WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Peluang untuk mengembangkan diri dan menempuh pendidikan di tingkat global semakin terbuka. Namun, peluang tersebut tidak akan berarti tanpa keberanian untuk mengambil langkah dan mempersiapkan diri.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Lembaga Hubungan Kerjasama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Zain Maulana, dalam agenda Inspiring Talk yang digelar Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) bersama LHKI PP Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026).
Mengusung tema “Beyond Borders: Membuka Peluang Studi dan Pengembangan Diri di Tingkat Global”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelajar Muhammadiyah untuk mengenal berbagai peluang pengembangan diri, termasuk kesempatan studi dan beasiswa di luar negeri.
Zain yang juga Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengajak pelajar Muhammadiyah untuk memahami makna beyond borders secara lebih luas. Menurutnya, melampaui batas tidak selalu berarti pergi ke luar negeri, tetapi juga keberanian untuk menembus keterbatasan diri.
“Kita harus beyond the borders, melampaui batas bukan hanya dalam arti kita harus ke luar negeri, tapi lebih dari itu yaitu melampaui batas diri kita masing-masing, apa pun mimpi tersebut,” ujar Zain.
Ia menekankan pentingnya keberanian untuk memelihara mimpi sekaligus mengambil langkah nyata untuk mewujudkannya. Menurut Zain, banyak orang memiliki cita-cita, tetapi tidak semuanya mampu mempertahankan mimpi tersebut ketika berhadapan dengan berbagai keterbatasan dan tantangan.
“Bukan hanya bisa bermimpi, tapi rawatlah dia. Merawat mimpi itu tidak mudah karena kita akan dibenturkan dengan kondisi-kondisi yang sering kali mimpi itu akhirnya kita kubur sendiri,” ungkapnya.
Zain juga mengingatkan pelajar Muhammadiyah untuk lebih aktif memanfaatkan derasnya arus informasi pada era digital. Berbagai informasi mengenai beasiswa, pendidikan, maupun pengembangan diri kini dapat diakses dengan lebih mudah.
Ia menggambarkan kondisi tersebut melalui analogi “musim mangga”. Pada musim tersebut, pohon-pohon mangga digambarkan berbuah lebat sehingga buah tersedia di berbagai tempat. Namun, tidak semua orang berusaha mengambilnya.
“Nah di musim mangga itu semua pohon berbuah lebat, namun terkadang sebagian besar orang hanya melihat dan menunjuknya saja tanpa ada upaya nyata untuk mengambilnya. Hanya sedikit yang berusaha mengambil batu atau kayu supaya mangganya jatuh,” jelas Zain.
Analogi tersebut menggambarkan bahwa keberlimpahan informasi tidak otomatis membuat seseorang memperoleh peluang. Dibutuhkan inisiatif untuk mencari informasi, mempersiapkan diri, memenuhi persyaratan, dan berani mendaftar.
Bagi Zain, proses tersebut memang tidak selalu mudah. Pengalaman memperoleh beasiswa dan membangun karier, menurutnya, membutuhkan ketekunan serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan.
“Jalan beasiswa itu jalan berdarah-darah. Tapi nikmati saja proses itu. Dia akan terbayarkan ketika kita sudah dapat,” tuturnya.
Namun, keberhasilan menempuh pendidikan atau membangun karier di tingkat global tidak seharusnya membuat kader Muhammadiyah kehilangan keterikatan dengan persyarikatan. Zain mengingatkan pentingnya membawa kembali pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
“Tapi perlu kita ingat pesan Ahmad Dahlan bahwa sebesar apa pun kita nanti, tetap kembalilah ke Muhammadiyah,” pungkasnya.
Inspiring Talk tersebut diikuti kader IPM dari tingkat pusat hingga daerah dan sekolah. Selain Zain Maulana, kegiatan menghadirkan Brilliant Dwi Izzulhaq, Awardee LPDP Master of Educational Leadership UNSW, serta Nayla Ilma Kauna, Awardee Summer University in Rusia 2026.
Melalui kegiatan tersebut, PP IPM dan LHKI PP Muhammadiyah mendorong pelajar Muhammadiyah untuk berani memperluas wawasan, meningkatkan kapasitas diri, dan memanfaatkan peluang global. Pengembangan diri dan kesempatan studi di luar negeri tidak ditempatkan semata sebagai pencapaian personal. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi kader untuk kembali berkontribusi bagi Muhammadiyah, bangsa, dan masyarakat.
Be the first to comment