WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Kepemimpinan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola institusi, tetapi juga fondasi tauhid serta ketahanan jasmani dan rohani. Ketiganya dinilai penting agar pimpinan mampu menjalankan amanah Persyarikatan di tengah kompleksitas pengelolaan perguruan tinggi.
Pandangan tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK RI, Sukadiono, dalam Kajian Kamisan ke-30 yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah secara daring.
Mengangkat tema “Pemimpin PTMA yang Bertauhid, Kuat Jasmani dan Rohani”, Sukadiono membagikan pengalaman selama memimpin Universitas Muhammadiyah Surabaya pada tahun 2012–2024. Menurutnya, dinamika perguruan tinggi menuntut pimpinan memiliki kesiapan yang tidak hanya bersifat manajerial, tetapi juga kemampuan menjaga ketahanan diri.
Tauhid sebagai Fondasi Kepemimpinan
Sukadiono menempatkan tauhid sebagai fondasi utama kepemimpinan PTMA. Ia mengaitkannya dengan konsep Al-Qawiyyul Amin dalam QS Al-Qashash ayat 26 serta karakter pemimpin yang memiliki kekuatan ilmu dan fisik.
Menurutnya, ketauhidan memberikan keteguhan ketika pimpinan menghadapi berbagai persoalan organisasi. Keyakinan tersebut juga perlu diterjemahkan menjadi keberanian mengambil keputusan dan membangun terobosan untuk pengembangan institusi.
Ia mencontohkan sejumlah pengembangan besar di perguruan tinggi yang membutuhkan keberanian, kerja keras, dan keyakinan, seperti pengembangan fakultas kedokteran maupun pembangunan infrastruktur kampus.
“Kalau kita bersungguh-sungguh berjihad di Muhammadiyah dan mengelola PTMA, Allah berjanji dalam surat Al-Ankabut ayat 69 akan menunjukkan jalan-jalan kesuksesan (lanahdiyannahum subulana),” ujar Sukadiono.
Ia juga mengingatkan pimpinan agar tidak memisahkan ikhtiar kelembagaan dengan doa. Baginya, kepemimpinan dalam Persyarikatan perlu dijalankan dengan kesungguhan sekaligus kesadaran bahwa setiap amanah memiliki dimensi pertanggungjawaban spiritual.
Menjaga Jasmani untuk Menopang Amanah
Sebagai dokter spesialis, Sukadiono juga menyoroti pentingnya kebugaran fisik bagi pimpinan PTMA. Ia membedakan kondisi sehat dengan bugar.
Menurutnya, sehat berkaitan dengan kondisi tubuh yang berfungsi secara normal, sedangkan kebugaran menunjukkan kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa mudah mengalami kelelahan.
Karena itu, ia mendorong pimpinan PTMA membangun pola hidup yang mendukung kebugaran. Aktivitas fisik secara rutin, pola makan yang tidak berlebihan, pemeriksaan kesehatan, serta budaya hidup sehat di lingkungan kampus perlu menjadi perhatian.
Sukadiono menyarankan aktivitas olahraga dilakukan secara teratur, termasuk dengan membangun budaya olahraga bersama di lingkungan kampus. Ia juga mendorong perguruan tinggi memfasilitasi medical check-up bagi dosen dan tenaga kependidikan.
“Makannya apa saja boleh asal tidak berlebihan, namun utamakan minum air putih dan hindari minuman manis berlebih,” tuturnya.
Baginya, menjaga kesehatan bukan sekadar persoalan pribadi. Kondisi fisik pimpinan turut menentukan kemampuan menjalankan berbagai agenda institusi yang membutuhkan stamina dan konsistensi.
Kekuatan Rohani dan Kemampuan Mengelola Tekanan
Selain jasmani, Sukadiono menekankan pentingnya kekuatan rohani. Pimpinan PTMA, kata dia, menghadapi berbagai tekanan, mulai dari target akreditasi, pengembangan riset, pengelolaan anggaran, pembangunan institusi, hingga dinamika internal organisasi.
Kondisi tersebut membutuhkan kemampuan mengelola tekanan agar pimpinan tetap mampu mengambil keputusan secara jernih.
Ia mengingatkan pentingnya ibadah dan zikir sebagai bagian dari upaya menjaga ketenangan hati. Membaca Al-Qur’an secara rutin dan melaksanakan salat tahajud juga ia dorong sebagai ikhtiar memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.
Namun, penguatan rohani tidak berarti seluruh persoalan kepemimpinan diselesaikan secara personal. Sukadiono juga mendorong pimpinan membangun super team, mendelegasikan tugas, mengatur ritme kerja, menyediakan waktu bersama keluarga, serta memperkuat silaturahim antar-pimpinan PTMA.
Menurutnya, kemampuan membangun tim menjadi bagian penting agar pimpinan tidak bekerja seorang diri dalam menghadapi kompleksitas perguruan tinggi.
Dalam sesi diskusi, Sukadiono juga mengajak peserta merefleksikan motivasi dalam bermuhammadiyah. Ia membaginya menjadi tiga kategori, yakni motivasi biogenetis yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar, sosiogenetis yang menjadikan aktivitas sebagai sarana karier atau kepentingan tertentu, serta motivasi lillahi ta’ala.
Ia mendorong kader dan pimpinan PTMA menguatkan orientasi pengabdian kepada Persyarikatan.
“Ubah paradigma kita. Jangan bertanya apa yang didapat dari Muhammadiyah, melainkan apa yang bisa kita berikan untuk Persyarikatan,” katanya.
Menurut Sukadiono, orientasi lillahi ta’ala penting agar amanah di lingkungan Muhammadiyah tidak semata-mata dipandang sebagai pekerjaan atau jabatan, tetapi sebagai bentuk pengabdian.
Gagasan tersebut sekaligus menempatkan kepemimpinan PTMA dalam kerangka yang lebih luas. Pemimpin tidak hanya dituntut membawa institusi mencapai target akademik dan kelembagaan, tetapi juga menjaga nilai, membangun tim, merawat kesehatan diri, dan memastikan pengelolaan perguruan tinggi tetap berorientasi pada kemajuan Persyarikatan dan kemanfaatan masyarakat.

Be the first to comment