Peluncuran 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) menjadi momentum penting dalam penguatan ekosistem pendidikan dan layanan kesehatan Muhammadiyah. Agenda yang digelar pada Jumat, 13 Februari 2025 di UMY Student Dormitory tersebut mendapat apresiasi langsung dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Brian Yuliarto.
Dalam sambutannya, Brian menegaskan bahwa sejak awal berdiri, Muhammadiyah telah menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai bentuk ibadah sosial dan pengabdian nyata kepada umat dan bangsa. Menurutnya, kehadiran Fakultas Kedokteran (FK) dan Rumah Sakit Muhammadiyah ‘Aisyiyah (RSMA) merupakan manifestasi dari Gerakan Islam Berkemajuan yang menjawab persoalan zaman melalui ilmu, tata kelola organisasi, dan kerja kolektif.
“Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya satu, tetapi 24 PPDS yang hari ini dilaunching. Ini langkah besar,” ujarnya.
Brian mengingatkan bahwa pencapaian ini harus diiringi dengan komitmen menjaga dan meningkatkan mutu. Ia meminta agar seluruh pengelola PPDS memastikan standar akademik dan layanan klinis tetap terjaga sehingga program-program tersebut dapat menjadi rujukan nasional.
“Kualitas harus dipertahankan dan ditingkatkan. Jangan sampai ketika dievaluasi justru nilainya kurang baik,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga orientasi utama pendidikan dokter spesialis sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar ruang komersialisasi. Menurutnya, apabila tujuan utama adalah melahirkan dokter spesialis yang berkualitas dan berdedikasi, maka dampak finansial akan mengikuti sebagai konsekuensi, bukan sebagai tujuan.
“Kalau yang dikejar hanya materi, biasanya yang lain tidak dapat. Tetapi kalau niatnya menghasilkan dokter yang bermanfaat, yang mengabdi sepenuh hati, justru rezekinya akan mengikuti,” ungkapnya.
Selain penguatan akademik, Brian juga mendorong Muhammadiyah untuk membangun pusat-pusat layanan kesehatan berkelas internasional di lingkungan RSMA. Ia menilai, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi tujuan layanan kesehatan regional.
Saat ini, belanja kesehatan masyarakat Indonesia ke luar negeri masih sangat besar. Karena itu, ia mengusulkan agar RSMA mengembangkan pusat unggulan (center of excellence) secara bertahap dan terfokus, sehingga mampu menjadi rujukan pasien dalam dan luar negeri.
“Kita perlu menunjukkan bahwa kampus dan rumah sakit kita memiliki kualitas. Bukan orang Indonesia yang berobat ke luar negeri, tetapi pasien luar negeri yang datang ke rumah sakit kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, kualitas layanan medis Indonesia sejatinya tidak jauh berbeda, namun peningkatan aspek pelayanan dan manajemen menjadi kunci daya saing global.
Dalam kesempatan yang sama, Brian juga mengapresiasi kiprah dr. Corona Rintawan sebagai salah satu penggagas Emergency Medical Team Indonesia yang berhasil menjadi Tim Medis Darurat Muhamadiyah yang terverifikasi WHO pertama di Indonesia pada 19 Oktober 2025. Sosok-sosok dengan semangat pengabdian seperti itu, menurutnya, menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan kedokteran di PTMA.
“Kita butuh orang-orang yang memiliki keinginan kuat untuk memajukan dunia kedokteran dan mengabdi kepada bangsa dan negara,” ujarnya.
Peluncuran 24 PPDS ini diharapkan menjadi langkah awal bagi PTMA untuk melahirkan dokter-dokter spesialis yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan semangat ibadah dalam profesinya.
“Jadikan PPDS ini ladang amal usaha kita. Semoga langkah ini menjadi awal lahirnya dokter-dokter hebat yang penuh dedikasi dan memiliki hati yang lembut dalam mengabdi kepada masyarakat dan bangsa,” pungkas Brian. []Irv
Be the first to comment