Dosen UMSB Raih Hibah Nasional, Teliti Dampak Galodo terhadap Kelestarian Amfibi di Padang

Dosen UMSB Raih Hibah Nasional, Teliti Dampak Galodo terhadap Kelestarian Amfibi di Padang
Dosen UMSB Raih Hibah Nasional, Teliti Dampak Galodo terhadap Kelestarian Amfibi di Padang

WARTAPTM.ID, Padang — Kontribusi akademisi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dalam isu lingkungan kembali menguat. Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), Fauzan, berhasil meraih hibah penelitian nasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Penelitian yang diusung mengangkat tema strategis bertajuk Dampak Galodo terhadap Keanekaragaman Jenis dan Struktur Komunitas Amfibi di Daerah Aliran Sungai Kota Padang. Kajian ini menjadi penting di tengah meningkatnya ancaman bencana ekologis, khususnya pascaperistiwa galodo yang melanda Kota Padang pada akhir 2025.

Bencana tersebut tercatat sebagai salah satu yang terbesar, tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga berdampak serius terhadap ekosistem dan keseimbangan lingkungan.

Fauzan menjelaskan bahwa di balik kerusakan fisik akibat galodo, terdapat ancaman tersembunyi terhadap biodiversitas, terutama amfibi yang memiliki peran penting sebagai indikator kesehatan lingkungan.

“Di balik kerusakan fisik yang terlihat, terdapat ancaman serius terhadap biodiversitas, terutama amfibi. Hewan ini menjadi bioindikator karena sangat sensitif terhadap perubahan habitat,” ujarnya.

Penelitian ini tidak dilakukan secara individu. Fauzan menggandeng tim kolaboratif lintas disiplin, melibatkan dosen kehutanan UMSB, akademisi dari bidang pendidikan biologi, serta mahasiswa. Kolaborasi ini memperkuat pendekatan ilmiah dalam membaca kompleksitas dampak bencana ekologis.

Ia mengungkapkan, galodo yang terjadi di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di Kota Padang dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia, seperti pembalakan liar di kawasan hulu serta alih fungsi lahan yang masif dalam satu dekade terakhir.

Dalam kurun waktu tersebut, Kota Padang tercatat kehilangan ribuan hektare hutan, kondisi yang memperbesar risiko bencana sekaligus mengancam keberlanjutan ekosistem.

“Dalam satu dekade terakhir, Kota Padang kehilangan sekitar 3.400 hektare hutan. Ini memperparah risiko bencana sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem,” jelasnya.

Data penelitian sebelumnya pada 2023 mencatat sekitar 30 spesies amfibi di kawasan DAS Kota Padang. Namun, pascagalodo, keberadaan spesies tersebut diduga mengalami tekanan serius akibat kerusakan habitat.

“Dampak galodo diduga merusak habitat alami amfibi dan berpotensi menurunkan populasi bahkan hingga risiko kepunahan,” tambahnya.

Melalui penelitian ini, tim berupaya mengkaji secara komprehensif perubahan keanekaragaman dan struktur komunitas amfibi sebelum dan sesudah bencana. Analisis juga mencakup faktor lingkungan dominan yang memengaruhi distribusi spesies.

Fauzan menjelaskan bahwa metode yang digunakan mengombinasikan pendekatan kuantitatif melalui survei lapangan dengan teknik Visual Encounter Survey (VES) dan transek.

“Setiap individu amfibi yang ditemukan akan didokumentasikan, diidentifikasi, dan dianalisis bersama parameter lingkungan seperti suhu, kelembapan, penutupan tajuk, hingga tingkat gangguan manusia,” paparnya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan restorasi sungai dan hutan, serta strategi konservasi keanekaragaman hayati di wilayah terdampak.

Selain itu, kajian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

“Penelitian ini diharapkan tidak hanya memberi kontribusi akademik, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan,” tegas Fauzan.

Sebagai luaran, tim menargetkan publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi serta forum internasional di bidang biodiversitas. Upaya ini sekaligus menegaskan peran strategis PTMA dalam mendorong riset berbasis solusi terhadap persoalan lingkungan global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*