UMP dan Pemkab Banyumas Luncurkan BIC-SMART, Perkuat Pengendalian DBD Berbasis Riset

UMP dan Pemkab Banyumas Luncurkan BIC-SMART, Perkuat Pengendalian DBD Berbasis Riset

WARTAPTM.ID, PURWOKERTO — Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas meluncurkan Project BIC-SMART (Biocontrol Strategy, Modeling, and Adaptive Readiness Technologies) untuk memperkuat pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) berbasis riset, data, teknologi, dan keterlibatan masyarakat.

Program riset dan pengabdian berbasis hilirisasi inovasi tersebut diluncurkan di Banyumas, Senin (21/9/2026), sekaligus dirangkaikan dengan sesi Focus Group Discussion (FGD). BIC-SMART melibatkan unsur perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, industri, dan media dalam membangun kesiapan sosial serta tata kelola lokal menghadapi risiko DBD.

Ketua Tim Peneliti BIC-SMART sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Biologi UMP, Juli Rohmijati Wuliandari, mengatakan program tersebut dirancang agar hasil penelitian dapat terhubung dengan kebutuhan pemerintah daerah, layanan kesehatan, dan masyarakat.

“Melalui program ini, kami ingin menghubungkan penelitian dengan kebutuhan pemerintah daerah, pelayanan kesehatan, serta kehidupan masyarakat di Kabupaten Banyumas yang diwakili oleh 12 desa/kelurahan mitra,” ujar Juli.

BIC-SMART mencakup sejumlah tahapan, mulai dari penyediaan dasar pengambilan keputusan, komunikasi dan keterlibatan masyarakat, pemantauan serta peringatan dini, hingga penyusunan indeks kesiapan sosial, standar operasional prosedur, pemodelan, dan validasi.

Program tersebut ditargetkan menghasilkan sejumlah luaran, antara lain data dasar (baseline), peta risiko sosial, mekanisme umpan balik masyarakat, sistem pemantauan informasi publik, policy brief, kerangka kebijakan, kekayaan intelektual, dan publikasi ilmiah.

Peluncuran BIC-SMART juga menjadi ruang untuk memperkenalkan “Si Jentik” sebagai maskot komunikasi program. Maskot tersebut digunakan untuk mendekatkan pesan pengendalian DBD kepada masyarakat melalui media visual dan kegiatan yang lebih interaktif.

“Melalui Si Jentik dan kegiatan yang dekat dengan warga, kami berharap masyarakat mengenali program BIC-SMART dan merasa nyaman untuk bertanya. Pesan kami adalah: Kenali, Peduli, dan Terlibat,” kata Juli.

Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Hilirisasi Riset Strategis Skema Sinergi Tahun 2026 sebesar Rp1.983.900.000.

Selain dukungan pendanaan tersebut, pelaksanaan program melibatkan Pemkab Banyumas, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, tim peneliti, asisten riset, project management office (PMO), tenaga administrasi, serta kader dari desa mitra.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas Agus Anggraito, yang mewakili Bupati Banyumas, mengapresiasi inisiatif UMP dan para mitra dalam mengembangkan pendekatan pengendalian DBD berbasis penelitian.

“Upaya untuk mengembangkan pendekatan yang berbasis riset, data, dan teknologi seperti ini tentu sangat penting, terutama ketika hasilnya bisa diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat,” ujar Agus.

Menurut Agus, kondisi kasus DBD yang relatif terkendali hingga pertengahan 2026 tidak berarti kewaspadaan dapat dikurangi. Risiko penularan tetap perlu dipantau dan dikendalikan sejak dini.

“Dengue tidak hanya soal kasus yang sudah terjadi, tetapi juga tentang risiko penularan yang harus kita kenali dan kendalikan sejak awal. Di sinilah kekuatan BIC-SMART, bagaimana data, teknologi, riset, dan keterlibatan masyarakat saling terhubung,” katanya.

Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada pengembangan sistem, tetapi dapat membantu pemerintah dan masyarakat membaca risiko lebih awal serta menentukan langkah pengendalian secara tepat.

Rektor UMP, Jebul Suroso mengatakan BIC-SMART menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat melalui kolaborasi pentahelix.

“Program ini adalah bentuk nyata kolaborasi pentahelix untuk menguatkan proses pembangunan dan kontribusi nyata para ilmuwan. Riset yang dibangun ini insyaallah menjawab sebagian kebutuhan kesehatan Kabupaten Banyumas,” ujar Jebul.

Ia mengatakan UMP terus membangun kerja sama dengan pemerintah daerah sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat. Sebelumnya, UMP telah menjalankan sejumlah program di Banyumas, mulai dari penyediaan titik baca literasi, pengiriman lebih dari 1.000 relawan mengajar, skrining kesehatan mahasiswa untuk pencegahan talasemia, hingga riset penanganan tuberkulosis paru.

Melalui BIC-SMART, Jebul mengatakan riset akan dikembangkan secara berkelanjutan hingga 2030.

“Kami berharap luaran riset ini dapat menekan kasus DBD secara signifikan sehingga masyarakat Banyumas semakin sehat,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi target yang ingin dicapai melalui pengembangan program, bukan klaim bahwa BIC-SMART telah terbukti menurunkan kasus DBD.

Setelah peluncuran, kegiatan dilanjutkan dengan sesi paralel FGD. Peserta dibagi ke dalam kelompok kerja untuk membahas sejumlah aspek pengendalian DBD secara lebih operasional.

Pembahasan mencakup intervensi biokontrol, pemetaan zonasi risiko berbasis model prediksi, serta strategi pelibatan masyarakat yang inklusif di tingkat desa dan puskesmas.

Melalui pendekatan tersebut, BIC-SMART diarahkan tidak hanya menghasilkan keluaran akademik, tetapi juga menyediakan pengetahuan dan instrumen yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan di tingkat lokal.

Kolaborasi UMP dan Pemkab Banyumas ini sekaligus menunjukkan upaya menghubungkan riset perguruan tinggi dengan persoalan kesehatan masyarakat. Dengan melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, peneliti, dan masyarakat sejak tahap perencanaan, BIC-SMART ditargetkan menjadi bagian dari penguatan kesiapan daerah dalam menghadapi risiko DBD secara berbasis data dan berkelanjutan.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply