WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Bagi Sameh H. H. Fuqaha, menempuh studi di Yogyakarta bukan sekadar mengejar gelar akademik. Di tengah gempuran dan ketidakpastian di tanah airnya, setiap baris rumus yang ia pelajari di bangku perkuliahan adalah batu bata pertama untuk membangun kembali reruntuhan di Palestina.
Sama seperti narasi perjuangan mahasiswa pada umumnya, perjalanan Sameh dimulai dari sebuah keberanian untuk melangkah jauh. Jika banyak orang memilih universitas berdasarkan peringkat, Sameh memiliki alasan yang lebih emosional sekaligus strategis: ia mencari tempat yang tidak hanya menawarkan ilmu, tapi juga nilai-nilai yang sejalan dengan keyakinannya.
“Indonesia dikenal memiliki sistem pendidikan yang kuat, keberagaman budaya, dan dukungan yang luar biasa bagi mahasiswa internasional, terutama dari Palestina,” ujarnya berbagi cerita kepada tim redaksi.
Pilihannya jatuh pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) karena reputasi program studi yang memiliki kualitas dan komitmen kampus tersebut dalam mendukung perjuangan bangsanya.
Restu Keluarga di Tengah Situasi yang Tak Menentu
Melangkah pergi dari Palestina tentu bukan perkara mudah. Ada beban emosional yang menggelayut di pundak Sameh saat ia memutuskan untuk terbang ke Indonesia. Keluarga Sameh merasa sangat bangga, namun momen keberangkatan itu tetap saja menjadi fragmen yang mengharukan.
Jarak yang membentang ribuan kilometer antara Yogyakarta dan Palestina, ditambah situasi sulit di tanah airnya, membuat setiap perpisahan terasa lebih berat. Namun, alih-alih menahan langkahnya, keluarga Sameh justru menjadi bahan bakar utama. Mereka mendorongnya untuk terus belajar demi mencapai cita-cita yang lebih besar dari sekadar kepentingan pribadi.
Bukan Sekadar Kuliah, Tapi Belajar Membangun Kembali
Di UMY, Sameh tidak memilih jurusan yang “aman”. Ia mengambil Magister Teknik Sipil. Alasannya sangat menyentuh sekaligus visioner: bidang ini memegang peran vital dalam membangun kembali dan mengembangkan infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh Palestina di masa depan.
Ia tidak ingin sekadar membangun gedung konvensional. Fokus risetnya mencakup konstruksi berkelanjutan hingga pemanfaatan teknologi mutakhir seperti machine learning. Baginya, teknologi adalah solusi inovatif untuk tantangan masa depan negaranya.
Namun, perjalanan akademiknya di Jogja tidak selalu mulus. Layaknya perantau di wilayah baru, ia harus “meraba-raba” untuk beradaptasi dengan bahasa dan gaya mengajar yang berbeda. Beruntung, budaya akademik di UMY yang suportif dan dosen-dosen yang terbuka untuk diskusi membuatnya mampu melampaui tantangan tersebut dengan baik.
Selama menempuh kuliah Magister Teknik Sipil di UMY, Sameh mencatatkan prestasi yang gemilang dengan capaian publikasi: 11 Scopus, 3 Sinta, 2 publikasi lainnya. Capaian tersebut juga menjadikan Sameh sebagai salah satu Wisudawan Terbaik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Periode III T.A 2025/2026, pada Kamis 9 April 2026 lalu.

Beasiswa sebagai Nadi Perjuangan
Sama seperti kisah mahasiswa berprestasi yang membutuhkan sokongan untuk mengubah nasib, Sameh mengakui bahwa beasiswa Muhammadiyah adalah “nadi utama” dalam perjalanan akademiknya. Dukungan ini tidak hanya menanggung biaya kuliah dan hidup, tetapi juga mendanai aktivitas riset serta publikasi ilmiahnya.
“Dukungan mereka tidak sekadar bantuan finansial, tetapi juga memberikan peluang pertumbuhan akademik, kontribusi riset, dan kepemimpinan di masa depan,” ungkapnya. Ia pun menaruh rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak seperti Ustadz Adi Hidayat, LazisMu, dan Majelis Diktilitbang yang telah menjadi jembatan bagi mimpinya.
Menenun Masa Depan dari Yogyakarta
Situasi saat ini memang membuat kepulangan ke Palestina menjadi sesuatu yang belum memungkinkan dalam waktu dekat. Namun, Sameh menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia berencana melanjutkan perjalanan akademiknya ke jenjang S3 (PhD) untuk terus memperdalam keahliannya di bidang material inovatif.
Bagi Sameh, pendidikan adalah alat paling kuat yang dimiliki pemuda Palestina untuk membangun masa depan dan menciptakan peluang di tengah sesaknya tantangan. Di matanya, Indonesia dan Muhammadiyah bukan sekadar tempat belajar, melainkan simbol harapan yang nyata.
“Indonesia dan Muhammadiyah mewakili harapan, kesempatan, dan dukungan tulus yang memberdayakan kami untuk membangun masa depan yang lebih baik melalui pendidikan,” pungkasnya. Dari Jogja, Sameh sedang membuktikan bahwa meski negaranya tengah dirundung duka, semangat untuk membangun kembali tak akan pernah bisa diruntuhkan.
Be the first to comment