WARTAPTM.ID, BENGKULU — Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menegaskan bahwa keunggulan akademik saja tidak cukup bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Kampus dituntut tidak hanya unggul secara mutu, tetapi juga mampu menarik minat dan kepercayaan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) masa jabatan 2026–2030 pada Selasa (7/7/2026).
Dalam amanatnya, Muttaqin mengingatkan bahwa kepemimpinan di PTMA bukan sekadar jabatan administratif, melainkan amanah dakwah yang mengemban misi amar makruf nahi mungkar.
“Seunggul apa pun kampus, kalau tidak diminati masyarakat, maka tidak akan berjalan. Karena itu, keunggulan harus ‘laku’,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa secara kelembagaan, PTMA memiliki kekuatan yang signifikan dalam sistem pendidikan tinggi nasional. Hingga pertengahan 2026, tercatat sebanyak 165 PTMA tersebar di berbagai wilayah, dengan kontribusi sekitar 4 persen dari total perguruan tinggi swasta dan 9 persen program studi secara nasional.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan modal besar, namun harus diiringi dengan kemampuan menghadirkan nilai yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Muttaqin mengajak civitas akademika untuk melakukan transformasi cara pandang. Ia menegaskan bahwa kampus Muhammadiyah tidak boleh menjadi “menara gading” yang jauh dari realitas sosial, melainkan harus menjadi “menara air” yang memberi manfaat nyata.
“Kampus Muhammadiyah harus hadir di tengah masyarakat, memberikan solusi konkret, dan menjadi bagian dari pemecahan persoalan umat,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menekankan penguatan tiga pilar utama. Pertama, tata kelola perguruan tinggi yang unggul dan berlandaskan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Kedua, penguatan reputasi akademik melalui internasionalisasi yang berdampak serta hilirisasi riset. Ketiga, menghadirkan dampak nyata (social impact) bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai AIK tidak boleh berhenti pada tataran normatif, tetapi harus tercermin dalam budaya kerja, profesionalitas, dan praktik keseharian di lingkungan kampus.
Selain itu, Muttaqin menyoroti pentingnya hasil riset untuk tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dikembangkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Dalam konteks pengembangan Universitas Muhammadiyah Bengkulu, ia menyampaikan sejumlah target strategis, di antaranya peningkatan jumlah mahasiswa hingga 14.000 orang, penambahan guru besar, serta percepatan pembukaan Fakultas Kedokteran.
Ia juga menekankan agar internasionalisasi tidak berhenti pada seremonial kerja sama, tetapi diwujudkan dalam kolaborasi riset yang produktif dan berkelanjutan.
Mengakhiri amanatnya, Muttaqin menegaskan bahwa kepemimpinan di PTMA merupakan amanah kolektif yang harus dijalankan secara kolaboratif.
“Pelantikan ini bukan hadiah, tetapi amanah besar. Kepemimpinan harus dijalankan bersama untuk mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Be the first to comment