WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Upaya memperkuat kemandirian pembiayaan pendidikan tinggi menjadi salah satu isu strategis yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) I Program KONEKSI yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, pada Senin (6/7) di SM Tower.
Forum tersebut menegaskan pentingnya membangun budaya dana abadi (endowment fund) sebagai fondasi keberlanjutan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), di tengah ketergantungan perguruan tinggi swasta terhadap pendapatan dari uang kuliah mahasiswa.
Kajian ini dilaksanakan oleh konsorsium peneliti lintas institusi yang menggabungkan keahlian di bidang pendidikan tinggi, filantropi, hukum, dan tata kelola. Kolaborasi juga melibatkan mitra internasional, Griffith Institute for Educational Research, Griffith University, Australia, sebagai upaya mengintegrasikan praktik global dengan konteks lokal perguruan tinggi berbasis keagamaan.
Ketua Tim Peneliti KONEKSI, Amika Wardana, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam pengembangan dana abadi tidak hanya terletak pada penghimpunan dana, tetapi juga pada pembangunan sistem tata kelola yang profesional dan berkelanjutan.
“Dana abadi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Prinsipal dana dijaga, sementara hasil pengembangannya dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, riset, beasiswa, dan inovasi,” ujarnya.
Diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), LLDIKTI, hingga perguruan tinggi lintas agama, menunjukkan bahwa praktik dana abadi di Indonesia masih terus berkembang dan membutuhkan penguatan sistemik.
Sejumlah praktik baik menjadi pembelajaran penting. Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), misalnya, mengembangkan model wakaf produktif melalui badan wakaf sebagai fondasi keberlanjutan institusi.
Badan Wakaf Indonesia juga menegaskan bahwa konsep dana abadi memiliki kedekatan dengan wakaf produktif dalam tradisi Islam. Instrumen seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) dinilai dapat menjadi alternatif investasi yang aman sekaligus memberikan manfaat bagi pendidikan.
Di sisi lain, pengalaman dari lembaga pendidikan lintas agama turut memperkaya perspektif. Majelis Pendidikan Tinggi Kristen Indonesia memperkenalkan program “Sekolah Membantu Sekolah” sebagai bentuk solidaritas antarlembaga, sementara Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa menekankan pentingnya etika dan nilai spiritual dalam pengelolaan dana.
Beberapa PTMA juga mulai menunjukkan langkah konkret. Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta) telah mengembangkan dana abadi melalui kombinasi sumber, mulai dari filantropi, alumni, hingga investasi, untuk mendukung beasiswa dan pengembangan institusi.
Forum tersebut juga menekankan pentingnya tata kelola yang transparan dan akuntabel. Perwakilan KPK mengingatkan bahwa pengelolaan dana abadi harus menjunjung prinsip transparansi, akuntabilitas, independensi, serta pengendalian konflik kepentingan guna membangun kepercayaan publik.
Bagi Muhammadiyah, pengembangan dana abadi tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga merupakan bagian dari gerakan filantropi Islam yang telah lama menjadi kekuatan persyarikatan. Tradisi wakaf, zakat, infak, dan sedekah perlu terus diperkuat melalui tata kelola modern dan profesional.
Melalui Program KONEKSI, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bersama mitra nasional dan internasional berkomitmen menyusun model pengelolaan dana abadi yang aplikatif. Model tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi PTMA dan perguruan tinggi berbasis keagamaan dalam membangun kemandirian pembiayaan pendidikan tinggi di masa depan.
Be the first to comment