuh Makassar.
Capaian tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya berkembang secara kuantitas, tetapi juga mampu menghadirkan kualitas yang kompetitif di tingkat nasional.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari angka kelembagaan semata, seperti jumlah kampus atau akreditasi.
“Yang lebih penting adalah memastikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan benar-benar hidup dalam sistem pendidikan,” ujarnya.
AIK sebagai Nafas Catur Dharma
Ahmad Muttaqin menekankan bahwa PTMA memiliki kekhasan dibanding perguruan tinggi lainnya, yakni menjadikan AIK sebagai bagian dari Catur Dharma, melengkapi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan demikian, penguatan nilai keislaman tidak boleh berhenti pada simbol atau identitas formal, tetapi harus terintegrasi dalam seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan.
AIK, menurutnya, perlu hadir dalam kurikulum, proses pembelajaran, riset, pengabdian, tata kelola kampus, hingga budaya akademik sehari-hari.
“Tanpa itu, pendidikan berisiko berjalan sebagai rutinitas administratif, bukan sebagai proses pembentukan insan akademik yang utuh,” tegasnya.
Dosen sebagai Integrator dan Teladan
Dalam konteks tersebut, Ahmad Muttaqin menyoroti peran strategis dosen di lingkungan PTMA. Dosen tidak hanya dituntut menguasai disiplin ilmunya, tetapi juga mampu menjadi penghubung antara ilmu dan nilai.
Ia menggambarkan sosok dosen Muhammadiyah sebagai integrator ilmu dan nilai, teladan akhlak, intelektual publik, sekaligus penggerak inovasi.
“Tanggung jawab dakwah tidak hanya pada dosen AIK. Semua dosen, di bidang apa pun, memiliki kewajiban menghadirkan nilai Islam Berkemajuan dalam praktik akademiknya,” ujarnya.
Pandangan ini menegaskan bahwa dakwah di lingkungan kampus Muhammadiyah bersifat kolektif dan lintas disiplin.
Dari Mahasiswa hingga Budaya Akademik
Ahmad Muttaqin juga mengingatkan bahwa mahasiswa di PTMA bukan sekadar peserta didik, tetapi subjek dakwah yang harus dibina secara utuh.
Karena itu, proses pendidikan harus dimaknai sebagai ruang transformasi—tidak hanya membentuk kecakapan akademik, tetapi juga karakter, integritas, dan orientasi keummatan.
Ia mengapresiasi langkah Unismuh Makassar yang dinilai konsisten memperkuat nilai AIK melalui program Darul Arqam serta pembiasaan ibadah sesuai tarjih Muhammadiyah.
Langkah tersebut dianggap penting dalam membangun kesadaran sivitas akademika bahwa kampus Muhammadiyah harus tumbuh sebagai institusi unggul tanpa kehilangan akar ideologisnya.
Di akhir paparannya, Ahmad Muttaqin menegaskan bahwa ukuran mutu PTMA tidak semata ditentukan oleh akreditasi atau reputasi akademik.
Lebih dari itu, mutu sejati terletak pada kemampuan perguruan tinggi melahirkan insan akademik yang memadukan kecakapan ilmiah, integritas moral, dan komitmen terhadap misi Islam Berkemajuan.
Be the first to comment