WARTAPTM.ID, SELANGOR — Dua mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Angelina Maulidiyah dan Nur Widya, mengenalkan budaya Indonesia kepada anak-anak pekerja migran Indonesia di Sanggar Bimbingan (SB) Hulu Langat, Selangor, Malaysia. Mereka menggunakan modul kebudayaan yang dikembangkan melalui program Abdimas Bima PISN untuk membantu anak-anak mengenal warisan budaya tanah asal orang tua mereka.
Penerapan modul dimulai pada 5 Oktober 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga KKN Kemitraan Internasional Angkatan 15 berakhir pada penghujung tahun. Kegiatan ini menjadi tahap awal dari rangkaian pembelajaran budaya Indonesia yang disiapkan keduanya selama bertugas di sanggar.
Modul tersebut memuat gambar, sejarah singkat, dan cara memainkan instrumen tradisional Indonesia. Materi disusun dengan bahasa sederhana dan penjelasan ringkas agar mudah dipahami anak-anak sekolah dasar.
Bagi Angelina, pengenalan budaya menjadi penting karena sebagian anak di sanggar lahir atau tumbuh di Malaysia sehingga memiliki keterbatasan akses terhadap informasi mengenai kebudayaan Indonesia.
“Anak-anak di sini keterbatasan akses informasi tentang budaya Indonesia. Lewat modul ini saya ingin mereka tahu bahwa ada banyak kekayaan budaya yang menjadi milik mereka juga,” ujar Angelina, Ahad (18/10/2026).
Modul kebudayaan tersebut berawal dari Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Materi yang dibawa ke Malaysia itu dirancang agar anak-anak tidak hanya membaca informasi, tetapi juga mengenali bentuk instrumen tradisional dan memahami cara memainkannya melalui petunjuk bertahap.
Dalam pelaksanaannya, Angelina dan Widya mengajak siswa mengamati gambar alat musik dalam modul, menjawab pertanyaan, serta menirukan gerakan tangan yang menggambarkan cara memainkannya.
Suasana kelas menjadi lebih interaktif ketika mahasiswa mulai mengajukan pertanyaan tentang alat musik tradisional. Salah seorang siswa berinisial MA dengan antusias mengangkat tangan untuk menjawab.
“Cikgu, saya tahu! Itu alat muzik dari Jawa, kan? Saya nak jawab, cikgu!” seru MA.
Antusiasme itu berlanjut hingga akhir pembelajaran. Sejumlah siswa mengungkapkan ketertarikan terhadap beragam alat musik Indonesia dan meminta mahasiswa Umsida menceritakan lebih banyak tentang kekayaan budaya tersebut.
Seorang siswa kelas 3 juga menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan. “Seronok belajar pasal budaya kita, cikgu. Saya nak tahu lagi banyak,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan ketertarikan siswa terhadap materi yang disampaikan melalui gambar, percakapan, dan aktivitas sederhana. Pembelajaran ini sekaligus memberi ruang bagi anak-anak untuk mengenal keragaman budaya Indonesia meskipun mereka tinggal jauh dari tanah air.
Angelina berharap pembelajaran budaya dapat membantu anak-anak pekerja migran tetap mengenal akar budaya keluarganya dan menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas Indonesia.
“Saya ingin mereka tidak kehilangan obor identitas budayanya. Mereka boleh tinggal di Malaysia, tetapi harus tetap bangga menjadi bagian dari Indonesia,” tutur mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut.
Melalui KKN Kemitraan Internasional, Angelina dan Widya membawa materi kebudayaan Indonesia ke lingkungan belajar anak-anak di Malaysia. Penerapan modul ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan warisan budaya melalui pembelajaran yang dekat dengan pengalaman siswa.

Be the first to comment