WARTAPTM.ID, SEMARANG — Gagasan memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat kemandirian pasien dalam mengelola hipertensi mengantarkan Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Prima Trisna Aji, meraih Juara I Lomba Abstrak yang diselenggarakan Optimal untuk Negeri.
Dalam kompetisi tersebut, Prima mengangkat inovasi SMART-HTN, sebuah konsep berbasis teknologi digital yang dikembangkan untuk mendukung self-management pasien hipertensi. Berdasarkan pengumuman penyelenggara, Prima menempati posisi pertama, disusul Anis Ervina dari Universitas La Tansa Mashiro sebagai Juara II dan Edi Murwani dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendedes sebagai Juara III.
Bagi Prima, penghargaan tersebut bukan sekadar capaian kompetisi. Ia melihat lomba sebagai ruang untuk memperluas gagasan penelitian sekaligus membuka peluang agar inovasi yang dikembangkan dapat terus dikaji dan memberi manfaat bagi pasien.
“Alhamdulillah, tentu saya sangat bersyukur. Sejak awal saya tidak memasang target harus menjadi juara. Bagi saya, ilmu mempunyai nilai ketika dibagikan, dikembangkan, dan dapat memberikan manfaat kepada orang lain,” kata Prima, Jumat (2/10/2026).
Ia menilai penghargaan tersebut justru menjadi tanggung jawab untuk terus mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang keperawatan.
Gagasan SMART-HTN berangkat dari tantangan pengelolaan penyakit kronis yang sebagian besar berlangsung di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Pasien hipertensi tidak hanya membutuhkan pengobatan saat bertemu tenaga kesehatan, tetapi juga perlu menjalankan perawatan diri secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu mencakup kepatuhan terhadap terapi, pemantauan tekanan darah, pengaturan pola makan dan aktivitas, serta kemampuan mengenali kondisi yang membutuhkan bantuan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, interaksi pasien dengan tenaga kesehatan berlangsung dalam waktu tertentu. Setelah kembali ke rumah, pasien menjalani sebagian besar proses pengelolaan penyakit secara mandiri.
“Pasien hidup dengan hipertensi selama 24 jam, sedangkan pertemuan dengan tenaga kesehatan hanya berlangsung pada waktu tertentu. Karena itu, pertanyaan penting dalam penelitian kami adalah bagaimana intervensi keperawatan tetap dapat mendukung pasien ketika mereka kembali ke rumah dan menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Prima.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan SMART-HTN. Inovasi ini dirancang dengan pendekatan yang menempatkan pasien bukan hanya sebagai penerima informasi kesehatan, tetapi sebagai pihak yang perlu memiliki kemampuan untuk mengelola kondisi kesehatannya.
Pendekatan itu membawa konsep dari patient education menuju patient empowerment. Teknologi diharapkan tidak membuat pasien bergantung pada aplikasi, tetapi membantu mereka memahami kondisi, memantau kesehatan, dan mempertahankan perilaku perawatan diri.
“Targetnya bukan membuat pasien bergantung pada aplikasi atau teknologi. Justru teknologi harus membantu pasien menjadi semakin mandiri. Pasien perlu mengetahui apa yang harus dilakukan, memahami alasan melakukannya, mampu memantau kondisinya, dan mempertahankan perilaku perawatan diri dalam jangka panjang,” jelasnya.
Menurut Prima, perkembangan digital health membuka ruang baru bagi pengelolaan penyakit kronis. Namun, teknologi kesehatan tidak cukup hanya dinilai dari kecanggihan aplikasi atau banyaknya informasi yang tersedia.
Teknologi perlu terhubung dengan kebutuhan klinis, proses keperawatan, perubahan perilaku, dan kemampuan pasien melakukan self-management. Aspek tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan SMART-HTN.
Kebaruan yang ditawarkan terletak pada upaya mengintegrasikan pendekatan digital dengan konsep nursing self-management. Teknologi ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat kesinambungan edukasi, pemantauan, keterlibatan, dan pemberdayaan pasien ketika berada di luar fasilitas pelayanan kesehatan.
“Teknologi yang kami kembangkan harus tetap berpusat pada manusia. Digitalisasi bukan berarti mengurangi peran perawat. Justru teknologi dapat memperluas jangkauan perawat dalam edukasi, monitoring, pemberdayaan, dan penguatan self-management pasien,” kata Prima.
Menurutnya, perkembangan teknologi juga menuntut perawat tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan. Tenaga keperawatan perlu terlibat dalam merancang inovasi yang berangkat dari persoalan nyata dalam praktik klinis.
Prima menegaskan, Juara I Lomba Abstrak Optimal untuk Negeri bukan menjadi akhir pengembangan SMART-HTN. Tahap selanjutnya adalah mengembangkan dan menguji gagasan tersebut secara ilmiah.
Pengujian diperlukan untuk menilai efektivitas, kemudahan penggunaan, penerimaan pasien, serta potensi penerapannya dalam pelayanan kesehatan. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti sebagai gagasan dalam kompetisi, tetapi memiliki dasar ilmiah yang memadai untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Piala dan sertifikat tentu membahagiakan, tetapi bagi seorang peneliti perjalanan tidak boleh berhenti di sana. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan gagasan tersebut teruji secara ilmiah, dapat dikembangkan, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata,” ungkap Prima.
Ia berharap penelitian tersebut tidak hanya menghasilkan penghargaan, publikasi, atau kekayaan intelektual, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap praktik keperawatan dan pengelolaan hipertensi di masyarakat.
“Bagi saya, juara adalah bonus. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang kita miliki terus hidup karena dibagikan dan bagaimana penelitian yang kita kerjakan mampu menjawab persoalan masyarakat,” pungkasnya.
Capaian SMART-HTN menunjukkan upaya pengembangan riset keperawatan yang mulai mempertemukan praktik klinis dengan pemanfaatan teknologi digital. Dalam konteks pengelolaan penyakit kronis, pendekatan tersebut menempatkan teknologi bukan sebagai pengganti tenaga kesehatan, melainkan sebagai sarana untuk memperluas dukungan kepada pasien agar semakin mampu mengambil peran dalam merawat dirinya.

Be the first to comment