WARTAPTM.ID, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mencatat rata-rata ketercapaian 113,3 persen dari target indikator kinerja yang telah terukur dalam Rencana Strategis (Renstra) tahun akademik 2025/2026. Capaian tersebut menjadi salah satu modal bagi UMS untuk memperkuat mutu pendidikan, riset berdampak, dan tata kelola kampus yang berkelanjutan.
Capaian itu disampaikan Rektor UMS Harun Joko Prayitno dalam Sidang Senat Terbuka memperingati Hari Jadi ke-68 UMS di Gedung KH Ahmad Dahlan Edutorium UMS, Sabtu (24/10/2026). Mengusung tema “Meneguhkan Sinergi, Menebarkan Kebermanfaatan, dan Menguatkan Peradaban”, momentum ini juga menjadi ruang evaluasi atas perkembangan universitas dan arah pengembangan ke depan.
Harun menjelaskan, Renstra UMS memuat 111 indikator kinerja. Sebanyak 109 indikator atau 98,2 persen telah memiliki data realisasi. Dari indikator yang telah terukur tersebut, 66 indikator mencapai atau melampaui target, sedangkan 15 indikator lainnya hampir mencapai target.
Di antara pilar pengembangan yang dievaluasi, Transformasi Perencanaan dan Sistem Mutu UMS melalui Integrasi Data, Evidence-Based Policy, dan Continuous Quality Improvement mencatat ketercapaian tertinggi, yakni 153,6 persen.
Sementara itu, pilar Transformasi Tata Kelola Sarana Prasarana dan Keuangan UMS menuju Universitas Modern, Mandiri, Akuntabel, dan Berkelanjutan mencatat ketercapaian 82,6 persen. Angka ini menunjukkan masih ada ruang perbaikan pada aspek tersebut.
“Mohon doanya, mudah-mudahan UMS dapat tumbuh berbasis mutu, netes-netes, berkemajuan-berkelanjutan,” ujar Harun.
Perluas Jangkauan dan Perkuat Kemandirian
Selain capaian kinerja, Harun memaparkan perkembangan jumlah mahasiswa aktif UMS yang kini melampaui 31.000 orang. Mereka berasal dari 436 kabupaten/kota di Indonesia. Sebanyak 25,8 persen mahasiswa berasal dari luar Jawa Tengah dan 10,4 persen berasal dari luar Pulau Jawa.
Menurut Harun, perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan UMS dalam memperluas jangkauan pendidikan tinggi. Ke depan, universitas akan melanjutkan pengembangan melalui sejumlah langkah strategis, mulai dari memperluas layanan dan memperkuat fondasi institusi hingga menjaga ketahanan serta meningkatkan kemandirian finansial.
UMS juga mendorong riset, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi agar semakin berdampak. Pengembangan inovasi diarahkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki peluang hilirisasi dan nilai ekonomi sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Harun menegaskan, seluruh sivitas akademika memiliki peran dalam membangun kampus yang bermutu, terjangkau, berkarakter Islami, dan memberikan manfaat nyata.
“Mari kita bersama-sama mewujudkan lulusan dari UMS yang tepat prospek. Bukan hanya bekerja, tetapi memiliki daya inovasi dan daya entrepreneur, bekerja sesuai dengan keahlian, sesuai dengan kompetensi, dan mampu menjadi pelopor perubahan di lingkungannya,” tegasnya.
Arah pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya UMS menuju 2029 untuk memperkuat tata kelola yang modern, berbasis data, akuntabel, dan unggul.
Lulusan Harus Siap Berkontribusi di Dunia Kerja
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Aisyah Endah Palupi mengapresiasi perkembangan UMS, khususnya dalam menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA).
Ia menilai orientasi pendidikan tinggi perlu melampaui kesesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Perguruan tinggi juga perlu menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi dan berkontribusi sejak memasuki dunia kerja.
“Sekarang bukan lagi link and match, tetapi plug and play. Kita mengawal para lulusan supaya terserap dan bisa langsung bekerja kepada DUDIKA,” ungkap Aisyah.
Ia juga menyebut sekitar 75 persen program studi di UMS telah meraih predikat akreditasi Unggul. Aisyah berharap capaian tersebut diikuti penguatan kualitas sumber daya manusia dan sarana prasarana secara berkelanjutan.
Dari perspektif alumni, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menyoroti tradisi intelektual sebagai salah satu kekuatan UMS. Menurutnya, perkembangan universitas turut ditopang budaya akademik yang kokoh, kepemimpinan inklusif, dan tata kelola yang terbuka.
“Perkembangan UMS yang luar biasa sampai hari ini, karena UMS salah satunya mempunyai tradisi intelektual yang kuat, yang ditopang oleh budaya akademik yang kokoh, yang didukung oleh kepemimpinan kampus yang inklusif dan tata kelola yang terbuka,” tuturnya.
Ia menilai kebebasan akademik menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan. Kampus perlu menyediakan ruang bagi beragam pemikiran dan pandangan agar dialog akademik dapat melahirkan pengetahuan serta gagasan baru.
Muhammadiyah dan Peran Kampus dalam Membangun Peradaban
Selain penguatan akademik dan tata kelola, kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan bangsa turut menjadi perhatian dalam peringatan Hari Jadi ke-68 UMS.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Irwan Meilano menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, Muhammadiyah, dan masyarakat pesisir dalam membangun peradaban biru Indonesia. Menurutnya, sumber daya laut memiliki peran strategis bagi keberlanjutan kehidupan dan ketahanan pangan.
“Peradaban biru yang berkelanjutan adalah kerja bersama, negara, kampus, persyarikatan Muhammadiyah, masyarakat pesisir,” ujarnya.
Ia mengajak berbagai pihak memperkuat kerja sama untuk mengembangkan potensi maritim Indonesia secara berkelanjutan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan UMS dan Muhammadiyah agar terus merefleksikan identitas serta kontribusinya bagi kemajuan bangsa. Menurutnya, pengembangan institusi perlu berangkat dari pemahaman terhadap karakter dan tujuan gerakan.
“Jadi UMS, Muhammadiyah itu harus selalu bertanya: ‘Kami ini siapa? Dan mau berbuat apa dengan karakter yang kami miliki?’” kata Haedar.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang berorientasi pada kemajuan dan pembangunan peradaban. Karena itu, semangat tersebut perlu menjadi landasan bagi UMS, seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), serta amal usaha Muhammadiyah dalam menjalankan perannya.
“Spirit membangun peradaban, spirit membangun kemajuan, spirit yang selalu melahirkan etos kemajuan, itulah yang membuat kita maju,” tegasnya.
Pesan tersebut menempatkan capaian institusi bukan semata-mata pada angka kinerja atau pengakuan akademik, melainkan juga pada kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Bagi UMS, tantangan berikutnya adalah menjaga mutu yang telah dibangun, memperbaiki aspek yang belum mencapai target, dan memastikan riset serta pendidikan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Be the first to comment