Bukan Sekadar Konsumen, Muhammadiyah Harus Jadi Lokomotif Produksi Ilmu di Asia Tenggara

Bukan Sekadar Konsumen, Muhammadiyah Harus Jadi Lokomotif Produksi Ilmu di Asia Tenggara

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Jamhari Ma’ruf, menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid memiliki tanggung jawab strategis untuk menjadi produsen ilmu pengetahuan, bukan sekadar konsumen.

Hal itu disampaikannya dalam Kajian Kamisan ke-28 bertajuk “Islam Asia Tenggara: Di mana Peran Muhammadiyah?” yang digelar secara daring, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya, kebangkitan Asia yang tengah berlangsung harus dibarengi dengan kontribusi nyata umat Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan global.

“Kebangkitan Asia sesungguhnya adalah tanggung jawab umat Islam. Pertanyaannya, apakah Islam di Asia Tenggara sudah menjadi kekuatan yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan?” ujarnya.

Dalam paparannya, Jamhari menyoroti pergeseran pusat kekuatan dunia dari Barat menuju Asia, yang ia sebut sebagai The Asian Empire. Menurutnya, momentum ini menjadi peluang besar bagi umat Islam, mengingat mayoritas penduduk Asia adalah Muslim.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak akan bermakna tanpa kontribusi nyata dalam produksi ilmu pengetahuan.

“Jika umat Islam hanya menjadi konsumen pengetahuan, maka kebangkitan Asia tidak akan membawa perubahan signifikan bagi peradaban Islam,” tegasnya.

Jamhari juga mengkritik kuat dominasi literatur Barat dalam menggambarkan Islam di Asia Tenggara. Ia menyinggung pandangan sejumlah sarjana Barat yang menyebut Islam di kawasan ini sebagai “pseudo-Islam” atau Islam yang tidak autentik.

Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut harus dilawan dengan produksi pengetahuan (production of knowledge) yang autentik dari kawasan ini. “Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada perspektif luar. Muhammadiyah harus memimpin produksi ilmu pengetahuan yang autentik dari Asia Tenggara,” ungkapnya.

Ia menilai jaringan PTMA merupakan modal besar untuk mewujudkan hal tersebut. “Muhammadiyah, dengan jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) yang masif, memiliki infrastruktur untuk membuktikan bahwa Islam Asia Tenggara adalah Islam yang berkemajuan dan mampu berdialog dengan modernitas,” ungkapnya.

Strategi Menuju Pusat Keilmuan Global

Untuk mewujudkan peran strategis tersebut, Jamhari menawarkan sejumlah langkah konkret bagi penguatan PTMA ke depan.

Pertama, pembangunan Mega Research Hub sebagai pusat riset unggulan di bidang-bidang strategis seperti biologi molekuler, kecerdasan buatan (AI), dan energi terbarukan.

Kedua, penguatan beasiswa di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) guna mencetak generasi ilmuwan unggul.

Ketiga, optimalisasi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), seperti rumah sakit dan klinik untuk dikembangkan dengan teknologi kedokteran tinggi guna mendukung kemandirian ekonomi organisasi.

“Kita harus berani melangkah lebih jauh, menjadikan kampus Muhammadiyah sebagai pusat produksi ilmu yang memberi dampak global,” tegasnya.

Melalui langkah-langkah strategis tersebut, Jamhari optimistis Muhammadiyah mampu membawa Islam Asia Tenggara menjadi rujukan peradaban dunia. Ia menegaskan bahwa wajah Islam yang harus ditampilkan adalah Islam yang moderat, saintifik, dan mencerahkan.

“Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif peradaban. Tinggal bagaimana kita konsisten mengembangkan ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai Islam berkemajuan,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply