Majelis Diktilitbang Gelar Leadership Training XI: Siapkan Pemimpin PTMA Unggul di Era Society 5.0

Majelis Diktilitbang Gelar Leadership Training XI Siapkan Pemimpin PTMA Unggul di Era Society 5.0
Pembukaan Leadership Training XI oleh Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rabu (19/11).

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar Leadership Training (LT) Angkatan XI sebagai bagian dari program penguatan kapasitas kepemimpinan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA). Pelatihan ini berlangsung pada 19–24 November 2025 di UMY Student Dormitory, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Program LT telah menjadi agenda rutin Majelis Diktilitbang sejak 2018 dan dirancang untuk menyiapkan pimpinan PTMA dalam menghadapi dinamika internal kampus maupun perkembangan pendidikan tinggi di tingkat nasional dan global. Tema yang diusung tahun ini adalah “Menuju PTMA Unggul, Terpercaya, dan Berdampak dalam Era Society 5.0.”

Dalam laporan pembukaan, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Samsudin, menjelaskan bahwa LT merupakan model pelatihan kepemimpinan yang terus diperbarui dari aspek kurikulum maupun metode.

Leadership Training XI - Muhammad Samsudin - Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah
Muhammad Samsudin – Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah

Ia menyampaikan bahwa penyelenggaraan LT XI diikuti oleh 40 peserta dari berbagai Perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Jumlah tersebut menambah total peserta LT sejak digelar perdana pada 2018 hingga 2024 yang mencapai 405 orang.

“Pelatihan ini diselenggarakan untuk menyiapkan pemimpin PTMA masa depan yang siap menghadapi tantangan baik di lingkungan internal kampus, Persyarikatan, nasional, maupun global,” jelas Samsudin, Rabu (19/11).

Menurutnya, setiap peserta LT diwajibkan menyusun rencana tindakan (action plan) sebagai bentuk komitmen implementasi materi pelatihan di perguruan tinggi masing-masing. Rencana aksi tersebut akan dievaluasi dalam rentang waktu tiga hingga dua belas bulan setelah pelatihan.

Melalui program ini, Majelis Diktilitbang berharap peningkatan kapasitas kepemimpinan dapat berdampak pada peningkatan mutu institusi. Hingga tahun ini, terdapat 20 PTMA yang berstatus Unggul, atau 11 persen dari seluruh Perguruan Tinggi terakreditasi Unggul di Indonesia.

“Kita harus menyiapkan strategi pengelolaan perguruan tinggi yang baik dengan berbingkai nilai-nilai Islam Muhammadiyah. Ini menjadi pekerjaan besar untuk memperkuat dakwah dan syiar Muhammadiyah melalui pendidikan tinggi,” tambahnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan arahan mengenai fungsi kepemimpinan dalam konteks perguruan tinggi Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa pemimpin memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi umum sebagai pemimpin organisasi secara menyeluruh dan fungsi khusus sebagai manajer ataupun leader.

Menurut Haedar, PTMA sebagai Amal Usaha Muhammadiyah merupakan ruang yang efektif untuk melatih kemampuan manajerial para kader. Kemampuan tersebut penting karena terkait dengan bagaimana pimpinan merancang strategi jangka panjang untuk institusi.

Leadership Trainging - Haedar Nashir - Ketua Umum PP Muhammadiyah
Haedar Nashir – Ketua Umum PP Muhammadiyah

“Manajemen strategis bukan hanya menjalankan fungsi operasional, tetapi merancang langkah-langkah ke depan. Dalam kaidah ushuliyah ada prinsip ‘taqdimul aham minal muhim’, mendahulukan yang terpenting dari yang penting,” ujar Haedar, Rabu (19/11).

Haedar menambahkan bahwa untuk membawa sebuah institusi menjadi besar dibutuhkan proses yang konsisten dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki visi sekaligus ketangguhan dalam menjalani proses perubahan.

“Yang menengah ke bawah harus berusaha menjadi besar. Untuk menjadi besar tidak bisa instan; ada proses panjang dan berat,” jelasnya.

Selain aspek manajerial, Haedar menekankan fungsi kepemimpinan yang bersifat non-teknis. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu memberikan arah, menciptakan rasa aman, sekaligus menjaga dinamika organisasi agar tidak terjebak dalam zona nyaman.

“Pemimpin memiliki fungsi ruhaniyah untuk menentukan arah dan menjadi kompas bagi organisasi. Ketika suasana sedang tidak menentu, pemimpin harus mampu menjadi penerang yang menciptakan rasa aman dan optimisme. Namun sebaliknya, ketika organisasi berada dalam zona nyaman, pemimpin perlu menghadirkan kegelisahan positif yang mendorong perubahan dan membongkar pola pikir yang sudah mapan,” jelas Haedar.

Majelis Diktilitbang menempatkan program ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun kepemimpinan yang visioner dan adaptif. Diharapkan, proses kaderisasi melalui LT dapat mempercepat percepatan mutu PTMA sehingga mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*