WARTAPTM.ID, BALI — Ketika memutuskan kuliah di Bali International Management University (BIM University), Putu Suartini – mahasiswi semester 5 Program Studi Kewirausahaan yang akrab dipanggil Suar – sempat memiliki pertanyaan sederhana: bagaimana rasanya menjadi mahasiswa Hindu di kampus Muhammadiyah?
Pertanyaan serupa juga pernah muncul dalam benak I Kadek Redi Sastrawan—atau yang akrab dipanggil Redi—mahasiswa semester 3 Program Studi Bisnis Digital. Sebagai mahasiswa Hindu, ia sempat membayangkan bagaimana dirinya akan menjalani kehidupan akademik dan organisasi di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Bagi Suar maupun Redi, keraguan di awal itu sangat beralasan. Sejak kecil hingga menamatkan pendidikan menengah, kehidupan sekolah keduanya dihabiskan di lingkungan yang sangat kental dengan tradisi Hindu dan kebudayaan Bali. Belasan tahun berada dalam ekosistem pendidikan yang homogen membuat ritme keseharian, kebiasaan ibadah, hingga pola interaksi mereka terbentuk dalam atmosfer yang serba familiar.
Melangkah ke BIM University menjadi momen pertama dalam hidup mereka keluar dari zona nyaman keagamaan tersebut. Memasuki kampus berlatar belakang organisasi Islam tentu menghadirkan desir asing dan kecanggungan awal. Ada kekhawatiran apakah mereka dapat membaur, atau justru merasa terasing di tengah lingkungan baru.
Kekhawatiran itu perlahan menjawab dengan sendirinya setelah keduanya menjalani kehidupan kampus. Alih-alih merasa terbatas karena perbedaan keyakinan, Suartini dan Redi justru menemukan ruang untuk belajar, berorganisasi, menjalankan ibadah, sekaligus tetap menjaga identitas dan tradisi yang dibawanya sejak kecil.
Bagi Suartini, pengalaman tersebut mulai terasa sejak awal perkuliahan. Ketika membutuhkan pembelajaran agama Hindu, kampus turut mencarikan dosen yang dapat mengajarinya.
“Sejak awal saya sengaja mencari kampus yang jurusan idaman dan sistem pengajarannya pas. Dan saya juga ingin tahu bagaimana kampus memperlakukan mahasiswanya. Dan ternyata di sini sangat nyaman—semua disetarakan, tidak ada bedanya, walau saya seorang non-Muslim,” Ungkap Suar saat bercerita kepada Tim Redaksi, Sabtu (19/9/2026).
Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa keberadaan mahasiswa dengan latar belakang agama berbeda bukan sekadar diterima secara administratif, tetapi juga mendapat ruang dalam kehidupan akademik.
Mengenal Organisasi dan Pertemanan di Kampus
Pengalaman serupa dirasakan Redi. Identitasnya sebagai mahasiswa Hindu tidak membuatnya merasa harus mengambil jarak dari aktivitas kemahasiswaan.
Ia tetap terlibat dalam dinamika organisasi dan memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan bersama mahasiswa lainnya.
“Menjadi mahasiswa Hindu di BIM University tidak membuat kami terkucilkan. Di sini, saya memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk terlibat aktif dalam agenda kemahasisawaan serta dinamika organisasi kampus,” tegas Redi.

Ruang perjumpaan itu juga terbentuk melalui hal-hal sederhana dalam keseharian. Saat Ramadan, misalnya, Suartini tetap ikut berkumpul bersama teman-teman Muslimnya untuk berburu takjil dan menunggu waktu berbuka.
“Meskipun saya tidak ikut berpuasa, rasanya seru sekali bisa ikut nimbrung mencari takjil dan buka puasa bersama. Senang rasanya punya lingkaran pertemanan lintas agama yang cair, tanpa ada yang perlu mempermasalahkan perbedaan itu secara kaku,” ujarnya.
Sebaliknya, ketika mahasiswa Hindu menyiapkan kegiatan persembahyangan, mahasiswa Muslim turut membantu persiapan. Interaksi semacam itu membuat perbedaan keyakinan hadir sebagai bagian dari kehidupan bersama, bukan penghalang untuk saling membantu.

Menjalankan Ibadah dan Menjaga Tradisi
Bagi Suar, ruang untuk menjalankan keyakinan menjadi bagian penting dari pengalaman kuliahnya.
Pada awalnya, BIM University belum memiliki ruang khusus untuk kegiatan ibadah mahasiswa Hindu. Namun, seiring kebutuhan tersebut disampaikan, kampus kemudian memfasilitasi ruang yang dapat digunakan mahasiswa Hindu.
Pengalaman itu semakin terasa ketika mahasiswa Hindu memperingati Hari Raya Saraswati, hari suci yang berkaitan dengan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dalam tradisi Hindu.
“Di BIM University, kampus akhirnya memfasilitasi ruang ibadah khusus untuk kami. Malah waktu Hari Raya Saraswati tiba, kampus ikut membantu menyediakan banten untuk persembahyangan,” kenang Suartini.
Bagi Redi, kehidupan sebagai mahasiswa di kampus Muhammadiyah juga tidak membuatnya harus meninggalkan tradisi dan identitas budaya Bali.
“Semua berjalan alami selayaknya kehidupan umat Hindu pada umumnya. Tradisi dan akar leluhur kami tidak hilang sedikit pun di sini,” katanya.
Ekspresi budaya bahkan mendapat ruang dalam kegiatan mahasiswa. Dalam agenda Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Redi bersama mahasiswa lainnya turut menampilkan budaya Bali melalui atraksi Ogoh-Ogoh dan Tari Kecak.
Bagi mereka, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bali di lingkungan kampus sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan akademik dapat berjalan berdampingan dengan keragaman budaya.
Mengenal Muhammadiyah dari Dekat
Pengalaman kuliah di BIM University juga membuat Suartini dan Redi mengenal Muhammadiyah dari sisi yang sebelumnya belum mereka ketahui.
Keterlibatan dalam sejumlah kegiatan, seperti Young Leader dan Leader Camp, mempertemukan mereka dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan memperluas pengalaman organisasi.
Redi juga pernah terlibat sebagai pemateri dalam agenda Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dari berbagai aktivitas tersebut, pemahaman mereka tentang Muhammadiyah tidak lagi sebatas organisasi yang menaungi kampus tempat mereka belajar.
“Dulu saya tidak tahu banyak. Tapi setelah ikut berbagai kegiatan dan bertemu teman-teman dari berbagai daerah, saya baru tersadar: ternyata Muhammadiyah itu sangat besar, luas, dan memiliki jaringan kampus yang tersebar di mana-mana,” ujar Suartini.
Bagi Suartini, pengalaman tersebut menjadi alasan untuk tidak melihat perbedaan sebagai sesuatu yang harus dikhawatirkan.
“Jangan pernah takut atau ragu untuk mencoba kuliah dan menimba ilmu di kampus Muhammadiyah. Di sini, kamu bisa tetap menjadi dirimu sendiri,” pesannya.

Be the first to comment