Karhutla Kalimantan Berulang, Dosen Unmuh Jember Dorong Pencegahan Sebelum Api Muncul

Karhutla Kalimantan Berulang, Dosen Unmuh Jember Dorong Pencegahan Sebelum Api Muncul

WARTAPTM.ID, JEMBER – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dinilai perlu ditangani dengan pendekatan pencegahan, bukan hanya pemadaman ketika api telah muncul. Perubahan pola penanganan diperlukan karena karhutla dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca, tata kelola lahan, degradasi lingkungan, hingga aktivitas manusia.

Kaprodi Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Dr. Ir. Latifa Mirzatika Al-Rosyid, S.T., M.T., mengatakan musim kemarau bukan satu-satunya penyebab karhutla. Kondisi kering memang meningkatkan kerentanan lingkungan, tetapi risiko kebakaran menjadi lebih besar ketika bertemu dengan persoalan tata kelola lahan dan aktivitas manusia.

“Ketika faktor ini bertemu dengan musim kering, maka risiko kebakaran akan meningkat drastis. Kalau kita hanya fokus memadamkan api setiap kali kebakaran terjadi, kita sebenarnya hanya menangani gejalanya saja,” ujar Latifa saat dihubungi, Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi lahan gambut. Pengeringan gambut dapat mengurangi kemampuan lahan menyimpan air sehingga kawasan tersebut lebih mudah terbakar, terutama ketika menghadapi periode kemarau panjang.

“Sedikit saja sumber api akan cepat memicu kebakaran, terlebih lagi adanya angin akan membuat api merambat,” jelasnya.

Selain faktor lingkungan, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara membakar, perubahan penggunaan lahan, dan lemahnya pengawasan turut meningkatkan risiko karhutla.

Karena itu, Latifa mendorong penguatan sistem peringatan dini sebelum memasuki periode kering. Menurutnya, informasi cuaca seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengetahui kondisi harian, tetapi juga menjadi dasar untuk menentukan langkah pencegahan.

“Seharusnya indikator cuaca tidak hanya digunakan untuk mengetahui apakah hari ini panas atau hujan. Indikator tersebut harus dapat menjadi peringatan dini atau early warning system,” katanya.

Langkah berikutnya adalah memetakan wilayah yang memiliki risiko tinggi, seperti kawasan dengan riwayat kebakaran, lahan gambut yang mulai mengering, serta wilayah dengan aktivitas pembukaan lahan yang tinggi.

Hasil pemetaan tersebut dapat digunakan untuk menentukan wilayah prioritas patroli, pemantauan, dan pengawasan sebelum titik api muncul.

Latifa juga menilai pencegahan karhutla perlu melibatkan masyarakat. Edukasi mengenai pengelolaan lahan tanpa pembakaran harus disertai alternatif yang dapat diterapkan secara nyata.

“Tidak bisa hanya dengan melarang pembakaran, tetapi harus diberikan solusi yang realistis dan dapat diterapkan,” ungkapnya.

Khusus di kawasan gambut, pengelolaan air menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran. Pembasahan kembali dan pemeliharaan kelembapan lahan diperlukan untuk menjaga gambut tetap memiliki ketahanan terhadap api.

“Kebakaran gambut ini tidak cukup ditangani dengan memadamkan api di permukaannya. Pembasahan dan pengelolaan air menjadi bagian yang krusial,” jelasnya.

Selain pengelolaan lingkungan, kesiapan personel, peralatan pemadaman, dan sumber air juga perlu dipastikan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Latifa menilai terdapat tiga faktor yang perlu diputus untuk mengurangi siklus karhutla, yakni lahan yang terlalu kering, munculnya sumber api, dan keterlambatan respons.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya memperkuat pencegahan di wilayah rawan sebelum musim kemarau berlangsung.

“Jangan sampai menunggu api muncul. Kebakaran harus dicegah ketika risikonya meningkat, bukan menangani ketika asap sudah menyebar,” tegasnya.

Menurut Latifa, perubahan paradigma dari pemadaman menuju pencegahan dan pengurangan risiko menjadi langkah penting untuk mengatasi karhutla secara berkelanjutan.

Be the first to comment

Leave a Reply