WARTAPTM.ID, BANTUL — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan bahwa kecanggihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kreatif dan menghasilkan gagasan yang autentik.
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam agenda Milad ke-5 dan Wisuda Sarjana Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu) Tahun Akademik 2026/2027 di Kampus SiberMu, Sedayu, Kabupaten Bantul, Kamis (22/10/2026).
Menurut Haedar, perkembangan AI telah memungkinkan berbagai pekerjaan intelektual, mulai dari pengolahan bahasa hingga penyusunan tulisan, diselesaikan dengan lebih cepat. Namun, kemampuan teknologi dalam mengolah informasi dan meniru pola berpikir manusia tidak serta-merta menggantikan kompleksitas imajinasi manusia dalam melahirkan gagasan orisinal.
“Namun berbeda halnya dengan penulis otentik. Ada hal yang tidak bisa dirampas gagasannya oleh Artificial Intelligence, yakni kompleksitas imajinasinya,” tegas Haedar.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam pemanfaatan teknologi. Kecepatan menghasilkan tulisan atau mengolah informasi, menurut pesan yang disampaikan Haedar, perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kedalaman gagasan.
Dalam dunia pendidikan tinggi, perkembangan AI juga menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan teknologi, tetapi turut mengembangkan kemampuan intelektual dan karakter yang mendukung penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Haedar juga menekankan pentingnya nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam pengembangan pendidikan berbasis digital. Menurutnya, kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan akhlak, keimanan, dan kesadaran spiritual.
Bagi perguruan tinggi Muhammadiyah, integrasi nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa inovasi pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada pembentukan manusia yang berkarakter.
Pesan ini relevan bagi SiberMu yang mengembangkan model pendidikan tinggi berbasis pembelajaran digital. Pemanfaatan teknologi dalam proses belajar perlu mendukung pengembangan kemampuan mahasiswa, tanpa mengabaikan orisinalitas pemikiran dan tanggung jawab dalam menghasilkan karya akademik.
Dengan demikian, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran dan pengembangan gagasan, sementara proses pendidikan tetap memberi ruang bagi mahasiswa untuk membangun pemahaman, menguji argumen, serta menghasilkan pemikiran secara mandiri.
Dalam kesempatan tersebut, Haedar turut mengapresiasi perkembangan SiberMu yang dalam lima tahun telah menjangkau lebih dari 7.000 mahasiswa. Ia menilai capaian tersebut menjadi modal bagi universitas untuk terus memperkuat pengembangan kelembagaan.
“Saya yakin, lima tahun saja sudah menghasilkan lebih dari 7.000 mahasiswa. Maka, saya yakin Sibermu bisa membangun kampus,” ujarnya.
Meski demikian, Haedar mengingatkan agar pengembangan fasilitas fisik, termasuk rencana pembangunan gedung kampus baru, tidak menghilangkan karakter SiberMu sebagai perguruan tinggi berbasis siber.
Identitas tersebut perlu tetap menjadi dasar pengembangan institusi, seiring dengan upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.
Pesan Haedar menempatkan tantangan SiberMu bukan semata-mata pada penguasaan teknologi, melainkan juga pada kemampuan menjaga kualitas pendidikan, identitas dakwah Muhammadiyah dan nilai kemanusiaan di tengah perubahan digital. Bagi pendidikan tinggi Muhammadiyah, kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan kreativitas, kemandirian berpikir, dan pembentukan karakter.

Be the first to comment