Majelis Diktilitbang Bahas Model Dana Abadi, Dorong Kemandirian Perguruan Tinggi Berbasis Keagamaan

Tim Riset KONEKSI Bahas Model Dana Abadi, Dorong Kemandirian Perguruan Tinggi Berbasis Keagamaan

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Tim Riset Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Focus Group Discussion (FGD) I Program KONEKSI di SM Tower Hotel & Convention Yogyakarta, Senin (6/7/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini menjadi ruang temu berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pimpinan perguruan tinggi, yayasan, badan wakaf, organisasi keagamaan, hingga regulator dan mitra internasional untuk membahas pengembangan endowment fund (dana abadi) sebagai strategi keberlanjutan pembiayaan pendidikan tinggi di Indonesia.

FGD ini merupakan bagian dari penelitian kolaboratif internasional Program Knowledge Partnership Platform Australia–Indonesia (KONEKSI) yang didukung pendanaan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia dengan fokus pada penguatan budaya filantropi dan pembiayaan pendidikan tinggi berbasis komunitas keagamaan.

Sebanyak 60 peserta dari berbagai institusi hadir, termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah ’Aisyiyah (PTMA), perguruan tinggi berbasis Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha, yayasan pendidikan, badan wakaf, organisasi keagamaan, pemerintah, serta regulator.

Kajian ini merupakan bagian dari penelitian kolaboratif Program KONEKSI yang dilaksanakan oleh tim lintas institusi, yaitu Amika Wardana (Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah) selaku ketua peneliti, didukung oleh anggota tim riset lainnya yakni Fitri Arofiati dan Lukman Hakim, Muhammad Hilali Basya dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Satria Unggul Wicaksono dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Tim Riset KONEKSI Bahas Model Dana Abadi, Dorong Kemandirian Perguruan Tinggi Berbasis Keagamaan

Tim ini juga berkolaborasi dengan Griffith Institute for Educational Research, Griffith University, Australia). Tim riset ini mengkaji praktik pengelolaan dana abadi di berbagai perguruan tinggi berbasis agama untuk menghasilkan model yang dapat memperkuat kemandirian pembiayaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah sekaligus menjadi rujukan bagi pendidikan tinggi berbasis keagamaan di Indonesia.

Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Mahfud Sholihin, dalam arahannya menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu mengembangkan sumber pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan.

Menurutnya, ketergantungan pada biaya pendidikan mahasiswa tidak lagi memadai untuk mendukung pengembangan pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Dana abadi bukan sekadar instrumen keuangan, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan perguruan tinggi. Indonesia memiliki modal sosial dan tradisi filantropi yang sangat kuat. Tantangan kita adalah mentransformasikan potensi tersebut menjadi tata kelola dana abadi yang profesional, akuntabel, dan memberikan manfaat lintas generasi,” ujar Mahfud.

Beliau juga berharap hasil penelitian KONEKSI tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi dapat melahirkan model yang aplikatif dan menjadi rujukan bagi perguruan tinggi maupun pemerintah dalam memperkuat ekosistem pembiayaan pendidikan tinggi di Indonesia.

Kajian Awal Memetakan Kondisi Dana Abadi Perguruan Tinggi

Pada sesi ilmiah, Ketua Tim Peneliti KONEKSI, Amika Wardana, memaparkan hasil pemetaan awal mengenai praktik pengelolaan dana abadi di berbagai perguruan tinggi berbasis keagamaan.

Ia menjelaskan bahwa setiap institusi memiliki pendekatan yang beragam dalam mengembangkan dana abadi, mulai dari pengelolaan melalui badan wakaf, yayasan, unit usaha, hingga lembaga khusus endowment fund.

Tim Riset KONEKSI Bahas Model Dana Abadi, Dorong Kemandirian Perguruan Tinggi Berbasis Keagamaan

“Penelitian ini tidak bertujuan mencari satu model yang berlaku untuk semua, tetapi menyusun kerangka pengelolaan dana abadi yang fleksibel, akuntabel, dan dapat diadaptasi sesuai karakter perguruan tinggi berbasis keagamaan di Indonesia,” jelas Amika.

Selanjutnya, Muhammad Hilali Basya menambahkan bahwa hampir seluruh tradisi agama di Indonesia memiliki nilai filantropi yang kuat, seperti wakaf, zakat, infak, dan sedekah, yang dapat menjadi fondasi pengembangan dana abadi pendidikan.

“Tantangannya adalah mengelola nilai-nilai tersebut menjadi sistem pembiayaan yang profesional tanpa kehilangan ruh pengabdian,” ungkap dosen FAI UMJ tersebut.

Sementara itu, Satria Unggul Wicaksono menyoroti pentingnya kepastian regulasi dalam mendukung pengembangan dana abadi.

Ia menekankan perlunya harmonisasi antara regulasi pendidikan tinggi, hukum yayasan, wakaf, investasi, dan perpajakan guna memperkuat kepercayaan publik.

“Kepercayaan publik akan tumbuh apabila didukung oleh tata kelola yang baik, kepastian regulasi, transparansi, dan akuntabilitas. Karena itu, penguatan aspek hukum menjadi salah satu fondasi utama dalam pengembangan endowment fund di Indonesia,” jelas Satria yang juga merupakan dekan FH UM Surabaya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta terkait praktik penghimpunan dana alumni, pengelolaan wakaf produktif, investasi sosial, serta tantangan regulasi yang dihadapi perguruan tinggi berbasis keagamaan.

Menutup kegiatan, Amika Wardana menyampaikan bahwa seluruh hasil diskusi akan menjadi dasar penyusunan model dana abadi perguruan tinggi berbasis keagamaan, termasuk toolkit implementasi, modul penguatan kapasitas, serta rekomendasi kebijakan.

“Diskusi ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki banyak praktik baik dalam pengelolaan filantropi pendidikan. Tantangan kita adalah merangkai pengalaman tersebut menjadi model yang dapat direplikasi, tetap menghargai keberagaman agama dan kelembagaan, serta mampu memperkuat kemandirian perguruan tinggi di masa depan,”pungkasnya.

Sebagai tindak lanjut, Tim KONEKSI akan melanjutkan penelitian melalui wawancara mendalam, studi lapangan, dan rangkaian FGD lanjutan. Upaya ini diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan ekosistem pembiayaan pendidikan tinggi yang berkelanjutan, adaptif, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Be the first to comment

Leave a Reply