KKN MAs 2026: Ikhtiar Kolektif PTMA Menguatkan Desa Berkelanjutan

KKN MAs 2026 Ikhtiar Kolektif PTMA Menguatkan Desa Berkelanjutan

WARTAPTM.ID, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus berdampak melalui penerjunan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026. Sebanyak 4.134 mahasiswa diberangkatkan untuk menjalankan pengabdian di berbagai wilayah, mulai dari desa-desa hingga luar negeri.

Dari berbagai skema yang dijalankan, KKN Muhammadiyah ‘Aisyiyah (MAs) menjadi program kolaboratif paling strategis. Sebanyak 1.707 mahasiswa dari 58 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia terlibat dalam gerakan pengabdian lintas kampus tersebut.

Mengusung tema “Penguatan Masyarakat Desa yang Berkelanjutan melalui Pemberdayaan SDM dan Potensi Lokal”, KKN MAs menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing lapangan, serta masyarakat dalam membangun desa berbasis potensi yang dimiliki.

Pelepasan peserta dilaksanakan di Dome UMM pada Selasa (28/7/2026) dan menjadi titik awal perjalanan pengabdian mahasiswa selama satu bulan hingga 31 Agustus 2026 di wilayah Malang.

Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa KKN bukan sekadar agenda akademik, tetapi proses pembelajaran sosial yang utuh.

“Program ini pada prinsipnya adalah upaya mewujudkan gerakan nyata yang sistematis dan holistik agar kelak terbentuk pribadi berkarakter tangguh yang mampu memberi solusi bagi kemajuan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, KKN juga menjadi bagian dari implementasi tiga pilar utama UMM, yakni Excellence Solution Service, Industrial Partnership, dan Talent Incubator, yang menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang solutif dan inovatif.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, menekankan bahwa fokus utama KKN MAs 2026 terletak pada persoalan riil masyarakat, terutama ekonomi, pendidikan, dan digitalisasi.

Menurutnya, desa sejatinya memiliki potensi ekonomi yang besar, namun sering kali belum tergarap secara optimal.

“Masalah ekonomi, mungkin masyarakat desa kita punya potensi yang cukup besar—potensi alamnya, sawahnya, ladangnya. Tetapi sering kali potensi itu luput dari perhatian,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kehadiran mahasiswa bukan untuk menggurui, melainkan untuk berdialog dan menyelami kehidupan masyarakat.

“Di situlah kita perlu hadir, bukan untuk mengajari, tetapi bagaimana kita berdiskusi, menyelami kehidupan mereka,” tegasnya.

Selain itu, Irwan juga menyoroti pentingnya literasi keuangan di masyarakat desa. Ia menilai bahwa persoalan bukan hanya pada pendapatan, tetapi pada pengelolaannya.

“Ini persoalan bagaimana mengelola keuangan, sehingga hasil panen bisa berdampak pada keberlanjutan ekonomi mereka,” lanjutnya.

KKN MAs tidak hanya menitikberatkan pada pelaksanaan program, tetapi juga pada dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pesan Irwan Akib bahwa keberhasilan pengabdian tidak diukur dari laporan kegiatan.

“Ukuran keberhasilan pengabdian bukan terletak pada tebalnya laporan, tetapi sejauh mana kehadiran mahasiswa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply